Renegade Immortal - Chapter 1598 — NovelArc
Request novel bisa langsung di tab request ya, bebas request semua novel dari novelupdates

Chapter 1598 · 7m baca

A Meeting

by Er Gen

Di ambang ajalnya, ia teringat kata-kata seorang sarjana tanpa nama dari ratusan tahun lalu. Kata-kata itu seolah memenuhi benaknya hingga detik-detik terakhir hidupnya, saat ia menjelma menjadi salah satu jiwa utama di dalam bendera jiwa.

Pusat keilahiannya memancar untuk terakhir kalinya di pengujung hidupnya, menyapu ke seluruh Sekte Pemurnian Jiwa. Ia melihat seorang pria yang melarikan diri dari tempat yang jauh dan membaur di antara para murid Sekte Pemurnian Jiwa. Sosok yang berwajah sangat biasa.

Melihat detik itu, pusat keilahian Nian Tian bergetar hebat tidak seperti biasanya. Ia terkejut saat menyadari bahwa orang ini adalah sarjana yang pernah ia ajak berdiskusi ratusan tahun lalu!!

Dengan kebingungan dan spekulasi yang tak terbayangkan, pusat keilahiannya pun buyut. Jiwanya larut menjadi bagian dari bendera jiwa...

Wang Lin dikirim kembali ke kota di Zhao dan berdiri di samping pohon di luar area ujian. Kekayaan Besar masih tertidur pulas di sana. Segala sesuatu yang telah terjadi terasa bagaikan mimpi.

“Karma… aku sedikit memahaminya…” Wang Lin menatap langit dan melihat burung putih itu lagi. Burung putih tersebut berputar-putar di langit sebelum perlahan-lahan lenyap ditelan awan.

Setelah membangunkan Kekayaan Besar, keduanya kembali ke penginapan. Cahaya bulan turun dari langit, memanjangkan bayangan mereka.

Pengumuman peringkat akan dipublikasikan beberapa hari setelah ujian. Para sarjana dengan cemas menanti kedatangan hari itu. Mereka yang masuk dalam daftar peringkat akan memiliki kesempatan untuk mengikuti ujian tahap berikutnya.

Peluang ini adalah pergi ke Kota Su untuk mengikuti ujian di sana dan mendapatkan kesempatan terbang ke langit. Begitu mereka memperoleh gelar Pilihan Su, mereka akan memiliki kesempatan pergi ke ibu kota Zhao untuk perjuangan terakhir mereka!

Jika mereka cukup berbakat untuk mendapatkan apresiasi dari Kepala Sarjana Su, mereka akan langsung menjadi terkenal. Jika mereka bisa menjadi murid Su Dao, kemuliaan yang bisa mereka raih takkan terbayangkan!

Inilah dambaan hampir seluruh sarjana di Zhao.

Kurang dari 50 orang di seluruh kabupaten itu yang memiliki kesempatan pergi ke Kota Su. Meskipun nama Wang Lin tidak berada di puncak daftar, ia termasuk di antara ke-50 orang tersebut.

Saat Wang Lin melihat namanya sendiri, ia tidak merasa gembira. Dengan tenang ia menatap papan peringkat itu dan pergi bersama Kekayaan Besar yang tampak begitu bersemangat dan bangga. Ia pergi ke balai kota untuk mengonfirmasi identitasnya, mendapatkan sertifikasi untuk ujian berikutnya, serta hadiah perak yang dikeluarkan oleh istana kekaisaran.

Hal yang membuat Kekayaan Besar begitu girang bukanlah karena Wang Lin masuk daftar peringkat, melainkan uang perak tersebut.

Pengalamannya selama bulan yang singkat ini tanpa sadar telah mengubah Wang Lin, atau bisa dikatakan, ia memang seharusnya menjadi seperti ini. Mimpi-mimpi itu masih terus mendatangi setiap malam, dan ia telah terbiasa dengannya.

Mentalitasnya telah berubah. Ia tidak lagi merasa tersesat; ia tidak lagi merasa bingung atau khawatir tentang kegagalan ujian.

Apa yang akan didapat tetaplah akan didapat, dan apa yang hilang tetaplah akan hilang.

Tidak ada yang bernilai apa pun, hanya hatinya yang tetap sama. Hatinya setenang air di dalam sumur. Rasanya seperti melihat gunung sebagai gunung, lalu melihat gunung bukan sebagai gunung, dan kemudian melihat gunung sebagai gunung lagi. Dalam waktu yang singkat ini, bahkan ia sendiri tidak menyadari betapa banyak perubahan yang terjadi pada dirinya.

Aura seorang sarjana agung berangsur-angsur terpancar dari tubuhnya. Di antara para sarjana yang tak terhitung jumlahnya, punggungnya yang tegap dan matanya yang tenang menonjol bagaikan sebutir mutiara.

Bagaikan para kultivator yang dengan dingin memandang rendah rekan sesama kultivator!

“Hidup ini bagaikan mimpi. Aku tidak berniat terbangun dari mimpi ini.” Ada banyak sarjana yang merayakan kelulusan dan lebih banyak lagi yang merasa terpuruk saat Wang Lin meninggalkan kota bersama Kekayaan Besar.

Sama seperti saat ia datang, ia pergi dengan tenang.

Kekayaan Besar mengikuti Wang Lin sambil terus menghitung uang perak mereka. Sesekali ia bergumam dan menunjukkan ekspresi penuh penyesalan.

Di gerbang kota, Wang Lin menghentikan langkahnya dan tatapannya tertuju pada sebuah warung anggur tak jauh dari sana. “Kekayaan Besar, sana belikan anggur!” Tiba-tiba ia ingin minum, meskipun ia sempat mabuk berat hanya setelah dua cangkir saja sebelumnya.

“Uang peraknya tinggal sedikit dan kamu masih mau beli anggur?!” Kekayaan Besar memutar bola matanya sambil memegang kain di dadanya dan menggelengkan kepala.

“Uang perak ini apa artinya? Ribuan keping emas bisa dihamburkan, dan mereka akan selalu kembali. Cepat, sana beli anggur!” Wang Lin tersenyum sambil mendorong Kekayaan Besar.

Kekayaan Besar berontak seraya melepaskan desahan panjang. Ia menghampiri warung anggur itu dengan setengah hati dan mulai menawar dengan cara yang membuat Wang Lin tercengang. Ia bahkan menggunakan trik licik, hingga pada akhirnya sang penjual minuman tersenyum masam dan menjual dua kendi anggur kepada Kekayaan Besar dengan harga sangat murah.

Kendati demikian, Kekayaan Besar tetap merasa begitu sakit hati saat mengeluarkan perak tersebut hingga wajahnya mengerut dan ia mulai mengomel.

“Milikku, milikku, itu tadinya milikku!”

Wang Lin tertawa dan mengambil kendi anggur tersebut. Ia meneguknya dalam-dalam hingga air anggur itu mengalir di sudut bibirnya. Kekayaan Besar segera mengikuti dengan ekspresi pahit.

Saat itu hari sudah siang. Keduanya berjalan semakin jauh. Aura kesepian dan kesedihan di sekelompok Wang Lin memudar drastis. Sebagai gantinya, ia tampak begitu lega.

“Tuan Muda, kita mau ke mana?” Suara Kekayaan Besar bergema dari kejauhan.

“Kota Su. Kudengar anggur osmanthus di sana cukup enak. Aku harus menunggu seseorang di sana.” Wang Lin kembali meneguk anggurnya. Ia melepaskan ikatan rambutnya dan membiarkannya terurai di punggungnya sambil tertawa.

Kota Su terletak 250 kilometer di sebelah selatan ibu kota Zhao. Kota ini sangat panjang dan dilalui oleh beberapa aliran sungai. Kota Su adalah sebuah kota sungai.

Kota Su menjadi terkenal karena Su Dao. Kota Su juga merupakan tempat berkumpulnya para talenta, dan di mana ada talenta, di situ tidak akan pernah kekurangan wanita-wanita cantik.

Selalu ada perahu yang hilir mudik melintasi sungai-sungai ini. Nyanyian dan tarian berlangsung siang dan malam, membuatnya sangat meriah. Puisi, tarian yang indah, dan alunan musik petik memenuhi seluruh sudut Kota Su.

Semua kedai anggur yang menjual anggur osmanthus sama terkenalnya dengan para sarjana. Konon para pejabat di ibu kota bahkan mengirim orang khusus untuk memborong anggur osmanthus dari Kota Su.

Kepala sarjana, Su Dao, sangat menyukai anggur ini di masa mudanya dan sering meminumnya sambil merenungkan dunia. Ketika ia menjadi terkenal, anggur osmanthus pun turut melambung namanya.

Perjalanan dua bulan berlalu dalam sekejap mata. Wang Lin dan Kekayaan Besar sedang duduk di dalam sebuah gerobak sederhana dalam perjalanan menuju Kota Su. Wang Lin meminum anggur yang dibelinya di sepanjang jalan dan melihat ke luar. Sesekali tawanya usai mabuk terdengar bergema.

“Tuan Muda, jangan minum lagi. Jumlah anggur yang kauminum ini sungguh mengerikan. Ini baru dua bulan, dua bulan! Lihat sudah seberapa banyak anggur yang kauhabiskan? Hampir seluruh uang perak habis karena kebiasaan minumlah ini!!” Kekayaan Besar berseru, menyuarakan kepedihan hatinya yang teramat sangat.

“Jika kamu terus minum, bahkan saat kita tiba di Kota Su nanti, kita tidak akan punya uang perak lagi untuk menginap di penginapan. Siapa yang menyuruhmu minum, siapa yang menyuruhmu minum sebanyak itu?” Omelan Kekayaan Besar semakin sering terdengar dalam dua bulan ini.

Namun, alih-alih membuat Wang Lin kesal, ia justru merasakan keakraban tersendiri dengan pelayannya itu.

“Tidak apa-apa, kamu kan pelayan dan pengurus rumah tangga. Kalau uang peraknya sudah habis, kamu tinggal pergi mencari tambahan.” Wang Lin tertawa sembari bercanda dengan Kekayaan Besar. Ia meminum anggurnya dan menatap Kekayaan Besar yang memasang ekspresi masam.

Seiring Kekayaan Besar yang terus mengomel, senja pun tiba dan cahaya matahari terbenam memancarkan rona kemerahan. Sinarnya tidak menyilaukan melainkan terasa sangat lembut. Saat gerobak itu terhuyung-huyung melaju, mereka semakin mendekati Kota Su.

Kota Su sangat besar dan tampak begitu megah. Namun, itu hanyalah penampilan luarnya saja. Di dalamnya, kota ini dipenuhi oleh sungai-sungai yang berkelok-kelok dan memancarkan kesan yang begitu elegan.

Setelah membayar ongkos gerobak, Kekayaan Besar menatap sisa uang di telapak tangannya yang tinggal sedikit dan hampir menangis. Sebagian besar uang yang mereka habiskan di jalan adalah untuk membeli anggur yang masuk ke perut Wang Lin.

Toleransi Wang Lin terhadap alkohol tanpa sadar telah meningkat; ia bukan lagi seseorang yang akan mabuk hanya setelah menenggak dua cangkir.

Setelah turun dari gerobak, Wang Lin merapikan pakaiannya. Ia tampak sangat elegan dengan jubah putih dan rambut panjang yang terurai. Sambil memegang kendi anggur di tangannya, aura kesarjanaan di sekelilingnya telah memudar. Aura itu tergantikan oleh rasa kebebasan yang mutlak.

Saat ia berjalan di jalanan Kota Su, ia melihat banyak orang berlalu-lalang di sepanjang jalan. Para pelajar menyumbang lebih dari separuhnya, dan ada pula banyak wanita cantik yang mempercantik pemandangan kota.

Meskipun penampilan Wang Lin biasa saja, perangainya sangat istimewa. Saat ia menyusuri jalan, ia menarik banyak perhatian. Banyak wanita cantik mengarahkan pandangan mereka ke arah Wang Lin. Wang Lin tetap tenang dan terus melangkah maju.

Kekayaan Besar mengekor di belakangnya. Selama dua bulan terakhir ini, ia terus-menerus menunjukkan ekspresi masam. Saat ini pun ia tetap memasang raut serupa dan terus mendesah.

Hari sudah senja di Kota Su, dan cahaya bulan perlahan-lahan mulai muncul. Saat perahu-perahu mengapung di sepanjang sungai, alunan musik dan suasana santai terdengar bersahut-sahutan. Wang Lin berdiri di atas sebuah jembatan, menatap perahu-perahu di sungai sementara musik petik membuai telinganya.

“Tuan Muda, siapa sebenarnya yang sedang kita tunggu?” Kekayaan Besar mencuri pandang ke arah beberapa wanita yang sedang menari di atas perahu. Ia menelan ludah dan matanya berbinar.

Wang Lin tetap tenang dan bergumam, “Menunggu seseorang dari dalam mimpiku. Dia akan datang dan memberiku sebotol anggur. Jika ia muncul, itu akan mengonfirmasi salah satu dugaanku.”

Kekayaan Besar menatap kendi anggur kosong di tangan Wang Lin dan berkata dengan sangat berhati-hati, “Kita akan berdiri di sini menunggu? Mungkin sebaiknya kita cari penginapan murah dulu...” Ia takut Wang Lin akan menyuruhnya membeli anggur lagi.

Wang Lin menggelengkan kepala dan menyunggingkan senyum penuh arti. Ia menatap Kekayaan Besar dan berkata santai,

“Kurasa kita masih punya banyak uang perak, terutama setelah kita mendapatkan hadiah dari ujian...”

“Ada ya? Uh… Lupa...” Kekayaan Besar mengerjap dan memasang ekspresi canggung.

“Keluarkan uang perak yang kausembunyikan itu, belikan anggur osmanthus dan sewa sebuah perahu. Kita akan tinggal di sini selama beberapa hari.” Wang Lin melambaikan lengan bajunya sambil tersenyum dan tidak lagi memandang Kekayaan Besar.

Angin berhembus, memicu riak-riak air yang bergema di permukaan sungai dan menyentuh tubuh Wang Lin. Angin ini terasa lembut dan tidak dingin; membawa sedikit kehangatan. Bersamaan dengan angin itu, terdengar pula alunan melodi petikan kecapi.

Wang Lin bergumam, “Maukah kau datang…”

Gunakan ← → untuk pindah chapter