“Orang-orang tua itu sudah hidup selama ribuan tahun, dan pengalihan perhatian yang sederhana tidak akan mempan. Bahkan jika mereka termakan tipuan itu, kau tidak akan bisa mendapatkan Pedang Penyegel Surga dari balik penghalang. Taktik terbaik adalah menggunakan umpan supaya mereka sendiri yang mengeluarkannya.
“Tentang apa yang bisa mendorong mereka untuk mengabaikan tugas dan mengandalkan pedang itu? Mudah saja, saat sekte berada dalam bahaya besar. Orang-orang tua itu rela mati demi sekte, itu adalah segalanya bagi mereka, sekaligus satu-satunya pencapaian sekaligus kelemahan mereka. Kau hanya perlu memancing mereka dan semuanya akan berjalan sesuai rencana. Mengenai caranya, gunakan metode konfirmasi tiga orang.”
“Aku tahu musang-musang licik ini cerdik dan sulit ditipu, tapi ketika semakin banyak orang mengatakan hal yang sama, mau tidak mau mereka akan mempercayainya. Tidak peduli seberapa mencurigakannya, sifat dasar manusia itu sama. Kita bahkan tidak perlu mempercayainya sepenuhnya, cukup sekadar menganggap keributan besar itu sebagai bahaya yang serius. Demi berjaga-jaga, mereka kemudian akan mengeluarkan pedang itu. Mengingat tidak ada kebohongan yang sempurna, kau harus bertindak cepat. Di tengah situasi yang memanas, orang-orang tua itu akan terlalu bingung untuk memerhatikan segalanya. Ditambah lagi dengan rasa percaya diri berlebihan yang biasanya dimiliki para ahli, ha-ha-ha, begitu kau mengambil pedang itu, uruslah dirimu sendiri, Raja Pedang Hujan Beku…”
Sambil menatap Pedang Penyegel Surga yang terdiam di dalam genggamannya, dia memutar ulang kata-kata Zhuo Fan di dalam benaknya. Bibir Bali Yuyu bergetar, lalu ia mendelik ke arah keempat orang itu dengan penuh amarah, “Ada apa dengan kalian para tetua bangka? Apakah kalian separah itu sampai tertipu oleh trik bodohnya? Apa otak kalian sudah menjadi bubur?”
Ugh!
Keempat tetua itu saling berpandangan dengan ekspresi bodoh.
[Uh, apa yang dia bicarakan? Dia mengambil pedang dewa itu dan sekarang menyalahkan kami karena tertipu? Terdengar seolah-olah dia tidak ingin melakukannya tapi terpaksa. Logika macam apa itu?]
[Apakah ada orang di dunia ini yang terpaksa merampok diri mereka sendiri? Atau perempuan jalang ini sedang memperolok kita?]
[Sialan, ini sangat memalukan. Belum cukup kau mencuri pedang kami, sekarang kau juga harus menghina kecerdasan kami?]
“Gadis, siapa kau? Lancang sekali kau mencuri pedang dewa kami? Kembalikan sekarang atau kami akan mengampunimu!”
Keempat tetua itu meraung.
Bali Yuyu mengejek tawaran baik mereka, “Orang-orang tua bangka yang renta, simpan pidato murahan kalian untuk para murid Sekte Laut Cerah. Kalian sama sekali tidak punya peluang untuk menakuti orang seperti Bali Yuyu!”
“Raja Pedang Hujan Beku, Bali Yuyu?”
Keempat tetua itu terkesiap, “Sedang apa kau di sini? Bagaimana kau bisa menyusup ke sekte kami?”
Bali Yuyu menyeringai, “Seolah-olah menyusup ke sini itu sulit. Aku tinggal berjalan santai masuk ke dalam, humph. Sekarang aku bisa pergi dan tidak ada dari kalian yang bisa menghentikannya. Jaga diri kalian.”
Bali Yuyu hendak pergi namun Pedang Penyegel Surga di genggamannya memiliki rencana lain, bergetar hebat dan berusaha terbang lepas dari tangannya.
Itu adalah bentuk penolakan dari pedang dewa, yang menolak siapa pun yang tidak berlatih dalam jalur ilmunya.
Bali Yuyu adalah seorang Raja Pedang Sekaligus praktisi Seni Pedang Pembelah. Mengingat kelima pedang dewa agung memiliki aspek yang serupa, ia mengalirkan energi pedang petirnya ke dalam pedang itu untuk menenangkannya.
Memiliki manusia sebagai wujud pengguna juga merupakan aspek penting, karena pedang itu tidak menyimpan niat membunuh terhadap mereka. Jika yang memegangnya adalah sesepuh dari ras makhluk suci, pedang dewa tersebut akan mengamuk dan berusaha mencabik-cabik makhluk itu berkeping-keping.
Begitu pedang dewa itu mulai tenang, Bali Yuyu membentuk sebuah mudra dan menyimpannya ke dalam cincin penyimpanannya.
“Bali Yuyu, kembalikan atau kau akan mati di sini!”
Pedang Penyegel Surga kini berada di dalam kantong musuh, membuat Empat Tetua Puncak Salju berteriak ke arahnya lalu melancarkan serangan. Gelombang pedang yang membekukan melesat ke arah Bali Yuyu dari segala penjuru.
Ia menyunggingkan senyum meremehkan dan memancarkan auranya. Kedua tangannya bergerak cepat dan sambaran petir membelah udara, memantulkan gelombang pedang tersebut.
Bum~
Serangkaian ledakan dahsyat bergema saat Paviliun Penyegel Surga meledak, dengan langit di ufuk timur berubah menjadi semburat warna keperakan yang terang.
Ketika debu mereda dan segala kebisingan berhenti, Empat Tetua Puncak Salju tidak menemukan lagi jejak Raja Pedang Hujan Beku.
Ia telah pergi sebelum mereka menyadarinya.
Keempat tetua itu bahkan sepadan dengan Ouyang Lingtian, membuat mustahil baginya untuk mengalahkan mereka. Namun begitu pula sebaliknya.
Dengan kedua belah pihak yang memiliki kekuatan setara, merebut kembali pedang itu dari mereka adalah hal yang mustahil, persis seperti mustahilnya keempat tetua itu menghentikannya.
Jadi, sementara mereka melontarkan ancaman, mereka tahu betul bahwa begitu Bali Yuyu berhasil mendapatkan Pedang Penyegel Surga, mereka tidak punya peluang lagi untuk merebutnya kembali. Serangan yang mereka lakukan tadi semata-mata hanya karena menjalankan tugas.
Keempat orang itu menatap langit malam yang kosong dengan perasaan penuh penyesalan.
Di area lain, orang-orang telah mengepung tempat yang terbakar itu, dengan Ouyang Lingtian, Ling Yuntian, dan Dua Naga Agung berada di antara mereka. Para murid dan tetua Sekte Laut Cerah mengawasi dari samping, memastikan tidak ada yang luput dari pengamatan mereka, meskipun tidak menemukan apa pun.
“Pemimpin Sekte Ling, tempat apa ini?” Murong Lie mengerutkan kening, memandangi kobaran api yang membakar, “Mereka pasti sangat kuat hingga bisa menghancurkan tempat ini secepat itu, setara dengan tingkat pendekar terhebat di negeri ini. Tapi, apa yang begitu penting di sini hingga membuat mereka menyebabkan kehancuran separah ini?”
Yang lainnya menoleh ke arah Ling Yuntian.
Ling Yuntian menghela napas, “Ini adalah Rumah Alkimia milik Sekte Laut Cerah, tempat banyak pil dimurnikan. Apakah tujuan mereka untuk melumpuhkan pasokan pil kita?”
“Pasti itu tujuannya. Mata-mata dari wilayah tengah pasti telah menyusup masuk dan mulai membuat kekacauan.” Bu Xingyun mengangguk lalu menangkupkan kedua tangannya, “Pemimpin Sekte Ling, mohon gandakan kelompok pencari dan temukan mereka sesegera mungkin. Tampaknya ada lebih banyak dari mereka selain karavan Qian itu. Kita harus menahan Qian Fan untuk diinterogasi!”
Yang lain merenung sejenak dan setuju. Ling Yuntian terdiam, masih tenggelam dalam pikirannya.
Ouyang Lingtian tersenyum, “Pemimpin Sekte, sepertinya Anda tidak menganggap ini sebagai serangan mata-mata.”
“Sama seperti yang kau katakan, hanya ahli sejati yang bisa melakukan ini, seseorang selevel dirimu. Itu berarti pelakunya pastilah seorang Raja Pedang.”
Mata Ling Yuntian bersinar tajam, “Tapi tidakkah menurutmu menghancurkan Rumah Alkimia saja terlalu sepele bagi Sembilan Raja Pedang yang bersembunyi di antara kita? Jika berita tentang mereka yang keluar dan melakukan penjarahan ini tersebar, itu hanya akan membawa malu bagi mereka.”
Yang lain mengangguk, “Benar, untuk apa ahli seperti Sembilan Raja Pedang menurunkan martabat mereka untuk hal semacam ini?”
“Mungkin pelakunya bukanlah Raja Pedang, melainkan ahli yang lain…” Murong Xue memikirkan sesuatu.
Semua mata beralih menatapnya.
[Seseorang selain Sembilan Raja Pedang? Para ahli dari wilayah lain?]
Selain para pengkhianat dari wilayah barat dan wilayah timur, itu hanya menyisakan Murong Lie dari wilayah selatan dan Ouyang Lingtian dari wilayah utara yang mampu melakukan hal ini.
[Apakah kau sedang mencurigai saudara kandungmu sendiri? Atau maksudmu Ouyang Lingtian tega melakukan ini pada rumahnya sendiri?]
Murong Lie adalah satu-satunya yang mengerti, setelah sempat bertarung melawan Bali Yuyu namun tidak tahu siapa wanita itu, “Xue’er, maksudmu wanita itu…”
Murong Xue mengangguk, tetapi matanya memancarkan haus darah yang dingin.
Gemuruh~
Suara sambaran petir bergema dari Paviliun Penyegel Surga, menggetarkan cakrawala.
“Pedang Penyegel Surga!”
Ouyang Lingtian berseru dan bergegas melesat ke arah sana. Yang lainnya segera menyusul setelah menyadarinya. Murong Xue meraih saudaranya dan berkata, “Kakak, pergilah duluan, ada sesuatu yang harus kulakukan.”
“Apa?”
Murong Lie merasa bingung, “Apa yang bisa lebih penting daripada serangan terhadap Sekte Laut Cerah?”
“Kakak tidak perlu khawatir. Aku hanya ingin memeriksa sesuatu dan akan segera kembali.”
“Berhati-hatilah. Ada ahli kuat yang bersembunyi di dalam Sekte Laut Cerah dan tempat ini sudah tidak lagi aman.” Murong Lie melihat tekad adiknya yang tidak tergoyahkan lalu mengalah, dan pergi seorang diri.
Murong Xue mengatupkan giginya erat-erat dan bergumam, “Sialan kau, bajingan. Karavan pedagang itu kehilangan seorang gadis. Pasti itu ulahnya. Pria itu bahkan tidak bisa duduk tenang di dalam tahanan, menyebabkan bencana sebesar ini tanpa secuil pun rasa penyesalan. Kali ini dia harus mati. Sebelum Sekte Laut Cerah menderita lebih banyak kehancuran dan dia membunuh lebih banyak orang tak berdosa…”
Bum!
Ledakan keras ketiga terdengar malam itu. Langit mulai meretak dan terbelah, membiarkan bintang-bintang bersinar lebih terang menyinari bumi, tanpa ada halangan apa pun.
Orang-orang yang menuju ke Paviliun Penyegel Surga tersentak dan menghentikan langkah mereka untuk menatap dengan terkejut.
Penghalang terkuat di daratan itu kini telah hancur….
Chapter 1034 · 5m baca
He Must Die
by Night Owl
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter