Kedua sesepuh Sekte Pedang Da Lou saling memandang, lalu sesepuh yang lebih pendek tiba-tiba mengulurkan tangannya. Pria berpakaian putih di sebelah Qian Qin menjerit dan tubuhnya terlempar ke dalam lembah oleh kekuatan tak kasat mata.
Tepat saat dia dilemparkan ke dalam lembah, suara tajam yang bisa merobek langit bergema di dalam lembah. Dalam sekejap mata, sejumlah besar titik merah keluar dari daun-daun busuk yang menutupi lembah dan mulai berkumpul. Dari kejauhan, pemandangan ini tampak sangat mengerikan.
"Kakak Seperguruan!" Qian Qin tiba-tiba berbalik. Dia menatap orang-orang dari Sekte Pedang Da Lou dan menjerit, "Apa maksud semua ini, Senior!?"
Tepat setelah Qian Qin selesai berbicara, titik-titik merah yang tak terhitung jumlahnya itu mulai bergerak. Titik-titik merah tersebut berkumpul membentuk awan merah raksasa, lalu mengeluarkan suara berdengung nyaring dan bergerak menuju pemuda berpakaian putih itu.
Kecepatannya benar-benar luar biasa. Ia bergerak bagaikan kilat merah dan mengepung pemuda berpakaian putih tersebut. Pada saat ini, sebuah pemandangan yang membuat semua orang—kecuali kedua sesepuh—terkejut hingga terdiam, terbentang di hadapan mereka.
Titik-titik merah yang tak terhitung jumlahnya itu merobek pakaian pemuda berpakaian putih tersebut dan merangsek masuk ke dalam tubuhnya. Hanya dalam waktu tiga tarikan napas, jubah putihnya telah berubah menjadi merah darah.
Semburan jeritan dan pekikan ngeri keluar dari mulutnya. Rasa sakit yang luar biasa membuatnya terus mencakar-cakar tubuhnya sendiri, dan luka-luka yang menganga hingga ke tulang muncul di seluruh tubuhnya.
Tubuhnya meronta dan berguling-guling dengan liar di lembah. Matanya memancarkan rasa putus asa yang mendalam serta kebencian yang tak terbayangkan.
"Kakak seperguruan..." Qian Qin bergetar hebat dan menampilkan senyuman mengenaskan.
Pada saat ini, hampir seluruh titik merah di lembah itu muncul dan memasuki tubuh pemuda tersebut. Matanya perlahan meredup dan jeritannya yang menyedihkan perlahan melemah.
Kejadian ini berlangsung sangat cepat, namun sangat mengejutkan; hal itu membuat ekspresi setiap orang menjadi sangat buruk.
"Urusan hari ini disebabkan olehku. Jika kakak seperguruan Qian Qin tidak mati, maka semuanya akan baik-baik saja dan tidak akan ada dendam di antara kita..." Yin Shaoqing menatap ke arah Qian Qin dengan niat membunuh.
Adapun wanita satunya, yang memanggil Guo Xingyin sebagai "kakak seperguruan", wajahnya pucat pasi, tangan kecilnya membungkam mulutnya, dan dia tampak seperti hendak muntah. Tubuhnya gemetar ketakutan, jelas sangat ngeri dengan apa baru saja terjadi.
Hanya pria berpakaian biru yang tadi terus memuji Guo Xingyin yang tidak menunjukkan tanda-tanda ketidaknyamanan di wajahnya. Sebaliknya, saat ia melihat ke arah lembah, ia memasang ekspresi terpesona.
Shi Fang dari Sekte Pedang Da Lou tersenyum kepada sesepuh yang lebih pendek dan berkata, "Sepertinya kita berdua tidak perlu repot-repot membunuh lagi. Orang itu sudah memancing sebagian besar Kumbang Sembilan Penjuru masuk ke dalam tubuhnya."
Sesepuh pendek itu tersenyum dan berkata, "Saudara Shi lebih mahir dalam hal susunan mantra pembatas; aku harap kamu tidak menahan kemampuanmu. Begitu kita mendapatkan Buah Keemasan Cemerlang, kita masih harus melapor kembali ke sekte."
Shi Fang tertawa. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia menepuk kantungnya dan sebuah giok merah muncul di tangan kanannya. Tangan kanannya membentuk wujud pedang saat dia menunjuk ke arah giok itu dan berkata, "Susunan Pembatas Segel Pedang, buka!"
Seketika itu pula, giok tersebut langsung berdengung nyaring dan terbang ke dalam lembah berupa seberkas cahaya merah.
Saat giok merah itu terbang ke dalam lembah, suara berdengung itu menjadi semakin nyaring, dan untaian sutra merah keluar dari batu giok tersebut. Kemudian, setelah jeda sejenak, terdengar suara gemuruh, dan giok merah itu mulai bergerak dengan pola yang misterius. Dalam sekejap mata, kecepatan gerakannya meningkat hingga tampak melebur menjadi untaian yang tak terhitung jumlahnya. Untaian merah yang tak terhitung jumlahnya ini melesat ke arah pemuda yang hampir tidak bisa meronta itu.
Sutra merah itu bergerak sangat cepat dan tiba di hadapan pemuda tersebut dalam sekejap mata. Sutra merah itu tidak masuk ke dalam tubuh pemuda itu, melainkan saling menjalin membentuk jaring yang mengurung sang pemuda serta tanah di sekitarnya sejauh beberapa kaki.
Pada saat ini, mata sesepuh Sekte Pedang Da Lou, Shi Fang, berbinar dan dia berteriak, "Segel!"
Begitu kata "segel" diucapkan, jaring merah itu mulai memancarkan cahaya merah. Terdengar serangkaian suara letupan saat sinar cahaya merah yang tak terhitung jumlahnya muncul di seluruh permukaan jaring merah tersebut, membentuk segel yang sangat kuat.
Setelah menyelesaikan semua ini, sesepuh tua yang pendek itu segera berjalan masuk ke lembah. Tepat saat dia melangkah masuk, suara berkerincing muncul dari daun-daun dan titik-titik merah bermunculan darinya; namun, kali ini tidak terlalu banyak jumlahnya.
Ekspresi sesepuh pendek itu tetap tenang saat dia mengangkat tangan kanannya dan menjentikkan jarinya. Setiap kali dia menjentikkan jarinya, dia melepaskan seberkas energi pedang dan sejumlah besar titik merah hancur berkeping-keping.
Sebenarnya, jika ada lebih banyak Kumbang Sembilan Penjuru, akan sangat sulit baginya untuk mengatasinya, tetapi sekarang setelah tidak banyak yang tersisa, tampaknya sangat mudah baginya untuk membereskannya.
Shi Fang dari Sekte Pedang Da Lou terbang ke dalam lembah. Dengan bantuannya, kumbang-kumbang yang tersisa langsung dibasmi.
Orang ketiga yang memasuki lembah adalah paman-guru Guo Xingyi, dan setelah dia diikuti oleh yang lainnya. Adapun Qian Qin, kemarahan di wajahnya telah lenyap, dan yang tersisa hanyalah ketenangan yang mengerikan.
Setelah sesepuh pendek itu melemparkan tebasan energi pedang terakhir untuk memusnahkan Kumbang Sembilan Penjuru terakhir yang tersisa, matanya berbinar dan tertuju pada hamparan bunga keemasan.
"Lu Songyi, pergi dan petik Buah Keemasan Cemerlang itu!" Suara sesepuh pendek itu dipenuhi dengan wibawa "tak seorang pun boleh membantahku"!
Lu Songyi adalah lelaki tua pada alam Pembentukan Jiwa. Setelah mendengar ini, dia langsung mengangguk dan bersiap untuk memanen Buah Keemasan Cemerlang tersebut.
Namun, tepat pada saat ini, embusan angin lembut memasuki lembah. Awalnya tidak ada yang aneh dengan angin ini; paling-paling angin itu hanya menerbangkan daun-daun di atas tanah.
Namun, ketika angin itu menyapu kedua sesepuh tersebut, ekspresi mereka langsung berubah drastis.
Shi Fang tiba-tiba menoleh, matanya berbinar tajam saat menatap ke arah luar lembah. Wajah sesepuh pendek itu tampak muram. Dia meletakkan tangan kanannya di atas kantung penyimpanan miliknya, dan matanya dipenuhi dengan niat membunuh.
Pergerakan mereka seketika mengubah seluruh suasana di lembah. Kini, niat membunuh menyelubungi seisi lembah.
Akibatnya, lelaki tua bernama Lu yang hendak memanen buah itu tiba-tiba berhenti dan menunjukkan ekspresi terkejut.
Adapun orang-orang lainnya, mereka semua bereaksi sama. Hanya mata Qian Qin yang tetap tenang saat dia menatap mayat kakak seperguruannya yang sudah tewas. Seolah-olah segala hal yang terjadi di sekitarnya sudah tidak ada urusannya lagi.
Shi Fang merenung sejenak lalu berteriak, "Kultivator yang baru tiba, tidak perlu berpura-pura atau bersembunyi. Aku adalah salah satu sesepuh Sekte Pedang Da Lou, Shi Fang. Aku ingin Rekan Kultivator keluar dan berbicara!" Kedua sesepuh itu saling memandang dan melihat keterkejutan di mata masing-masing.
Pada saat angin itu datang, perasaan yang dirasakan sebelumnya meningkat beberapa kali lipat. Awalnya terasa seperti ada makhluk buas yang berada jauh di sana, tetapi dalam sekejap mata, makhluk buas itu sudah berada tepat di hadapan mata mereka.
Perubahan drastis ini seketika membuat jantung kedua sesepuh itu bergetar hebat.
Gumpalan gas abu-abu yang tebal meluncur ke arah lembah. Gas abu-abu itu sangat pekat sehingga tak seorang pun bisa melihat dengan jelas sosok orang yang berada di dalamnya. Gas abu-abu itu berhenti di luar lembah.
Saat gas abu-abu itu muncul, ekspresi Shi Fang menjadi sangat buruk.
Wajah sesepuh pendek itu tampak muram dan dia berkata, satu patah kata demi satu patah kata, "Tuan, Anda adalah...?"
Begitu dia selesai berbicara, dia tidak menunggu jawaban. Dia mengeluarkan raungan, tangan kanannya menyentuh kantung penyimpanannya, dan sebuah cermin perunggu muncul di tangannya. Cermin itu dilemparkan ke udara dan tiba-tiba membesar hingga berukuran tiga kaki. Cermin itu memancarkan cahaya hijau yang melingkupi gas abu-abu tersebut.
Tepat saat sesepuh pendek itu melemparkan cermin tersebut, Shi Fang—yang sudah lama bertarung bersama sesepuh pendek itu sehingga kerja sama mereka sangat padu—membentuk segel dengan kedua tangannya tanpa ragu sedikit pun, dan pedang pusaka di punggungnya terbang ke udara. Pedang itu melayang secara vertikal di atas kepalanya, dan bayangan ilusi pedang besar muncul di belakangnya.
Shi Fang berteriak, "Tebas!"
Pada saat kedua sesepuh itu menyerang, lelaki tua alam Pembentukan Jiwa, Lu Songyi, bergerak bagaikan kilat dan dengan cepat melesat ke arah Buah Keemasan Cemerlang. Dia telah berkultivator selama bertahun-tahun dan tahu bagaimana cara memanfaatkan celah kesempatan. Karena jaraknya yang sudah dekat dengan buah tersebut, dia tiba di sana dalam sekejap mata.
Cahaya dari cermin perunggu itu bagaikan susunan pembatas yang mengurung gas abu-abu. Pada saat yang sama, pedang Shi Fang melesat mendekat seolah datang dari puncak langit kesembilan. Bahkan sebelum pedang itu mendekat, suara dentuman sonik akibat penembusan penghalang suara telah terdengar lebih dulu.
Sekte Pedang Da Lou terkenal karena ilmu pedang mereka, jadi kekuatan pedang mereka tentu tidak boleh dianggap remeh!
Namun!
Tepat pada saat tebasan energi pedang itu turun, gas abu-abu tersebut tiba-tiba bergerak. Pergerakan itu bagaikan ribuan kuda yang sedang menyerbu, bagaikan tsunami yang membumbung tinggi ke langit. Dalam sekejap, gas abu-abu itu menerobos segala hal dan mengepung seluruh lembah.
Seiring dengan terjangan tersebut, terdengar suara dingin yang keluar dari dalam gas abu-abu.
"Bagaimana mungkin cahaya kunang-kunang bisa bersaing dengan bulan yang terang?!"
Suara ini sangat dingin, dan begitu suara itu sampai ke telinga semua orang, hal itu membuat mereka semua menggigil. Cahaya hijau yang mengelilingi gas abu-abu seketika hancur menjadi berkas-berkas cahaya hijau yang tak terhitung jumlahnya sebelum akhirnya lenyap.
Suara retakan terdengar dari cermin perunggu di langit sebelum akhirnya BOOM!
Energi pedang yang ditebaskan oleh Shi Fang hancur berkeping-keping!
Chapter 510 · 6m baca
Collapse! Break Down!
by Er Gen
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter