Kretek!
Disusul sebuah dentuman keras, seorang pria kurus terpental keluar dari arena pertandingan sambil memuntahkan darah sepanjang jalan.
Lawannya adalah sosok yang tinggi dan kekar, kejam serta tak kenal ampun—Kui Lang yang baru saja kembali.
“Pertandingan ke-8 di arena ke-3 dimenangkan oleh Kui Lang!” Sang juri menunjuk ke arahnya.
Para penonton langsung gempar.
“Kau lihat itu? Hanya dalam satu serangan, Senior Lin Feng langsung kalah, padahal kultivasi mereka sama-sama berada di tingkat ke-4 Radiant Stage. Bahkan puluhan tahun di Kantor Kerja Paksa pun tidak mampu melunturkan taring Kui Lang.”
“Itu sudah wajar. Lagipula, siapa yang bisa menandingi Black Yama di masa lalu? Dengan kemunculannya, satu tempat elit kemungkinan besar akan direbut.”
“Peluangnya sangat besar. Tapi, Senior Lin Feng telah bekerja sangat keras beberapa tahun terakhir ini dan hasilnya nihil. Tak ada yang menyangka iblis tua itu akan bangkit kembali.”
Mereka menghela napas saat melihat Lin Feng yang tidak sadarkan diri diseret pergi. Yang lain meratapi nasib buruknya.
Tepat saat ia sedang melaju mulus di babak-babak penyisihan, musuh bebuyutannya ini langsung menghempasnya kembali ke bumi.
Namun, helaan napas itu tak bertahan lama karena mereka langsung dikejutkan oleh jeritan dari arena lain. Yue Ling menatap sosok berlumuran darah dengan mata yang dingin dan kejam.
Seolah sosok itu bukanlah manusia, melainkan sekadar benda mati.
“Pertandingan ke-7 di arena ke-4 dimenangkan oleh Yue Ling!” Sang juri meneriakkan hasilnya.
Semua orang menggelengkan kepala.
Para senior mereka benar-benar sedang sial dalam kompetisi kali ini. Di saat jatah tempat elit sudah sangat langka, dua monster justru kembali dan memangkas peluang mereka untuk menang.
Adapun tiga orang lainnya…
Tiga teriakan terdengar secara beruntun.
“Pertandingan ke-6 di arena ke-9 dimenangkan oleh Liu Xu!”
“Pertandingan ke-7 di arena ke-8 dimenangkan oleh Hu Mei’er!”
“Pertandingan ke-13 di arena ke-1 dimenangkan oleh Gui Hu!”
Para penonton bergidik, lalu mengangkat bahu. Seharusnya mereka sudah tahu bahwa yang akan merebut tempat elit itu pastilah kelima orang tersebut.
Sisanya hanyalah figuran yang sengaja dijadikan batu loncatan agar kelima monster itu terlihat semakin hebat.
Semua orang mengalihkan pandangan ke panggung pertama dan melihat tiga belas mayat dingin yang tergeletak di sana akibat ulah keji sang kakak tingkat utama, Gui Hu.
Ia bergerak terlalu cepat dan terlalu brutal, membunuh mereka dalam sekejap mata setiap kali bertanding. Begitu satu mayat menghantam tanah setelah dilempar keluar arena, mayat berikutnya sudah jatuh menyusul, persis seperti mesin pembunuh.
“K-Kakak Utama, a-aku menyerah!” Seorang pria kurus di tingkat ke-4 Radiant Stage gemetar ketakutan melihat tatapan buas Gui Hu. Ia bahkan sudah menyerah sebelum sempat naik ke atas panggung.
Sang juri menatapnya dengan dingin, “Pertandingan ke-14…”
Kretek!
Suara itu bergema di telinga semua orang, membuat mata pria kurus itu mendelik lebar sebelum akhirnya ambruk ke tanah sementara darah mengalir dari keningnya.
Gui Hu menghabisinya hanya dengan satu serangan telapak tangan.
Sss~
Semua orang menarik napas tajam, hati mereka bergetar ngeri.
[Untuk apa membunuhnya kalau dia sudah menyerah? Kita memang kultivator jalur iblis, itu benar; kita kejam, itu juga benar; tapi setidaknya kita juga sesama murid perguruan.] Satu-satunya kematian yang terjadi dalam kompetisi ini hanyalah ulah Gui Hu yang memang sedang haus darah.
Sang juri tampak kesal.
Pria itu tidak membunuh di atas panggung melainkan di luar batas arena dan setelah lawannya menyatakan mundur. [Aku bahkan belum sempat mendeklarasikan hasilnya dan kau sudah membunuhnya tepat di hadapanku?]
Gui Hu mengarahkan tatapan dinginnya kepada sang juri, “Dia seharusnya tidak perlu ikut mendaftar.”
[Blangko! Bagaimana bisa pria malang itu tahu kalau sesosok monster kejam sepertimu akan menunggunya di arena?]
Sang juri menarik napas dalam-dalam untuk meredam kemarahan yang hampir meledak, “Pertandingan ke-14 di arena ke-1 dimenangkan oleh Gui Hu. Selanjutnya…”
“Kami menyerah…” Teriakan-teriakan terdengar dari bawah saat para peserta lari terbirit-birit karena ketakutan.
Sang juri merasa iba pada mereka. Tak ada seorang pun yang ingin mati sia-sia. Dengan terpaksa ia mengumumkan, “Pemenang akhir dari arena ke-1, Gui Hu!”
Aum!
Para penonton bersorak, meskipun Gui Hu tetap memasang tatapan kosong tak bernyawa di matanya saat ia melangkah turun dari arena.
Para pesaing di arena lain melirik ke arahnya dan langsung bergidik ngeri.
Setelah satu jam berlalu, setiap arena akhirnya memiliki pemenang. Liu Xu, Hu Mei’er, Yue Ling, dan Kui Lang adalah nama-nama yang sudah jelas diprediksi sejak awal.
Sementara para peserta lainnya harus berjuang setengah mati hanya untuk meraih kemenangan.
Fikiran dan fisik mereka sudah terkuras habis, sangat sadar bahwa mereka pasti akan kalah dalam pertarungan-pertarungan berikutnya.
“Hanya lima orang yang bisa menjadi murid elit. Majulah, undi lawan kalian, tapi ingat, hanya lima orang terkuat yang boleh melaju ke babak berikutnya!” Seorang sesepuh membentangkan sebuah kotak undian.
Kelima unggulan dalam kompetisi itu tampak acuh tak acuh, sementara yang lainnya memasang ekspresi pahit.
Mereka tahu diri bahwa mereka sama sekali bukan tandingan kelima orang itu.
Namun, mereka tetap harus melangkah maju dengan sisa-sisa keberanian.
Seorang pria tampan menghela napas berat saat berjalan mendekati kotak tersebut dan menyerahkan undiannya kepada sang tetua, “Tetua, aku di arena ke-5!”
Tetua itu mengangguk. Tak lama kemudian, sebuah tangan kasar merangsek masuk ke dalam kotak, lalu segera menyunggingkan senyuman menyeramkan.
“He-he-he, kebetulan sekali, aku juga di arena ke-5!” Gui Hu menancapkan tatapannya yang haus darah ke arah pria pertama tadi.
Gemetar ketakutan, pria itu melambaikan tangan, “K-Kakak Utama, a-aku membu—”
Kretek!
Pria itu langsung tumbang hanya dari satu tamparan Gui Hu.
Hati semua orang langsung merosot ke dasar, kelopak mata mereka berkedut kencang, [Gui Hu benar-benar sesosok monster yang kejam.]
Sang tetua mengerutkan kening, “Pertandingannya bahkan belum dimulai!”
“Apa gunanya berbasa-basi? Hasil akhirnya tetap akan sama saja, ha-ha-ha…” Gui Hu tertawa terbahak-bahak.
Sang tetua hanya bisa menghela napas.
Di sekte iblis, yang kuatlah yang dihormati, dan Gui Hu adalah murid terkuat di antara mereka semua. Ia tidak bisa berkata apa-apa ketika pemuda itu memiliki kekuatan untuk mendukung sikap arogan tersebut. Lagi pula, sebagai murid dari Grand Elder, pemuda itu memiliki segala alasan untuk bertindak semaunya.
“Kalian yang lain, lanjutkan!” Tetua itu mengoper kotak undian kepada peserta berikutnya.
Empat orang lainnya mengambil undian mereka, sementara para peserta figuran masih bergidik ngeri akibat aksi brutal Gui Hu sebelum akhirnya giliran mereka merogoh isi kotak.
[Ya Tuhan, kompetisi internal ini sungguh sebuah hukuman mati! Kurang ajar, aku pikir hanya Lingkaran Asura milik Kantor Kerja Paksa saja yang paling mematikan!]
Dengan wajah penuh penderitaan, mereka mengaduk-ngaduk isi kotak, ragu-ragu untuk waktu yang lama sebelum akhirnya menarik selembar kertas.
“Arena ke-4, melawan Hu Mei’er!”
Seorang murid berwajah pucat dengan bahu merosot menyerahkan secarik kertas kepada sang tetua yang kemudian membacakannya.
Namun sedetik kemudian, mata pria itu langsung berbinar begitu melihat lekuk tubuh Hu Mei’er yang menggoda.
Hatinya berbunga-bunga, jiwanya serasa hendak melayang karena terlalu bahagia.
[Oh, ternyata lawanku Senior Kakak Mei’er. Aku tidak sedang bermimpi, kan? Semua orang bilang kulitnya sangat mulus, bahkan mati pun rasanya sepadan jika di tangan bunga cantik ini. Karena aku toh akan kalah, setidaknya biarlah Senior Mei’er yang memberikan pukulan telak itu.]
Ia menatap terpesona pada Hu Mei’er yang membalasnya dengan tatapan manja, “Junior, tubuhku ini sangat lemah, mohon tunjukkan belas kasihannya ya.”
“Tentu saja…” Pria itu mengangguk-angguk penuh semangat, meneteskan air liur sementara jantungnya berdetak semakin kencang.
Semua orang merasa iri, [Sial sekali keberuntungan bajingan ini bisa bertemu dengannya. Sisakan sedikit untuk kami, bukankah kita semua ini teman seperguruan?]
Sementara itu, ekspresi Kui Lang tampak begitu berat dan serius.
Hanya para sesepuh yang mencibir dalam hati, “Sekumpulan orang bodoh, kalian tidak akan pernah bisa mencapai puncak dengan pengendalian diri yang separah itu.”
Chapter 550 · 5m baca
Brutality
by Night Owl
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter