Sosok Wang Lin melesat menembus angkasa bagaikan sebuah ilusi. Ia tidak langsung menuju ke Planet Tian Yun, melainkan mencari Lei Ji, si bocah berkepala besar, dan Ta Shan menggunakan ikatan yang ia miliki dengan mereka.
Selama pertempuran yang kacau itu, Wang Lin tidak punya waktu untuk memikirkan mereka. Setelah itu, ia telah memasuki kehampaan dan menghilang.
Setelah ia keluar dari kehampaan, baru sekarang ia memiliki waktu untuk mencari mereka.
Wang Lin bahkan kehilangan jejak Ta Shan selama pertempuran. Namun, berkat ikatan segel yang ada pada Ta Shan, tidaklah sulit untuk melacak keberadaannya.
Wang Lin ingat bahwa dalam pertempuran tersebut, mereka bertiga tidak terkena dampak. Pada saat ini, ia memejamkan mata dan indra ilahinya menyebar. Setelah beberapa lama, ia merasakan fluktuasi yang familiar di sebelah timur.
Ekspresi Wang Lin tetap tenang saat ia membuka matanya dan melangkah maju. Riak-riak muncul di bawah kakinya dan ia pun menghilang.
“ Mantra selestial Mountain Crumble sangat kuat. Meskipun aku menduga tiga mantra terakhir Kaisar Selestial Bai Fan lebih kuat daripada tiga mantra pertama, Mountain Crumble ini berada di luar imajinasiku... Mountain Crumble, Mountain Crumble, pemahaman seperti apa gerangan yang dimiliki Kaisar Selestial Bai Fan hingga mampu menciptakan mantra sekuat ini... Aku bahkan tidak tahu kapan aku akan bisa menciptakan mantramu sendiri...”
Ada sebuah batu yang mengapung perlahan di sebelah jauh timur Wang Lin. Batu ini jelas berasal dari planet kultivasi yang runtuh. Saat ia melayang, serpihan-serpihan kecil terkelupas darinya.
Terdapat fluktuasi mantra yang samar di sekitarnya yang menghilang bagaikan asap. Batu ini terlihat sangat biasa. Ada terlalu banyak batu seperti ini di antara bintang-bintang, sehingga tidak ada seorang pun yang akan memperhatikannya.
Ta Shan telah menyembunyikan dirinya di dalam batu tersebut. Setelah kehilangan kontak dengan Wang Lin, pikirannya menjadi kosong. Namun, mantra Kaisar Selestial Qing Lin telah meleburkan jiwa asal ke dalam tubuh dan mempertahankan sedikit kecerdasan. Itu sangat berbeda dari boneka yang tidak bisa berpikir.
Setelah Ta Shan mendapati bahwa Wang Lin sudah tidak ada di sana, secara bawah sadar ia menemukan batunya sendiri. Ia memasukinya dan berkultivasi dengan tenang di dalamnya.
Pada hari ini, Ta Shan tiba-tiba membuka matanya. Matanya benar-benar tenang, tanpa ada perubahan sedikit pun. Tubuhnya bergerak ke luar batu dan berdiri di atasnya.
Sejumlah besar riak muncul di hadapannya dan Wang Lin melangkah keluar.
Ekspresi Ta Shan tidak berubah saat melihat Wang Lin, ia hanya menampilkan ekspresi hormat.
Wang Lin tersenyum seraya melambaikan tangan ke arah Ta Shan. Ta Shan mengambil satu langkah, berubah menjadi bayangan, dan menghilang di belakang Wang Lin.
“Selanjutnya adalah Si Kepala Besar dan Lei Ji.” Wang Lin memejamkan mata untuk merasakan jejak pada Si Kepala Besar. Setelah beberapa lama, ia mengerutkan kening.
“Jejak Si Kepala Besar sangat lemah, seolah-olah bisa lenyap kapan saja.” Ia melangkah maju, riak-riak pun muncul dan ia menghilang.
Terdapat sesosok tubuh besar yang bergerak menembus bintang-bintang, meninggalkan jejak darah di belakangnya. Tubuhnya dipenuhi luka, dan setiap langkah yang ia ambil meninggalkan genangan darah yang cukup banyak.
Hampir setiap langkah menyebabkan darah keluar dari tubuh raksasa ini. Yang lebih mengerikan lagi adalah adanya lubang-lubang dalam di antara tulang pertama hingga ketujuh pada tulang belakangnya. Setiap lubang memancarkan cahaya hijau yang menyeramkan. Selain itu, ada lubang hijau serupa di sekujur persendian tubuhnya, setidaknya berjumlah belasan!
Ada seorang kultivator berwajah pucat di bahunya. Penampilan kultivator ini tampak aneh; ia memiliki kepala yang sangat besar. Namun, kultivator ini sangat lemah.
Terdapat bekas telapak tangan hitam yang mengeluarkan bau busuk di punggung kultivator berkepala besar itu. Ada pula asap hitam yang keluar dari punggungnya disertai suara mendesis.
Selain itu, bagian belakang tubuh si bocah berkepala besar telah cekung dan membusuk dengan kecepatan tinggi. Jika bukan karena fakta bahwa ia menahannya dengan kekuatannya sendiri, ia pasti sudah pingsan karena rasa sakit.
“Lei Ji, tinggalkan aku dan pergi sendiri.” Darah hitam keluar dari sudut mulut si bocah berkepala besar dan matanya telah kehilangan seluruh sinarnya.
Sosok raksasa itu mulai bergerak lebih cepat setelah merenung sejenak. Setelah beberapa lama, ia berkata, “Kepala Besar, kau terluka demi menyelamatkanku. Aku, Lei Ji, adalah anggota Klan Raksasa Iblis, bagaimana bisa aku meninggalkanmu begitu saja? Bahkan jika aku meninggalkanmu, mereka tidak akan menyerah mengejar kita! Tujuan mereka adalah aku! Jangan bicara lagi dan fokuslah menyembuhkan luka!”
Kultivator berkepala besar itu tersenyum pahit saat menatap bintang-bintang di hadapannya, dan matanya menjadi semakin suram. Ia seolah melihat ibunya dari bertahun-tahun yang lalu. Ibunya sepertinya tidak sedang memarahinya, wanita itu menatapnya dengan tatapan lembut dan memanggil namanya.
“Ibu...” gumam si bocah berkepala besar, lalu aura kematian menyelimuti tubuhnya. Dalam keadaan setengah sadar, ia sepertinya melihat keluarganya dan semua orang yang telah ia bunuh.
Orang-orang ini muncul di hadapannya satu per satu dan menatapnya dengan dingin.
Tubuh si bocah berkepala besar bergetar dan ia merasa sangat dingin. Rasa dingin itu bukan hanya di tubuhnya, melainkan juga kehampaan di dalam hatinya. Kenangan masa kecilnya terus bermunculan kembali.
“Apakah aku akan pergi... Setelah ribuan tahun berkultivasi, pada akhirnya, aku tetap harus pergi...” Bau busuk dari bekas telapak tangan hitam di punggung si bocah berkepala besar menjadi semakin pekat dan hampir seluruh punggungnya berubah menjadi hitam.
Matanya perlahan terpejam seolah-olah ia diselimuti oleh hawa dingin, dan kesadarannya perlahan-lahan menghilang.
“Kepala Besar, bertahanlah! Aku yakin Tuan akan datang dan menemukan kita!” Tepat saat si bocah berkepala besar hendak memejamkan mata, bentakan Lei Ji memasuki telinganya.
Tubuh si bocah berkepala besar bergetar dan ia nyaris tidak bisa membuka matanya. Ia tersenyum masam dan berbisik, “Begitukah...”
Terdapat dua sosok bertubuh raksasa setinggi 10.000 kaki yang sedang mengejar Lei Ji. Mereka bagaikan dua raksasa yang melangkah lebar saat memburu mangsa.
Di antara alis mereka masing-masing terdapat tanda kapak yang berkilat. Tatapan mereka dingin dan memancarkan niat membunuh.
Ada seorang pemuda berjubah biru yang duduk di atas kepala salah satu raksasa itu. Ia sangat tampan, namun ada secercah rona jahat di wajahnya.
Ia tidak duduk bersila, melainkan bersandar santai sambil memegang seikat ceri merah di tangannya. Kadang-kadang ia memakan sebuah ceri sambil mengawasi Lei Ji dengan tatapan menggoda sekaligus penuh ambisi untuk memenangkannya.
“Belum pernah ada makhluk berdarah daging di Aliansi ini yang mampu lolos dari telapak tangan Tuan Muda ini. Aku tidak menyangka akan menemukan tubuh anggota Klan Raksasa Iblis keturunan bangsawan saat baru saja keluar untuk bersenang-senang. Lumayan, lumayan!
“Orang tua di rumah bilang Aliansi sedang kacau karena perang, jadi aku tidak boleh sembarangan keluar. Jika aku tidak keluar, bagaimana mungkin aku bisa menemui tubuh sebaik ini?” Pemuda itu memakan sebuah ceri sambil tersenyum dan langsung meludahkan bijinya. Biji itu melesat dalam kilatan cahaya ke arah Lei Ji.
Biji itu meluncur begitu cepat hingga menyusul Lei Ji dalam sekejap. Biji itu meledak menjadi sesosok tengkorak hijau yang menyerang ruas kedelapan pada tulang belakang Lei Ji.
Namun, tepat saat tengkorak hijau itu hendak menghantam, sebuah tangan muncul dari kehampaan dan mencengkeram tengkorak tersebut. Tanpa ampun, tangan itu meremas dan menghancurkan tengkorak itu berkeping-keping!
Sebuah riak muncul di belakang Lei Ji dan sebuah suara dingin terdengar.
“Kalian benar-benar bernyali besar, beraninya melukai tunggangan dan pelayanku!”
“Tuan!” Lei Ji bergetar dan seketika berbalik badan.
“Tuan!” Si bocah berkepala besar tiba-tiba membuka matanya dan memperlihatkan kegembiraan yang tak terlukiskan.
Chapter 954 · 5m baca
Young Master
by Er Gen
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter