Renegade Immortal - Chapter 1953 — NovelArc
Request novel bisa langsung di tab request ya, bebas request semua novel dari novelupdates

Chapter 1953 · 6m baca

A Single Brilliant Feat! (3)

by Er Gen

Benua Selatan, Sekte Dao Yi.

Sekte ini adalah sekte nomor satu di Benua Selatan; bahkan terkenal di seluruh klan selestial. Ini karena seorang Mahadewa (Grand Empyrean) bernama Dao Yi berasal dari sekte ini!

Di gunung belakang, terdapat sebuah air terjun yang deru airnya terdengar gemuruh. Ada sebuah kolam di sebelah air terjun itu, dan seorang pemuda berbusana Tao dengan tenang duduk di sana. Ia memegang seanting ranting willow di tangannya dan mencelupkannya ke dalam kolam seolah-olah sedang memancing.

Tepat saat Wang Lin melewati istana kedelapan, pemuda berbusana Tao itu membuka matanya. Ia mengangkat kepalanya untuk menatap langit biru dan awan putih. Ia tampak begitu tenang.

"Berhasil melewati istana kedelapan..." Pemuda berbusana Tao itu tersenyum. Ia menggerakkan ranting willow di tangannya, memicu riak air di permukaan kolam. Pemandangan dari Ujian Mahadewa pun muncul di atasnya.

Sebagian besar Benua Selatan tertutup es dan salju sepanjang tahun. Angin yang membuat butiran salju berhamburan melolong bagaikan tangisan para hantu. Hal ini membuat hati sebagian besar kultivator yang baru pertama kali datang ke Benua Selatan merasa gentar.

Ada sebuah jajaran pegunungan di bagian paling utara Benua Selatan. Gunung itu berupa gletser raksasa yang tidak mencair selama puluhan ribu tahun. Bentuknya tidak beraturan dan tampak seperti pedang-pedang yang menusuk ke langit. Es itu berkilau cemerlang di bawah terik matahari, memancarkan niat membeku yang pekat.

Tempat ini adalah gua kediaman Mahadewa Wu Feng dari Benua Utara.

Di bawah salah satu gletser, duduk seorang pria paruh baya botak yang bertubuh sangat tinggi. Sinar matahari membias dari gletser tersebut, menciptakan sebuah ilusi di dalam biasannya. Ilusi itu memperlihatkan pemandangan di dalam Ujian Mahadewa.

Kultivator botak yang tinggi itu tampak tenang, menatap sosok yang tengah bergegas menuju istana kesembilan. Matanya perlahan-lahan berbinar.

Begitu seorang kultivator melewati istana kedelapan, para Mahadewa pasti akan mengetahuinya. Pada saat ini, jauh di sana, di Gunung Kaisar di Benua Tengah, seorang wanita cantik sedang berdiri di tengah-tengah gugurnya daun-daun musim gugur. Salah satu daun itu tidak bergerak dan menampilkan pemandangan dari Ujian Mahadewa.

Di samping wanita cantik itu duduk seorang lelaki tua. Lelaki tua tersebut tampak bermalas-malasan seolah tidak memiliki tenaga. Meskipun ia ikut melihat, matanya menyiratkan kebosanan. Seolah-olah apa pun yang terjadi di dalam Ujian Mahadewa sama sekali tidak mampu menarik minatnya.

Wanita cantik itu menatap daun musim gugur di hadapannya dan berkata dengan lembut, "Guru, jika dia berhasil melewati istana kesembilan, apakah Anda akan merekrutnya?"

Lelaki tua di sampingnya membuka matanya dan tatapannya menyapu daun musim gugur tersebut.

"Jika Guru merekrut setiap orang yang melewati istana kesembilan, bukankah Gunung Kaisar akan menjadi sangat bising? Istana kesembilan sudah cukup untuk menarik perhatian Dao Yi dan Wu Feng karena mereka menjadi Mahadewa di masa-masa belakangan dan sangat berambisi memperluas pengaruh mereka. Selain melatih Mahadewa keenam, mereka juga perlu mencari seseorang untuk menjaga reinkarnasi mereka.

"Namun bagi Guru, melewati istana kesembilan itu ibarat semut di atas tanah. Jadi apa pedulinya jika ada satu semut yang sedikit lebih besar dari yang lain? Hanya jika dia bisa melewati istana ke-15 seperti Ming Dao, barulah Guru akan mempertimbangkan untuk merekrutnya," ucap lelaki tua itu perlahan.

Wanita cantik itu merenung dalam diam sambil menggigit bibir bawahnya. Ia menatap daun musim gugur itu tanpa berkata apa-apa.

Masih di Benua Tengah, di dalam kota kekaisaran, terdapat sebuah istana yang tampak cukup mewah. Tidak ada seorang pun di dalam istana itu, tetapi terdapat tirai air yang dengan jelas menampilkan pemandangan Wang Lin di dalam Ujian Mahadewa.

Benua Timur, sekte nomor satu di antara sembilan sekte dan tiga belas faksi. Sekte Yang Ungu.

Di tanah terlarang Sekte Yang Ungu, di dalam sebuah ruangan batu, seorang pria paruh baya sedang menatap tajam ke arah cermin raksasa yang menampilkan pemandangan di dalam Ujian Mahadewa. Namun, cahaya keemasan memenuhi cermin tersebut hingga sosok di dalamnya tampak buram.

Di samping pria paruh baya itu terdapat dua anak perempuan kecil, yang satu mengenakan baju merah dan yang satu lagi mengenakan baju ungu. Keduanya seusia tujuh atau delapan tahun. Wajah mereka mirip boneka giok mungil dan mata mereka berbinar cerah. Keduanya terlihat sangat menggemaskan. Saat ini, gadis kecil berbusana merah itu sedang menopang dagunya dengan tangan sambil mempermainkan rambutnya, menatap ke arah cermin. Tapi sebenarnya, ia sedang memikirkan rencana untuk pergi keluar bermain. Ia melirik gadis berbusana ungu dan keduanya saling mengedipkan mata.

Ada seorang kultivator di samping gadis berbusana ungu. Kultivator ini memiliki ekspresi pahit di wajahnya, meringkuk dengan rantai melilit di lehernya. Air mata tampak hampir menetes dari matanya. Ini adalah akibat dari depresi bertahun-tahun, membuatnya berada dalam kondisi yang sangat mengenaskan.

"Eh, Serigala Kecil, ekspresi macam apa itu? Serigala Kecil yang baik, jangan nakal." Gadis berbusana ungu itu menatap sang kultivator yang berwajah masam dan mengangkat tangannya untuk menepuk kepalanya. Setiap tepukan membuat sang kultivator semakin menundukkan kepalanya, dan air mata yang menggenang di matanya kian bertambah.

"Dua leluhur kecil, ah... Jangan hanya memikirkan tentang bermain... Wah, lihat orang ini. Aku telah menyelidiki orang ini—dia juga berasal dari Benua Timur. Entah dia bisa melewati istana kesembilan atau tidak, dia harus direkrut." Pria paruh baya itu diliputi rasa getir saat ia berbicara pelan kepada dua gadis kecil di sampingnya.

"Ah, urusi saja sendiri. Han Han, kamu harus mengajari Serigala Kecil yang tidak patuh ini. Kita harus melemparkannya ke Kolam Sembilan Yin seperti terakhir kali dia nakal. Setelah beberapa hari, dia menjadi jujur ​​dan bahkan mencarikan kita lonceng yang menyenangkan untuk dimainkan." Gadis kecil berbaju merah itu tersenyum kepada pria paruh baya tersebut tetapi berjalan mendekati sang kultivator yang berwajah getir. Tanpa ampun, ia ikut menepuk kepala sang kultivator bersama gadis berbaju ungu.

Pria paruh baya itu menyaksikan adegan tersebut dengan pandangan dungu dan tersenyum kecut. Ia bangkit dan membungkuk kepada dua gadis kecil yang sedang asyik bermain itu, ekspresinya tampak sangat serius.

"Mahadewa Gemini!!"

Kedua gadis kecil itu masih terus menepuk kepala kultivator yang dipanggil Serigala Kecil tersebut. Air mata sang kultivator akhirnya tumpah juga.

"Ah, Wa Wa, apakah dia sedang menangis?"

"Dia hanya berpura-pura. Serigala Kecil ini sedang nakal, dia pasti berakting!"

Pria paruh baya itu merasa dirinya akan segera menjadi gila dan membentak kedua gadis kecil tersebut, "Mahadewa Gemini!!!" Suaranya menggelegar bagaikan petir hingga dunia bergetar. Kedua gadis kecil itu akhirnya menoleh dan menatapnya.

"Gu Ya Kecil, apakah kamu juga sedang nakal?" Gadis kecil bernama Wa Wa mengerutkan kening dan menatap pria paruh baya itu.

Pria paruh baya tersebut mengabaikannya, menarik napas dalam-dalam, lalu berkata dengan nada serius, "Mahadewa Gemini, orang ini harus direkrut!"

"Kalau begitu, pergi rekrut dia. Kamu bisa pergi, bawa dia kembali, dan biarkan kami melihatnya." Gadis kecil bernama Han Han melambaikan tangannya dan mencengkeram kultivator bernama Serigala Kecil itu. Kemudian ia menghilang dari kamar batu tersebut bersama satu gadis kecil lainnya.

Pria paruh baya itu ditinggalkan seorang diri di sana. Ia menjambak rambutnya sendiri dengan putus asa dan tersenyum pahit.

Saat cahaya keemasan dari istana kedelapan berpendar di Ujian Mahadewa, Wang Lin terbang menuju istana kesembilan di bawah tatapan seluruh kultivator di bawah sana. Setelah sesaat, ia melangkah masuk tanpa ragu sedikit pun.

Begitu ia masuk, semua kultivator menahan napas dan menatap lekat-lekat ke arah istana kesembilan!

"Istana ketujuh memiliki 63 planet, tetapi istana kedelapan memiliki 81 planet! Istana kesembilan dianggap sebagai puncak dari Eksaltasi Dewa (Empyrean Exalt) dan karenanya kemungkinan besar berisi 99 planet!" Wang Lin melangkah ke dalam istana kesembilan dan menatap sistem bintang di hadapannya.

Di dalam sistem bintang itu, 99 planet tiba-tiba berubah lintasannya dan terbang ke arah Wang Lin. Sembilan di antaranya memancarkan cahaya keemasan yang cemerlang.

Mata Wang Lin menyipit dan ia tidak ragu menggunakan bukan hanya tubuh sejati lima elemen serta tubuh sejati esensi petir, tetapi juga tiga esensi halusnya. Ia mampu memadukan hingga 23 mantra ke dalam tubuhnya, jadi, dengan bantuan tubuh sejati dan esensinya, totalnya saat ini adalah 92 mantra!

Ini adalah batas kemampuan Wang Lin sebelum mengenakan zirah jiwa. Hanya satu pukulan atau satu todongan jarinya saja yang mengandung 92 mantra. Hal ini membuatnya berada sangat dekat dengan batas Maha Dewa Puncak (Ascendant Empyrean).

Ia mengangkat tangan kanannya dan matanya berbinar tajam. Rasa sakit yang luar biasa mendera lengan kanannya saat tangan itu berubah menjadi Bilah Yin, lalu ia menebas ke arah 99 planet tersebut dengan cara paling sederhana yang bisa dilakukan!

Tebasan ini menciptakan 92 bayangan bilah, yang kemudian menyatu menjadi satu sebelum menyapu sistem bintang tersebut.

Gemuruh menggelegar bergema dan 92 dari 99 planet itu tiba-tiba meledak. Sebelum mereka benar-benar runtuh, dua bayangan berhimpit dengan tubuh Wang Lin, lalu tubuh sejati lima elemen dan tubuh sejati esensi petirnya melangkah keluar. Mereka terbang menuju tujuh planet emas yang tersisa.

Tubuh sejati lima elemen itu berkelebat dan berubah menjadi tubuh sejati esensi air, tubuh sejati esensi api, dan tubuh sejati esensi tanah. Masing-masing melesat menyerbu sebuah planet. Tidak jauh dari sana, tubuh sejati esensi petir Wang Lin melepaskan raungan kuat yang menyelimuti keempat planet tersisa. Petir penghancur turun menyambar keempat planet itu hingga akhirnya hancur lebur.

Meskipun ada jeda waktu antara kehancuran 99 planet tersebut, Wang Lin telah mengerahkan kemampuan terbaiknya untuk memperkecil jeda itu secara drastis. Dari kejauhan, ke-99 planet itu tampak meledak secara bersamaan.

Tepat saat mereka meledak, cahaya keemasan menyebar bak gelombang emas!

Di hadapan tatapan banyak orang, istana kesembilan yang telah lama padam itu meletupkan cahaya keemasan yang menyilaukan, membuat para kultivator di bawah terkejut dan diliputi ketidakpercayaan!!

"Dia telah melewati istana kesembilan!! Setelah hari ini, nama Wang Lin pasti akan mengejutkan lima benua utama!"

"Istana kesembilan... Istana kesembilan!! Melewati istana kesembilan berarti mencapai puncak Eksaltasi Dewa dan hanya tinggal satu langkah lagi menuju Maha Dewa Puncak. Mungkinkah hari ini aku akan menyaksikan kelahiran Maha Dewa Puncak yang ke-49?!"

"Aku khawatir semua Mahadewa sedang memperhatikan tempat ini sekarang!!"

Para kultivator di bawah sana terkesiap. Eksaltasi Dewa Zhu Lin menundukkan kepalanya dengan getir.

"Rekan Kultivator Wang Lin, selamat atas keberhasilanmu melewati istana kesembilan!" Entah siapa yang memulai, namun seluruh kultivator di bawah sana serentak menangkupkan tangan ke arah langit.

Gunakan ← → untuk pindah chapter