Pria yang berdiri di atas makhluk itu menoleh dan menatap ke arah Wang Lin dengan ekspresi aneh di wajahnya. Ia berpikir, “Tidak mungkin…”
Begitu Wang Lin memasuki celah tersebut, kantong yang berisi batu spiritual berkualitas tinggi, kesepuluh artefak, dan perangkap makhluk itu semuanya mulai memancarkan cahaya.
Namun, cahaya itu langsung meredup begitu ia masuk ke dalam celah, seolah-olah ada suatu kekuatan yang mengganggu indra ketuhanan (divine sense) yang terhubung dengan kantong-kantong tersebut.
Wang Lin sudah tahu bahwa dengan kepribadian kesepuluh orang itu, mereka tidak akan begitu saja menyerahkan harta karun mereka. Mereka pasti telah memasang semacam teknik pada benda-benda itu agar bisa mengendalikannya dari jarak jauh.
Jadi, ketika Wang Lin menerima barang-barang itu, ia selalu waspada terhadap mereka. Ia memutuskan untuk menggunakan celah yang dapat memutus indra ketuhanan sebagai tindakan pencegahan.
Begitu tubuh Wang Lin memasuki celah tersebut, ekspresi pria tua itu berubah saat ia menyadari indra ketuhanan miliknya terhalang.
Senyum sarkastik Ta Sen semakin lebar. Ia mendengus pelan dan melambaikan tangan kanannya, menyebabkan sebuah lingkaran cahaya merah muncul. Ukurannya kecil pada awalnya, namun dengan cepat mulai melebar. Setelah itu, tangan kanannya terus bergerak dan membentuk lebih banyak lingkaran merah, lalu melemparkannya ke segala arah.
Bentuk tidak beraturan yang mengelilingi Ta Sen mulai bergetar hebat. Pria tua itu tidak punya waktu untuk memikirkan Wang Lin dan kembali fokus untuk menjaga agar bentuk tidak beraturan itu tetap utuh.
Adapun pria bersisik yang tadinya berdiri di atas makhluk itu, ia mulai merenung. Tanpa sepatah kata pun, ia menepuk telapak tangannya ke dahinya dan tubuhnya terbelah menjadi dua. Salah satu tubuhnya melesat ke arah bentuk tidak beraturan tersebut. Begitu menyentuh bentuk itu, ia melafalkan sebuah mantra dan menggunakan tangannya untuk membentuk segel yang memungkinkannya menerobos masuk.
Setelah berhasil masuk, matanya berbinar dan ia melambaikan tangan kanannya, memunculkan tombak ilusi di genggamannya. Tombak itu tampak persis seperti yang dimiliki Ta Sen, hanya saja tombak ini hanyalah sebuah bayangan semu.
Namun, tekanan yang dipancarkan dari tombak itu sama sekali tidak kalah hebat dari yang asli. Ia segera menerjang ke depan dan menyerang Ta Sen.
Di luar bentuk tidak beraturan itu, wujudnya yang lain melayang di udara, terus-menerus melafalkan mantra dan membentuk gerakan tangan. Bola-bola petir ungu yang tak terhitung jumlahnya muncul di sekitar tubuhnya.
Semakin banyak bola petir yang bermunculan. Petir menyambar-nyambar di antara bola-bola tersebut, memancarkan aura yang menghancurkan.
Meskipun ia terus-menerus merapal teknik, matanya terpaku pada sisik khusus di tubuh makhluk itu sambil mengamati sekelilingnya dengan cermat.
Semua ini terjadi nyaris dalam waktu yang bersamaan dengan hilangnya tubuh Wang Lin ke dalam celah. Saat pria tua itu mengalihkan perhatiannya untuk mempertahankan bentuk tidak beraturan tersebut, sebuah celah tiba-tiba muncul di dekat sisik khusus pada makhluk itu.
Sebuah bayangan tiba-tiba keluar dari celah tersebut.
Pria tua dan pria bersisik itu langsung menyadari kemunculan celah dan bayangan yang keluar darinya. Wajah pria tua itu menunjukkan ekspresi penuh kebencian. Ia mencoba melakukan dua hal sekaligus; menggunakan sisi kirinya untuk menjaga bentuk tidak beraturan itu tetap utuh sementara jari kanannya terangkat menunjuk ke arah sosok yang muncul dari celah. Namun, ia sempat tertegun sejenak, lalu tersenyum dingin. Dari sosok yang muncul itu, ia sama sekali tidak bisa merasakan keberadaan harta penyelamat hidup miliknya.
Sementara itu, pria bersisik tidak bahkan melirik sosok tersebut, melainkan melambaikan tangannya dan memerintahkan sebagian kecil bola petir ungu untuk menyerang sosok itu.
Namun, setelah beberapa saat, ia mengerutkan kening dan menyuruh bola-bola petir itu untuk mengubah arah. Sialnya, sosok tersebut bukannya menghindar, melainkan langsung menerjang ke arah bola-bola petir itu.
Sosok tersebut bergerak sangat cepat dan menabrak bola-bola petir, tetapi kemudian sosok itu mendadak hancur menjadi makhluk-makhluk kecil yang langsung musnah tak bersisa dihantam sambaran petir.
Di tengah suara petir yang menggelegar, empat tornado hitam besar muncul dari dalam celah.
Tornado-tornado itu mendengung, dan salah satunya tampak menyembunyikan sesuatu di dalam sana. Ekspresi pria bersisik itu berubah aneh. Setelah mengamati tornado-tornado itu dengan cermat, ia tersenyum sarkastik. Di dalam tornado-tornado itu ternyata hanya terdapat beberapa fragmen jiwa, bukan Wang Lin. Semua ini hanyalah trik untuk mengecoh orang.
Ia melambaikan tangan kanannya dan mengirimkan lebih banyak bola petir ungu. Kali ini, bola-bola petir tersebut mengitari tornado karena ia memiliki target baru: celah dimensi itu.
Begitu pula dengan sang pria tua, ia memiliki pemikiran yang sama. Ia menunjuk ke arah celah tersebut dengan tangan kanannya.
Alhasil, keempat tornado itu berhasil melewati pria bersisik dan melesat ke arah makhluk sepanjang satu juta kaki tersebut. Tak lama kemudian, tornado-tornado itu tiba di sebelah sang makhluk.
Saat bola-bola petir menghantam celah, celah itu perlahan-lahan menyusut hingga akhirnya lenyap sepenuhnya.
Pria bersisik itu tertegun. Tanpa banyak bicara, ia melambaikan kedua tangannya dan seluruh bola petir ungu di sekelilingnya mendadak melesat ke arah keempat tornado. Ia amat berharap bisa menyuruh tubuh yang sedang bertarung melawan Ta Sen untuk ikut menyerang tornado-tornado tersebut.
Namun pada saat itu, Ta Sen, yang berada di pusat bentuk tidak beraturan, menatap ke arah tornado-tornado hitam. Matanya berbinar seiring pemahamannya atas apa yang sedang terjadi, lalu ia tertawa lepas. Mengabaikan lawannya, ia merapalkan beberapa mantra yang sangat rumit hingga tubuhnya tiba-tiba berubah menjadi kabut darah.
Begitu kabut darah itu muncul, kabut tersebut dengan cepat menyebar ke segala arah. Bentuk tidak beraturan yang mengurungnya tiba-tiba runtuh dan melepaskan gelombang kejut ke luar.
Hal ini membuat kesepuluh orang yang mempertahankan bentuk tidak beraturan itu menampilkan ekspresi ketakutan. Enam orang, termasuk Dou Mu, terkena gelombang kejut tersebut. Tubuh mereka dengan cepat disusupi oleh kabut darah yang mengamuk di dalam tubuh, menghancurkan seluruh organ internal mereka, sebelum akhirnya keluar dari kepala mereka.
Saat kabut darah itu keluar, keenam orang tersebut menunjukkan ekspresi tak percaya saat tubuh mereka yang lemas dan tak bernyawa jatuh langsung ke Lautan Mati.
Pria yang tadinya berniat mengejar Wang Lin terpaksa berhenti dan berbalik. Ia tidak punya waktu untuk mengurus Wang Lin. Kedua tangannya terbuka, mengarahkan bola-bola petir ungu yang tadinya menyerang tornado hitam untuk berbalik dan menghantam kabut darah.
Sementara itu, tubuhnya yang satu lagi melemparkan tombak ilusioner. Tombak itu berubah wujud menjadi naga hitam dan menerjang ke arah kabut darah.
Adapun keempat orang yang selamat, semuanya diliputi ketakutan luar biasa, terutama sang pria tua. Ia tidak pernah menyangka Ta Sen masih memiliki jurus seperti ini.
Kabut darah yang dikejar oleh bola petir ungu dan naga hitam itu dengan cepat menyatu kembali untuk membentuk sepuluh replika pria berambut merah yang identik. Mereka semua muncul di lokasi yang berbeda. Salah satu dari mereka tiba-tiba melesat ke arah tornado hitam.
Sembilan tubuh lainnya mengikuti arahan dari dua tubuh yang memegang tombak dan bilah bulan sabit. Mereka mulai mengepung pria bersisik dan keempat orang yang tersisa.
Hampir seketika, tubuh yang mengejar tornado hitam berhasil menyusul. Ia melambaikan tangannya dan memancarkan cahaya merah. Keempat tornado itu dengan cepat melebur menjadi satu.
Setelah tornado-tornado itu bergabung menjadi satu, pusaran itu runtuh, dan jiwa-jiwa makhluk kecil yang tak terhitung jumlahnya berhamburan ke segala arah.
Beberapa jiwa menghantam sisik makhluk raksasa sepanjang satu juta kaki itu.
Perkembangan yang tiba-tiba ini membuat klon itu tertegun. Ia tersenyum tipis dan menunjuk jari ke berbagai arah. Di setiap titik tunjukannya, sejumlah besar jiwa makhluk kecil lenyap.
Namun di saat yang sama, jiwa-jiwa yang menghantam makhluk raksasa sepanjang satu juta kaki itu mulai berkumpul menjadi satu. Mereka memancarkan hawa iblis sebelum akhirnya meledak dengan dahsyat.
Ledakan ini memicu efek beruntantai. Seluruh jiwa yang tersisa meledak, melepaskan sejumlah besar Ling Qi ke area sekitarnya.
Begitu ledakan terjadi, sebuah celah muncul di dekat tubuh makhluk sepanjang satu juta kaki itu dan sesosok bayangan dengan cepat melesat keluar. Gerakannya bagaikan kilat, dan dalam sekejap, ia mendarat di atas sisik tubuh makhluk raksasa tersebut.
Orang ini adalah Wang Lin, namun kali ini, tubuhnya tidak tampak nyata, melainkan menyerupai ilusi. Jelas sekali bahwa wujudnya saat ini adalah jiwanya yang telah meninggalkan raga.
Begitu Wang Lin muncul, klon pria bersisik yang sedang bertarung dengan Ta Sen dan perlahan bergerak ke arah sana mendadak tertegun menatap Wang Lin. Matanya memancarkan ketidakpercayaan. Dari jiwa Wang Lin, ia merasakan secercah fragmen pewarisan pengetahuan.
Semua ini terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Wang Lin selalu memiliki kepribadian yang sangat hati-hati; saat ia memasuki celah tadi, ia merasakan kekuatan destruktif yang berasal dari barang-barang yang ia peroleh dari kelompok Dou Mu. Hal inilah yang membuatnya ekstra waspada. Singkatnya, bagaimana mungkin ia bisa muncul kembali tanpa persiapan apa pun?
Oleh karena itu, ia menggunakan metode dari pewarisan pengetahuan untuk bersembunyi di dalam celah dan memanfaatkan efek pemblokiran indra ketuhanan milik celah tersebut untuk meredam efek dari harta karun itu. Setelah ia memeriksa barang-barang tersebut dengan cermat, ia melihat cahayanya meredup dan kekuatan destruktifnya telah hilang. Barulah ia bisa sedikit bernapas lega.
Jadi, setelah ia membuka celah tersebut, ia mengirimkan jiwa-jiwa makhluk buas kecil sebagai pengintai. Ia mendapati bahwa bukan hanya pria tua itu, tetapi juga perhatian pria bersisik yang tertuju padanya.
Wang Lin sedang mengamati ketika pria itu keluar dari tubuh makhluk sepanjang satu juta kaki tersebut sebelumnya, dan ia menyadari bahwa pria bersisik itu mampu bertarung secara seimbang melawan Ta Sen. Mempertimbangkan faktor-faktor ini, Wang Lin tidak berani keluar begitu saja.
Ia merenung dengan cermat sejenak, lalu mengirimkan empat tornado hitam dan menyembunyikan sebagian indra ketuhanan di dalamnya, sebelum dengan cepat mundur kembali ke dalam celah.
Segala hal yang terjadi antara Ta Sen dan mereka disaksikannya melalui tornado hitam tersebut, terutama kemampuan supranatural Ta Sen, yang membuat Wang Lin merasa bahwa keputusannya di awal sudah tepat. Jika ia benar-benar menuruti instruksi pria tua itu dan mencoba menyegel Ta Sen, tampaknya sebelum ia sempat menyelesaikan segelnya, ia sudah tewas seperti keenam orang itu.
Setelah Ta Sen membentuk sepuluh klon, salah satunya mendatangi Wang Lin. Wang Lin menggabungkan keempat tornado itu sendiri sebelum Ta Sen sempat bertindak, dan jiwa-jiwa makhluk buas kecil yang tak terhitung jumlahnya berhamburan keluar. Alhasil, indra ketuhanannya terpencar di antara jiwa-jiwa makhluk kecil tersebut, sehingga peluangnya untuk ditemukan menjadi jauh lebih kecil.
Kendati demikian, Wang Lin tidak cukup arogan untuk mengira ia tidak akan ketahuan. Jika ia sampai ditemukan, paling-paling ia hanya akan memutuskan bagian indra ketuhanan tersebut.
Bagaimanapun, tujuan utama dari sebagian indra ketuhanan ini hanyalah untuk bertindak sebagai pengintai. Ia mengendalikan jiwa-jiwa makhluk kecil itu agar mendarat di tubuh makhluk sepanjang satu juta kaki tersebut.
Salah satu jiwa secara tidak sengaja menghantam sisik khusus itu, dan begitu bersentuhan dengan sisik tersebut, ia jelas-jelas merasakan panggilan kuat darinya.
Di bawah panggilan ini, pecahan warisan yang tersimpan di dalam benaknya terasa seolah-olah hendak melompat keluar dari tubuhnya.
Namun di saat yang sama, di dalam warisannya, sepotong memori baru muncul. Setelah memahami memori tersebut, hati Wang Lin mau tidak mau tenggelam.
Wang Lin dengan cepat memutuskan untuk meledakkan seluruh jiwa makhluk kecil itu. Ia mencibir dingin saat jiwanya meninggalkan raga dan melesat keluar dari celah bagaikan kilat.
Tepat seperti dugaan Wang Lin, jurang kultivasi antara dirinya dan Ta Sen terlampau jauh. Meskipun itu hanyalah sebuah klon, levelnya jelas bukan sesuatu yang bisa disembunyikan oleh Wang Lin. Klon itu meninggalkan rasa jijik di dalam hatinya. Ia sudah mendeteksi indra ketuhanan Wang Lin di dalam tornado hitam, kalau tidak, ia tidak akan menggunakan kekuatan yang dapat melukai tubuhnya sendiri.
Faktanya, ketika Ta Sen memasuki Lautan Jiwa Mati, ia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Meskipun ia tidak memiliki hubungan apa pun dengan pewarisan pengetahuan, karena ia lahir dari pikiran jahat Tu Si, ia sangat akrab dengan lautan pengetahuan Tu Si.
Tempat ini tampak agak aneh baginya, namun ia tidak dapat memastikan apa keanehannya secara jelas. Ini murni berdasarkan instingnya.
Bahkan dengan kemunculan makhluk sepanjang satu juta kaki dan pengkhianatan sepuluh orang itu, ia tidak terlalu ambil pusing. Yang benar-benar ia pedulikan adalah keanehan tempat ini. Baru setelah Wang Lin muncul dari celah, hal itu menghantam benaknya bagaikan petir dan memberinya pencerahan.
Itulah sebabnya ia menggunakan kekuatan supranatural untuk melepaskan diri dan mengapa ia tidak langsung menghancurkan indra ketuhanan Wang Lin, karena ia ingin melihat dengan tepat apa yang telah ditemukan oleh si penyantap jiwa ini.
Dalam sekejap, jiwa Wang Lin mendarat di tubuh makhluk sepanjang satu juta kaki itu. Wujudnya tampak sangat kabur, dan ia melayangkan senyum dingin ke arah klon Ta Sen.
Klon Ta Sen menatap sisik di sekitar tempat Wang Lin berdiri. Ia tersenyum dingin. Ia tahu bahwa keanehan tempat ini bersumber dari salah satu sisik tersebut. Meskipun ia belum tahu sisik mana yang dimaksud, begitu ia menyatu kembali menjadi satu tubuh, ia yakin akan bisa mengetahuinya.
Pada titik ini, di matanya, Wang Lin telah kehilangan seluruh nilainya. Ia membentuk gestur berlian dengan tangannya, menatap Wang Lin, lalu berkata, “Mati!”
Senyuman Wang Lin semakin dingin. Sebelumnya, ketika indra ketuhanannya menyentuh sisik tersebut, memori yang didapatkannya menyatakan bahwa tidak ada fisik yang bisa memasuki tempat penyimpanan pewarisan pengetahuan, hanya jiwa yang dapat masuk.
Setelah menerima memori ini, ia memutuskan untuk maju hanya dengan menggunakan jiwanya. Ini adalah gagasan berani darinya. Jika semuanya berjalan sesuai dugaannya, maka ia akan menjadi orang pertama yang memasuki tempat penyimpanan pewarisan pengetahuan tersebut.
Jika ini benar, maka memperoleh warisan pengetahuan yang utuh bukanlah hal yang mustahil. Memikirkan hal ini, jantung Wang Lin berdegup kencang.
Adapun serangan dari klon Ta Sen, Wang Lin sama sekali tidak mempedulikannya. Jiwanya mulai membentang bagaikan gumpalan awan, dan tiga buah kata mulai berpijar terang. Tiga kata itu adalah: “Teknik Dewa Kuno”!
Ekspresi wajah klon Ta Sen mendadak berubah. Semua klon lain yang sedang bertarung menyadari ada sesuatu yang ganjil dan serempak menoleh ke arah Wang Lin. Ekspresi mereka semua langsung berubah drastis.
Para klon menatap ketiga kata keemasan itu. Sembilan klon lainnya langsung bergerak, melesat bersama-sama ke arah tempat Wang Lin berdiri.
Hampir seketika, pria bersisik itu tersentak kaget. Kemudian, sebuah gagasan melintas di benaknya, dan ia dengan cepat menyatukan kembali tubuhnya menjadi satu. Ia mengejar klon-klon Ta Sen sambil tertawa terbahak-bahak, “Ta Sen, siapa pun kecuali kau yang boleh mewarisi pengetahuan sang master. Anak kecil, semuanya bergantung pada keberuntunganmu!”
Kalimat terakhir itu ditujukan kepada Wang Lin. Pada saat itu, ia membuat sebuah keputusan, sebuah keputusan yang harus dibayarnya dengan harga yang hampir tak sanggup ia tanggung.
Tiba-tiba, pria bersisik itu menudingkan tangannya ke arah dahinya dan berucap, “Menggunakan klonku sebagai kurban, aku mentransfer pewarisan pengetahuan!” Klonnya bergetar hebat, dan bersama dengan tombak tersebut, keduanya berubah menjadi bintik-bintik cahaya keemasan lalu lenyap.
Saat klon yang paling dekat dengan Wang Lin menerjang ke arahnya, jiwa Wang Lin yang tadinya menyebar dengan cepat tiba-tiba menyusut, seolah-olah disedot oleh kekuatan yang luar biasa besar. Dalam kedipan mata, jiwa Wang Lin tersedot oleh sisik khusus tersebut dan menghilang.
Tak lama setelah pria bersisik itu merapalkan kata-kata tersebut, sisik itu meledak dan lenyap tanpa jejak.
Klon Ta Sen berbalik menghadap pria bersisik itu dan meraung. Klon-klonnya menyatu kembali menjadi satu tubuh. Tangan kirinya memegang bilah bulan sabit dan tangan kanannya menggenggam tombak. Ia menatap pria bersisik itu dengan kemasan amarah yang membara di matanya.
“Jika anak kecil itu gagal menyatu dengan pewarisan pengetahuan dalam kurun waktu seribu tahun, kau mungkin masih punya kesempatan lain!” Pria bersisik itu tertawa lepas.
Mengabaikan apa yang terjadi pada kedua orang itu, setelah jiwa Wang Lin diserap oleh sisik tersebut, ia tiba di sebuah dunia awan. Tempat ini tidak memiliki langit mau pun daratan, melainkan lautan awan yang tak bertepi sejauh mata memandang.
Chapter 197 · 10m baca
The True Inheritance
by Er Gen
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter