Pintu masuk Makam Suzaku terletak di Gunung Suzaku, tetapi makam itu sendiri adalah dunia yang lain.
Makam Suzaku dikelilingi oleh kekuatan misterius dari Kristal Planet Kultivasi. Selain pintu masuk di Gunung Suzaku, tidak ada cara lain untuk keluar atau masuk secara paksa.
Selain dipenuhi dengan keagungan, setiap generasi Suzaku mendapati bahwa tempat itu juga dipenuhi dengan misteri.
Tempat ini tidaklah sebesar ini ketika Suzaku generasi pertama menanam Kristal Planet Kultivasi. Namun, seiring berjalannya waktu, atau lebih tepatnya, seiring dengan bertambahnya pecahan-pecahan jiwa, tempat ini tumbuh seolah-olah bernyawa.
Tempat ini berada di dalam planet dan perlahan-lahan bertumbuh. Sekarang, tempat ini memiliki gunung dan sungainya sendiri, langit dan buminya sendiri. Siapa pun yang memasuki tempat ini untuk pertama kalinya pasti akan terkejut.
Wang Lin muncul di suatu tempat di tepi Makam Suzaku. Tanah di sini hangus terbakar dan gumpalan asap hitam mengepul keluar dari permukaan tanah lalu melayang ke udara. Langit di sini tidak berwarna biru; kilat berwarna-warni menyambar-nyambar di sana dan celah-celah spasial yang besar terbuka tinggi di udara.
Fluktuasi yang kuat ini menyebabkan tanah di bawahnya tampak terang dan gelap secara bergantian.
Wang Lin muncul di atas tanah hangus tempat gumpalan asap hitam mengepul naik dari permukaan tanah.
Tak lama kemudian, mata Wang Lin berbinar dan dia menatap ke kejauhan.
“Situ Nan bilang Makam Suzaku tidak besar dan terbagi menjadi bagian dalam dan luar. Pusat dari bagian dalam adalah tempat makam Suzaku generasi pertama berada, dan di situlah Kristal Planet Kultivasi berada.
Tapi tempat ini sangat jauh berbeda dari apa yang dideskripsikan oleh Situ Nan. Indera ketuhananku bahkan tidak bisa mencakup bagian luar, apalagi menemukan altar itu.” Wang Lin mengerutkan kening sambil berjongkok untuk menyentuh tanah yang gosong dan merasakan hawa panas dengan tangannya.
“Ada elemen api di dalam tanah ini. Ini sepertinya bukan disebabkan oleh sisa-sisa kekuatan mantra atau pertarungan, melainkan dari roh elemen api alami.” Mata Wang Lin berbinar dan dia terbang pergi.
“Tidak ada seorang pun dalam radius 5.000 kilometer dariku. Sepertinya semua orang yang masuk terpencar di seluruh makam ini.” Berbagai pikiran melintas di benak Wang Lin saat dia terbang dengan cepat ke kejauhan.
Tepat setelah dia pergi, sepasang mata hijau muncul dari dalam tanah. Mata tersebut memancarkan cahaya misterius saat menatap Wang Lin dan kemudian menghilang kembali ke dalam tanah.
Wang Lin terbang dengan cepat menuju ujung tanah yang hangus itu, tetapi tiba-tiba dia berhenti dan mundur ke belakang.
Bum!
Saat dia mundur, sepilar api biru tiba-tiba muncul tanpa suara di tempat Wang Lin berdiri sebelumnya. Api biru itu memiliki ketebalan sekitar seukuran tubuh manusia dan membuat suhu di area tersebut langsung meningkat. Gelombang panas yang diciptakan oleh api ini dengan cepat menyingkirkan semua asap yang mengepul dari tanah.
Namun, asap hitam itu bagaikan hantu; setelah disingkirkan, asap itu mengubah arahnya dan malah masuk ke dalam api biru alih-alih terus melayang ke atas.
Pada saat ini, sebuah pemandangan aneh terbentang di hadapan Wang Lin. Semua asap hitam dalam radius 5.000 kilometer terbang menuju api biru tersebut.
Sejumlah besar asap hitam berkumpul di dalam api biru, lalu keluar dari api biru tersebut dan mengambil bentuk menyerupai tentakel.
Saat Wang Lin mundur, matanya menjadi dingin. Dia menepuk kantong penyimpanan nya, mengeluarkan pedang surgawi, dan menebaskannya tanpa ragu-ragu.
Energi pedang berbentuk setengah bulan terbentuk dan melesat ke arah api biru bagaikan badai yang ganas.
Pada saat ini, asap hitam dengan cepat berkumpul untuk membentuk sebuah perisai guna melindungi api biru tersebut.
Bum!
Suara menggelegar terdengar dari perisai saat benda itu runtuh. Energi pedang tersebut sedikit menyusut saat menembus perisai dan kemudian mendarat di atas api biru.
Retakan sebesar lengan muncul di atas api biru dan gumpalan asap hitam keluar dari celah tersebut.
Api biru itu bergerak, menyebabkan sejumlah besar asap hitam berkumpul di sekitarnya dan menutup retakan itu. Seiring semakin banyaknya asap hitam yang berkumpul, api biru itu mulai berubah hingga menyerupai wujud manusia.
Wujudnya mirip seorang anak berusia delapan atau sembilan tahun. Seluruh tubuhnya mengeluarkan asap hitam dan matanya benar-benar hitam pekat. Anak itu menatap Wang Lin dan melepaskan senyuman ceria.
“Jangan… Pergi… mainlah denganku…”
Hanya sedikit waktu yang berlalu sejak Wang Lin mengayunkan pedangnya hingga api tersebut mengambil wujud seorang anak kecil. Wang Lin menatap anak itu dengan dingin. Sekilas dia bisa langsung tahu bahwa itu bukanlah makhluk iblis, melainkan roh api yang menciptakan hawa panas ini.
Wang Lin berkata dengan dingin, “Enyah!” Dia terbang melewati anak api itu dan bersiap untuk pergi.
“Jangan pergi…” Anak itu melambaikan tangan kanannya dan tanah di hadapan Wang Lin mulai bergemuruh. Tanah itu tiba-tiba naik, menciptakan tembok setinggi 1.000 kaki untuk menghalangi Wang Lin.
Wang Lin mengerutkan kening. Tubuhnya tiba-tiba menghilang dan ketika dia muncul kembali, dia sudah berada puluhan ribu kilometer jauhnya dari tanah yang hangus itu.
Anak itu melayang ke tepi tanah yang hangus dan menatap Wang Lin. Namun, anak itu tidak melangkah keluar sedikit pun. Jelas sekali gerakannya terbatas hanya di dalam area tanah yang hangus itu.
Mata hitam anak itu menatap Wang Lin. Mata gelap gulita itu memancarkan kesan yang menyeramkan. Anak itu tiba-tiba melengking dan kemudian melompat ke udara dengan tangan terbuka. Sejumlah besar asap hitam keluar dari tubuhnya. Asap hitam ini bagaikan sekumpulan naga. Setelah terbang keluar, asap itu masuk kembali ke dalam tanah yang hangus.
Suara gemuruh terdengar dari area tanah hangus seluas 5.000 kilometer itu, dan tanah tersebut mulai bergerak maju secara perlahan.
Wang Lin mengerutkan kening sambil menatap anak itu dengan dingin. Tanpa berkata apa-apa, dia berbalik dan terbang menjauh.
Ketika anak itu melihat Wang Lin semakin jauh, dia mulai merasa panik. Anak itu meraung beberapa kali lagi sementara lebih banyak asap hitam keluar dari tubuhnya dan menggali ke dalam tanah, menyebabkan tanah hangus itu bergerak semakin cepat.
Namun, kecepatan itu tidak dapat menandingi kecepatan Wang Lin. Melihat sosok Wang Lin perlahan menghilang di kejauhan, wajah anak itu dipenuhi dengan permusuhan. Dia melepaskan raungan keras ke langit, lalu tubuhnya runtuh menjadi bola api biru dan kembali masuk ke dalam tanah yang hangus.
Tanah yang hangus itu mulai bergetar hebat dan kemudian tiba-tiba mulai meluas lagi. Kali ini tanah itu tidak bergerak; tanah itu tampak meregang membentuk garis lurus yang bergerak maju dengan kecepatan yang mencengangkan.
Saat Wang Lin terbang, matanya menjadi dingin. Dia berbalik dan melihat garis tanah yang mengejarnya bagaikan seekor naga. Di bagian depan garis itu terdapat bola api biru dengan mata aneh milik sang anak.
“Kamu mencari mati!” Wang Lin tidak menggunakan energi spiritual surgawi pada tebasan sebelumnya. Dia mengeluarkan sebuah giok surgawi dan menyerap seluruh energi spiritual surgawi di dalamnya. Kemudian matanya memancarkan cahaya keemasan saat dia perlahan mengangkat pedang surgawinya. Pedang surgawi itu memancarkan cahaya keemasan karena dipenuhi dengan energi spiritual surgawi, lalu Wang Lin menebasnya ke bawah.
Satu ayunan pedang surgawi itu bagaikan hukuman dari dewa. Kekuatannya beberapa kali lebih kuat dari sebelumnya. Energi pedang itu bergerak melebihi kecepatan suara dan dengan cepat mendarat di atas tanah hangus yang sedang melesat ke arahnya.
Bum!
Bumi bergetar dan saat energi pedang itu mendarat, retakan-retakan muncul di atas tanah yang hangus. Retakan-retakan itu menyebar dengan cepat dan dalam sekejap mata, tanah yang hangus itu dipenuhi oleh celah-celah retakan.
Wang Lin berbisik, “Hancurlah!”
Dengan sebuah dentuman keras, garis tanah hangus itu hancur berkeping-keping dan tanah beterbangan ke segala arah. Pada saat ini, sebuah kekuatan misterius terpancar dari setiap butir tanah yang hangus tersebut.
Ekspresi Wang Lin tampak aneh saat dia mengulurkan tangan dan menangkap beberapa butir tanah. Setelah memeriksanya, dia berbalik dan pergi dengan cepat.
Tak lama setelah dia pergi, butiran-butiran tanah itu mulai berkumpul kembali. Tidak butuh waktu lama bagi tanah yang hangus itu untuk memulihkan wujudnya. Anak itu menatap ke arah kepergian Wang Lin dan memperlihatkan ekspresi kekecewaan yang mendalam.
“Jangan pergi…”
Anak itu tiba-tiba berbalik dan melihat seberkas cahaya terbang ke arahnya. Kegembiraan tiba-tiba memenuhi mata sang anak.
Setelah meninggalkan tanah yang hangus itu jauh di belakang, ekspresi Wang Lin sangat suram. Dia kini yakin bahwa anak yang terbuat dari api itu bukanlah roh api!
Jika itu adalah roh api, tebasan pedang tadi seharusnya sudah menghancurkannya, tetapi serangan yang mengandung energi spiritual surgawi itu hanya membuatnya runtuh dan sama sekali tidak menimbulkan luka.
“Bahkan tanah yang hangus itu sama sekali tidak rusak; hantaman dari pedang surgawi hanya membuatnya tercerai-berai. Tanah hangus itu pada dasarnya memang hanya butiran-butiran debu yang menyatu.
“Tempat ini sangat aneh; begitu tanah hangus itu hancur, aku merasa seolah-olah setiap butiran tanah itu adalah sebuah jiwa…. Mungkinkah itu adalah pecahan-pecahan jiwa?” Wang Lin tiba-tiba berhenti dan menoleh ke belakang.
Chapter 444 · 6m baca
Scorched Earth Spirit
by Er Gen
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter