"Padatkan!"
Retakan spasial menyambar ke arah Bocah Pedang bagaikan seekor ular vipers, kegelapan di dalamnya menjanjikan untuk menelannya mentah-mentah.
Bocah Pedang sama sekali tidak peduli, terlihat dari senyum miringnya, saat ia berteriak dan menjentikkan jarinya.
Angin dingin berembus dan sayatan yang mendekat perlahan-lahan kehilangan kecepatan hingga membeku di tempat, dengan jejak es yang bahkan terlihat di permukaannya.
Gu Santong terkesiap, "Ilmu Pedang Penyegel Surga?"
"Ha-ha-ha, benar, aku adalah pedang milik Tuan. Ilmu pedang apa pun yang beliau kuasai, aku juga menguasainya. Itulah sebabnya, Tuan Muda San, silakan serang aku dengan seluruh kemampuanmu."
Bocah Pedang tersenyum, akhirnya bergerak menyerbu Gu Santong. Ia melambaikan jarinya dan nyala api meledak menjadi lautan api. Celah hitam di angkasa bergabung dengan kobaran api itu dan perlahan-lahan menutup. Dengan jalur yang terbuka di antara keduanya, Bocah Pedang dengan mudah meluncur ke hadapan Gu Santong untuk menusuknya menggunakan jari yang berderak tajam.
Wajah Gu Santong berkedut dan ia mundur ke belakang sembari menggunakan tinjunya untuk bertahan, "Ilmu Pedang Pemusnah dan Ilmu Pedang Pembelah, bagaimana bisa kau menguasai kelima ilmu pedang ayahku dengan sempurna? Tidak ada anak yang bisa melakukan hal sehebat itu. Sebenarnya siapa kau?"
"Sudah kubilang, aku adalah pedang Tuan."
Bam!
Gu Santong akhirnya mengerahkan seluruh kekuatannya, tinjunya melepaskan gelombang merah menyala yang menghantam gelombang pedang guntur ungu. Benturan hebat tersebut menghancurkan empat puluh gunung di sekitar area itu menjadi debu. Gu Santong bergetar hebat, terpaksa mundur akibat sisa kekuatan benturan tersebut.
Bocah Pedang tertawa saat gelombang kejut itu tiba, lalu menunjuk ke arah Gu Santong, "Tubuhku adalah pedang dewa, bukan dari daging dan darah. Aku tidak takut organ dalamku terguncang, karena aku tidak memilikinya. Di situlah letak perbedaan antara makhluk suci dan diriku. Pedang Melambung, Naga Membumbung!"
Diiringi oleh raungan naga, Bocah Pedang memanfaatkan keunggulannya, melancarkan gelombang pedang lainnya dengan jarinya. Kali ini, Gu Santong nyaris tidak sempat menstabilkan diri untuk bersiap menghadapi hantaman tersebut.
Pada akhirnya, yang bisa ia lakukan hanyalah melayangkan tinju balasan.
Bam!
Tinju terburu-buru Gu Santong kekurangan kekuatan penuhnya dan sekali lagi terdorong mundur.
Bocah Pedang tersenyum, berdiri tanpa bergerak, "Sebagian besar kultivator akan mencoba menenangkan guncangan di dalam diri mereka sebelum kerusakan itu semakin parah, alih-alih melepaskan serangan secepat itu. Aku tidak memiliki masalah semacam itu. Aku bisa memburumu dan menghabisimu hanya dalam sepuluh jurus, sementara kau bahkan tidak bisa bertahan sama sekali. Hasilnya sudah jelas dan tidak ada gunanya lagi untuk bertarung, ha-ha-ha..."
"Sungguh pedang yang mematikan!"
Para penonton terkesiap kaget, "Pelayan Zhuo, pedang dewa berwujud manusia ini sangat berbahaya dan tidak memiliki kelemahan. Tubuhnya bahkan lebih kuat daripada makhluk suci, sungguh belum pernah terdengar sebelumnya!"
Zhuo Fan mengangguk, "Ya, bahkan aku tidak menyangka Sanzi kecil akan kalah secepat itu. Itulah sebabnya Bocah Pedang sangat berterima kasih karena aku telah menyempurnakan tubuh seperti itu untuknya. Sebagai pedang dewa, wujudnya benar-benar seperti dewa. Aku bertanya-tanya apakah ada sesuatu di luar sana yang bisa menahannya."
Zhuo Fan merenung.
[Ia memiliki semua yang kumiliki, kecuali mata itu...]
Semua orang memasang raut wajah serius.
[Bocah Pedang ini benar-benar mengerikan. Tapi bagaimana jika ia berbalik menyerang kita?]
Ia menyebut dirinya sebagai pedang Zhuo Fan, tetapi pada akhirnya ia tetaplah sebuah senjata, senjata yang tidak memiliki kehendak lain selain mengikuti niat tuannya.
[Namun, dengan keadaannya yang seperti sekarang ini...]
"Pelayan Zhuo, ia memiliki sifat angkuh yang persis sepertimu," ucap Leng Wuchang menandaskan, "Meskipun ia terlihat cukup muda, dan anak muda biasanya memiliki ego yang terlalu tinggi..."
Zhuo Fan mengangguk, "Ya, ia memang mirip sepertiku. Hanya saja di masa mudaku aku lebih menahan diri, lebih kejam daripada gegabah. Ia tidak memiliki batasan, dan meskipun ia adalah diriku yang kedua, kami kemungkinan besar akan menempuh jalan yang berbeda, dan ia membutuhkan seseorang untuk mengawasinya."
"Luar biasa, Pelayan Zhuo!" Leng Wuchang mengangguk. Mata Zhuo Fan berubah dingin saat ia mengamati pertarungan tersebut.
Gu Santong bagaikan tong mesiu yang siap meledak karena terus-menerus didesak. Ia lantas meraung dan, dalam kilatan cahaya merah, bayangan Qilin setinggi tiga ratus meter muncul di udara. Auman makhluk itu mengguncang dunia.
Para Raja Roh merasakan jantung mereka berdegup kencang karena terkejut.
"Tuan Muda San ingin mengerahkan seluruh kekuatannya, membuat segalanya bergetar hebat. Apakah Bocah Pedang mampu menghadapinya? Aku bertaruh guci anggur ini untuk Tuan Muda San!"
Dewa Pedang Anggur turut terkejut dan kembali mengubah taruhannya, diikuti oleh banyak orang lainnya.
Hanya Liu Mubai dan beberapa orang lainnya yang tampak santai, "Dewa Pedang Anggur, kau akan menyesal. Lihatlah ekspresi Bocah Pedang itu."
Dewa Pedang Anggur menoleh dan baru menyadari bahwa meskipun Gu Santong mengamuk dan meraung-raung, Bocah Pedang tidak menunjukkan apa pun selain tatapan meremehkan di matanya.
"Tuan Muda San, karena kau tidak bisa menghargai uluran tangan saat kau membutuhkannya, kau tidak memberiku pilihan lain."
Mata Bocah Pedang bersinar terang sambil mengangkat satu jarinya. Kekuatan hitam berkumpul, "Kau sudah mengerahkan seluruh kemampuanmu, jadi kau juga harus melihat kekuatan dari ilmu pedang keenam milikku, Pedang Apokaliptik!"
Mata Gu Santong yang penuh harga diri bergetar hebat, tidak mampu menerima ejekan terang-terangan tersebut. Ia meraung dan kekuatannya melonjak sebelum menghantamkan kedua tinjunya, "Bocah keparat, rasakan ini, Junjungan, kekuatan Qilin yang Membumbung!"
Raungan melengking menggema di telinga setiap orang saat bayangan Qilin itu membuka rahangnya. Makhluk itu kemudian melesat ke arah Bocah Pedang dengan amarah yang membara di matanya, siap membakar dunia jika itu memang diperlukan.
"Majulah!"
Bocah Pedang terkekeh, gelombang pedang hitam telah siap saat ia melancarkan serangannya.
Hu~
Cara serangan itu dilepaskan terasa begitu anti-klimaks karena begitu sederhananya, tanpa keributan apa pun, bagaikan embusan angin yang menelusuri udara.
Kendati demikian, gelombang pedang itu melenyapkan segala sesuatu yang ada di jalurnya, bahkan debu sekalipun, dari muka bumi.
Gelombang pedang itu tampak rapuh dari sudut pandang mana pun, namun ia berhasil menanamkan ketakutan di lubuk hati setiap orang yang menyaksikannya.
Bukan kehancuran total dan daya ledak dahsyat yang mengerikan, melainkan jurus sunyi namun mematikan yang dapat merenggut nyawa tanpa meninggalkan jejak.
Zhuo Fan tertegun selama dua detik sebelum ia sadar dan memahami jurang pemisah kekuatan di antara kedua petarung itu, "Bocah Pedang, hentikan sekarang juga!"
Terlambat sudah. Gelombang pedang hitam itu telah mencapai bayangan Qilin milik Sanzi kecil, namun tidak ada suara dentuman, bahkan tidak ada suara desisan sama sekali. Gelombang hitam itu menembus bayangan tersebut, membuatnya terhenti sejenak sebelum akhirnya melenyap, terhapus dari dunia ini.
Sanzi kecil memuntahkan darah akibat serangan balik, wajahnya tampak pucat pasi, namun gelombang hitam itu terus melesat membawa maut di belakangnya.
Sanzi kecil panik, semua orang panik.
[Ini adalah jurus kematian!]
"Bocah Pedang, apa kau tidak mendengarku? Sudah kubilang untuk berhenti!" Zhuo Fan berteriak penuh amarah.
Alis Bocah Pedang bergetar dan ia menyunggingkan senyum kejam ke arah wajah yang dilanda kepanikan itu, sama sekali tidak berniat untuk berhenti.
Hum~
Ruang di sekitarnya mulai melengkung, dengan Bocah Pedang sebagai pusatnya.
Ia menoleh ke arah Zhuo Fan dengan cemberut, hanya untuk melihat tatapan dingin sang tuan serta tujuh lingkaran cahaya keemasan di mata kanannya.
"Tuan, jangan..."
"Mata Dewa Hampa tingkat 7, Segel Hampa!" gumam Zhuo Fan.
Whoosh~
Ruang angkasa mengerut, dan tubuh Bocah Pedang bergetar saat matanya menjadi kosong lalu ia ambruk. Ia berubah kembali menjadi pedang hitam pekat, dengan kilau yang redup.
Senjata itu tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan lagi.
Gelombang pedang hitam yang meluncur ke arah Gu Santong pun memudar tepat pada waktunya, membuatnya bisa bernapas lega karena berhasil lolos dari maut.
[Serangan itu benar-benar mematikan, tidak kalah dari api petir apokaliptik milik Ayah...]
Chapter 1187 · 5m baca
Fatality
by Night Owl
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter