Renegade Immortal - Chapter 241 — NovelArc
Request novel bisa langsung di tab request ya, bebas request semua novel dari novelupdates

Chapter 241 · 7m baca

Wang Zhuo

by Er Gen

Setelah jiwa pelahap jiwa milik Wang Lin membunuh enam anggota inti keluarga Teng, jiwa itu dengan cepat kembali ke tubuhnya.

Wang Lin membuka matanya dan merenung sejenak. Saat ia membunuh pria paruh baya itu, ia melihat sesosok bayangan yang mengguncang hatinya.

Jika matanya tidak salah lihat, maka orang itu adalah Wang Zhuo.

Wanita di sampingnya adalah putri dari pria paruh baya tersebut. Jelas ada hubungan di antara mereka berdua. Mata Wang Lin berbinar saat ia menyimpan bendera pembatas, cermin perunggu, dan para Iblis. Kemudian, ia melompat ke atas tunggangan nyamuk raksasanya dan dengan cepat menemukan wanita yang bersama Wang Zhuo melalui indra ketuhanan (divine sense) miliknya.

Arah yang dituju wanita itu bukanlah menuju Kota Keluarga Teng, melainkan ke perbatasan negara.

Wang Lin merenung sejenak, lalu mengejarnya.

Teng Xiu Xiu diliputi kesedihan. Meskipun ia sedang melarikan diri, ia tidak bisa menghentikan air matanya yang terus mengalir. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada ayahnya, tetapi ia memiliki firasat yang begitu membebani hatinya hingga ia hampir tidak bisa bernapas.

Perasaan rumit di dalam hati Wang Zhuo menjadi semakin kuat. Meskipun ia merasa sangat puas saat anggota keluarga Teng dibunuh, ia kini merasakan gelombang kekhawatiran yang mendalam.

Tubuh Wang Zhuo bergetar. Ia berhenti bergerak dan memejamkan mata saat ia teringat keluarganya yang dibunuh oleh keluarga Teng.

Teng Xiu Xiu melihat Wang Zhuo berhenti, jadi ia dengan cepat ikut berhenti bergerak. Ia menatap pria itu sambil menggigit bibir bawahnya. Saat ini, pria ini, suaminya, adalah satu-satunya tempat ia bisa bersandar.

Beberapa saat kemudian, Wang Zhuo membuka matanya dan dengan kejam menampar wajahnya sendiri beberapa kali. Ia ingin menampar dirinya agar sadar. Ia ingin mengingatkan dirinya sendiri bahwa keluarga Teng adalah musuhnya dan bahwa ia sama sekali tidak memiliki perasaan terhadap Teng Xiu Xiu.

Selama mereka berasal dari keluarga Teng, mereka harus mati!

Teng Xiu Xiu dengan cepat melangkah maju untuk menghentikan Wang Zhuo. Air matanya mengalir deras tanpa henti.

Wang Zhuo memantapkan hatinya. Ia mengibaskan lengannya dan menghempaskan Teng Xiu Xiu ke samping. Ia berkata, "Pergilah! Mulai sekarang, kau dan aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi!"

Teng Xiu Xiu menatap Wang Zhuo dengan keputusasaan di matanya. Ia bahkan tidak menyadari bahwa ia menggigit bibirnya begitu keras hingga berdarah. Air matanya tumpah ruah saat ia mencoba meraih Wang Zhuo.

Namun, Wang Zhuo kembali menghindar dan berkata dengan dingin, "Kau tidak mau pergi? Kalau begitu aku yang pergi!" Begitu selesai berkata, ia mulai terbang ke arah berlawanan.

Teng Xiu Xiu menatap kosong ke punggung Wang Zhuo. Keputusasaan di matanya tumbuh semakin pekat. Hatinya terasa seperti disayat pisau. Wajahnya merona kemerahan dengan tidak wajar dan ia memuntahkan setegtek darah. Wajahnya menjadi pucat pasi saat ia berusaha menyeimbangkan tubuhnya.

Sebenarnya, saat Wang Zhuo membalikkan tubuhnya, ia bisa merasakan hatinya seperti robek berkeping-keping, tetapi memikirkan kematian seluruh anggota keluarganya, ia memksa hatinya untuk membatu. Pada saat ini, rasa sakit yang dirasakan Wang Zhuo sama sekali tidak kalah pedih dari yang dirasakan Teng Xiu Xiu.

Teng Xiu Xiu mengeluarkan senyum menyedihkan saat ia memanggil Wang Zhuo dengan lembut. "Jangan pergi..."

Tubuh Wang Zhuo bergetar. Ia mengepalkan tinjunya, lalu tiba-tiba berbalik menghadap Teng Xiu Xiu dan berteriak, "Enyah!"

Setelah itu, ia mempercepat terbangnya dan dalam sekejap mata, menghilang tanpa jejak.

Darah kembali menetes dari sudut bibir Teng Xiu Xiu saat ia menatap ke arah perginya Wang Zhuo. Ia tersenyum pahit dan kebingungan memenuhi matanya.

Meskipun dunia ini luas, ia tidak tahu harus pergi ke mana. Dari dua pria terpenting di dunia baginya, ia tidak tahu apakah yang satu sudah mati atau masih hidup sementara yang satu lagi telah mencampakkannya. Bagi seorang wanita, ini tidak ada bedanya dengan langit yang runtuh.

Wang Zhuo terbang sejauh lebih dari 10 kilometer. Kedua tangannya berdarah karena mengepalkan tinjunya terlalu erat. Bayangan kematian keluarganya memenuhi benaknya, tetapi pemandangan kesedihan dan keputusasaan Teng Xiu Xiu perlahan-lahan menggantikan bayangan-bayangan itu.

Setelah waktu yang lama, Wang Zhuo mendarat di tanah. Ia berlutut menghadap ke arah kampung halamannya, bersujud dengan penuh penyesalan, dan berkata, "Ayah, Ibu, anakmu ini... tidak berbakti!"

Setelah selesai berbicara, ia memejamkan mata dan dua aliran air mata mengalir membasahi pipinya. Kemudian, ia bangkit dan dengan cepat berlari mengejar Teng Xiu Xiu.

Saat ia berbalik, ia merasa bisa melihat anggota keluarganya, terutama orang tuanya, menatapnya dengan tatapan penuh rasa sakit. Mereka semua menunjuk ke arahnya dan memanggilnya pengkhianat, memanggilnya anak haram dari keluarga Wang.

Hati Wang Zhuo seperti terbelah menjadi dua saat ia mengejar Teng Xiu Xiu. Tak lama kemudian, ia melihat Teng Xiu Xiu terbang dengan ekspresi bingung. Wanita itu tampaknya menyadari kedatangannya dan berbalik, menampilkan senyuman lembut.

Namun, saat keduanya bertemu, niat membunuh yang kuat melesat ke arah mereka. Mereka melihat seorang pemuda berambut putih yang tertiup angin sedang menaiki tunggangan nyamuk raksasa terbang ke arah mereka.

Di belakang pemuda itu terdapat mayat-mayat anggota keluarga Teng yang tak terhitung jumlahnya. Aroma darah yang pekat menyusul di belakang mereka.

Wajah Teng Xiu Xiu menjadi pucat. Secara tidak sadar ia bersembunyi di belakang Wang Zhuo, tubuhnya gemetar ketakutan.

Wang Zhuo menatap pemuda berambut putih itu. Matanya memancarkan ketidakpercayaan.

"Kau... kau adalah Wang Lin!!"

"Wang Zhuo."

Wang Lin melompat turun dari punggung nyamuk tersebut. Ia mendarat di hadapan Wang Zhuo dan menatap wanita yang ada di belakang pria itu.

Wang Zhuo secara tidak sadar melindungi Teng Xiu Xiu dan menatap Wang Lin dengan tatapan yang rumit. Setelah terdiam cukup lama, ia perlahan berkata, "Seharusnya aku sudah bisa menebak bahwa hanya kau yang memiliki kekuatan untuk membalaskan dendam keluarga kita."

Wang Lin merenung sejenak dan berkata dengan lembut, "Wang Zhuo, aku minta maaf."

Wang Zhuo tersenyum pahit dan berkata, "Jika kau mengucapkan itu kepadaku saat itu, aku tidak akan memaafkanmu. Tapi sekarang, kita hanya punya satu musuh, dan itu adalah Teng Huayuan."

Mata Wang Lin berubah dingin saat ia perlahan berkata, "Teng Huayuan tidak akan bisa melarikan diri, seluruh keluarga Teng tidak akan bisa melarikan diri!"

Tubuh Teng Xiu Xiu bergetar. Meskipun ia diliputi rasa takut, ia tetap bertanya, "Ayahku... ayahku..."

"Tutup mulutmu!" Wang Zhuo menghentikan Teng Xiu Xiu melanjutkan kata-katanya. Ia menenangkan dirinya dan berkata kepada Wang Lin, "Dia adalah ipar perempuanmu..."

Sebelum Wang Zhuo sempat menyelesaikan kalimatnya, Wang Lin berkata datar, "Ayahmu seharusnya tidak dinamai marga Teng."

Tubuh Teng Xiu Xiu bergetar hebat. Tatapan yang ia arahkan kepada Wang Lin mengandung kebencian yang mendalam.

Saat Wang Zhuo mendengar kata-kata itu, ia tahu bahwa Wang Lin sudah mengetahui identitas Teng Xiu Xiu. Perasaan rumit di dalam hatinya menjadi semakin pekat.

Wang Lin merenung sejenak. Ia memandang ke cakrawala dan bertanya, "Apakah Wang Hao masih berada di Sekte Xuan Dao?"

Wang Zhuo menggelengkan kepalanya dan berkata dengan getir, "Dia gagal membentuk intinya... dia sudah... mati."

Wang Lin memejamkan matanya. Ia menghela napas dan berkata, "Kau dan dia sebaiknya meninggalkan Zhao." Setelah itu, ia bahkan tidak menoleh ke belakang dan melompat ke atas punggung nyamuk raksasanya.

Serangkaian tindakan Wang Zhuo telah dengan jelas menunjukkan bahwa ia tidak ingin Teng Xiu Xiu mati.

Wang Zhuo menatap punggung Wang Lin yang menjauh. Perasaannya menjadi semakin rumit. Kematian keluarga dan orang tuanya terlintas di depan matanya. Semuanya menatapnya, mencapnya sebagai pengkhianat keluarga Wang!

Wang Zhuo tersenyum pahit saat ia berbalik untuk menatap Teng Xiu Xiu. Hatinya terasa tenggelam saat melihat kilatan kebencian yang sangat dalam dan tersembunyi di mata wanita itu.

Wang Zhuo merenung sejenak. Tatapannya melunak saat ia berkata dengan lembut, "Xiu Xiu, mari kita pergi." Bersamaan dengan itu, tangan kanannya dengan lembut menyentuh rambut wanita itu.

Teng Xiu Xiu terkejut dan kemudian mulai menangis lagi. Selama kebersamaan mereka, baru kali ini Wang Zhuo memanggilnya Xiu Xiu.

Namun, senyum di wajahnya sesaat kemudian membeku, karena tangan Wang Zhuo kini berada di atas ubun-ubun kepalanya (Tian Lin). Dengan aliran energi spiritual yang melonjak, ia mengakhiri hidup istrinya sendiri.

Teng Xiu Xiu mati tanpa rasa sakit. Ia mati di dalam pelukan pria yang dicintainya...

Memeluk mayat istrinya, mata Wang Zhuo dipenuhi dengan kesedihan. Ia menatap ke arah perginya Wang Lin dan berbisik, "Wang Lin, aku tidak akan menjadi pengkhianat keluarga Wang dan aku tidak akan membiarkan secuil pun garis keturunan keluarga Teng tersisa."

Setelah berkata demikian, ia berlutut ke arah kampung halamannya dan bersujud beberapa kali. Ia menghantamkan telapak tangannya ke keningnya sendiri, mengakhiri seluruh sisa hidup di tubuhnya. Darah mengalir dari mulutnya saat ia jatuh ke tanah, menatap wajah istrinya.

"Xiu Xiu, jangan takut, aku akan menemanimu..."

Wang Lin yang sedang berdiri di atas punggung nyamuk tiba-tiba merasakan tubuhnya bergetar. Ia bisa merasakan titik cahaya yang merepresentasikan Wang Zhuo di dalam indra ketuhanannya mendadak lenyap. Ia merenung sejenak, lalu tubuhnya menghilang dari atas punggung nyamuk.

Ketika ia muncul kembali, ia sudah berdiri di samping jenazah Wang Zhuo. Wang Lin menatap jasad Wang Zhuo dengan perasaan yang rumit di dalam hatinya. Ia mengerti bahwa Wang Zhuo terjebak di antara keluarga dan wanita yang dicintainya, dan pada akhirnya hanya bisa membunuh sang kekasih dengan tangannya sendiri untuk melunasi rasa bersalahnya terhadap keluarganya.

Pada saat yang sama, setelah istrinya tewas, ia memilih bunuh diri demi menepati rasa cintanya kepada sang istri.

Wang Lin merenung sejenak, lalu mengarahkan jarinya ke kening Wang Zhuo. Perlahan-lahan, sepercik api jiwa yang lemah dan bisa padam kapan saja muncul di tangan Wang Lin.

Ia menghela napas panjang dan menghilang dari tempat itu.

Di bagian timur laut ibu kota, terdapat sebuah kediaman besar milik keluarga Wang. Seorang pemuda berambut putih muncul di dalam kompleks keluarga Wang. Pemuda itu berjalan melintasi rumah seolah-olah wujudnya tembus pandang. Tak satupun pelayan yang tampak menyadari kehadirannya.

Setelah berjalan cukup jauh ke dalam rumah tersebut, pemuda berambut putih itu berhenti di depan sebuah bangunan. Di dalamnya duduk seorang wanita yang perutnya tampak membuncit. Ia jelas sedang hamil.

Pemuda itu mengamatinya sejenak, lalu mengeluarkan sebuah bola cahaya putih. Ia menghela napas pelan sebelum melemparkan bola cahaya putih itu. Cahaya putih tersebut masuk ke dalam perut sang wanita.

Bayi yang belum terbentuk sempurna dan belum menghasilkan jiwanya sendiri itu perlahan-lahan menyatu dengan cahaya putih tersebut.

"Anak ini akan melangkah ke dunia kultivasi di masa depan. Mungkin kita akan memiliki kesempatan lain untuk bertemu kelak," gumam pemuda itu pada dirinya sendiri sebelum beranjak pergi.

Gunakan ← → untuk pindah chapter