Angin bergemuruh, petir menyambar, dan hujan turun dengan deras ke bumi. Selubung hujan yang tebal terbentuk di kota, menciptakan riak-riak yang menyebar di permukaannya.
Hujan ini turun sangat deras dan seolah tak ada habisnya, terus-menerus mengguyur. Untungnya, jalan-jalan memiliki saluran air dangkal yang mengalirkan sebagian besar air hujan keluar kota bagaikan sungai yang bermuara ke lautan.
Satu hari penuh berlalu dalam hujan ini. Ketika malam tiba, suasananya tidak semeriah malam sebelumnya. Orang-orang tetap tinggal di dalam rumah dan enggan keluar.
Mustahil melihat awan di malam hari, tetapi kilatan petir yang sesekali menerangi langit memperlihatkan dunia kepada semua orang.
Angin dingin berembus bercampur dengan hujan. Angin dingin melolong, membuat air hujan turun secara miring. Ranting-ranting dengan daun basah yang menggantung di setiap pintu mulai bergetar hebat. Beberapa tidak terikat dengan cukup kuat hingga tali-temalinya putus. Mereka mulai beterbangan ditiup angin bagaikan perahu kesepian di tengah lautan yang ganas.
Beberapa terlempar ke langit, berputar-putar di udara sebelum akhirnya menghilang ke dalam kegelapan. Ada pula yang jatuh ke tanah dan mendarat di dalam kubangan lumpur. Mereka mencoba terbang lagi bersama angin, tetapi kemudian sebuah sepatu bot berlumpur menginjaknya, mendorong mereka kembali ke dalam lumpur… memastikan mereka takkan pernah bisa melepaskan diri lagi.
Petir mulai menderu pada saat itu, dan kilat menerangi kota. Dalam sekejap singkat itu, seseorang dapat melihat seorang lelaki tua mengenakan jubah Tao berdiri di tengah jalan dengan tangan di belakang punggung dan mata bersinar terang bagai obor!
Dia masih berdiri di atas sehelai daun dengan kaki kanannya. Separuh daun itu masih berjuang di dalam air berlumpur saat angin bertiup...
Ada tanda yang aneh di antara kedua alisnya!
Di belakangnya berdiri tujuh kultivator paruh baya dengan tatapan dingin. Dengan lambaian tangannya, ketujuh orang itu langsung mengelilingi lelaki tua tersebut, tangan mereka membentuk mudra. Cahaya samar terpancar dari masing-masing dari mereka, membentuk benang-benang seperti petir yang terhubung ke tubuh lelaki tua itu.
Ini membentuk sebuah bayangan yang tampak persis seperti tato di antara alis sang lelaki tua! Lelaki tua itu menjadi pusatnya dan tujuh pancaran cahaya keluar dari tubuhnya.
Lelaki tua itu memejamkan mata dan tiba-tiba membukanya sesaat kemudian. Begitu dia membuka matanya, cahaya dari tanda sukunya mulai menyebar bagaikan kipas!
Pada saat yang sama, cahaya dari ketujuh orang di sekelilingnya bersinar terang dan berkumpul di dalam tubuh lelaki tua itu, membuat cahaya tanda sukunya bersinar semakin cemerlang!
Saat cahaya dari tanda sukunya menyapu rumah-rumah, pandangan lelaki tua itu tiba-tiba berubah! Rumah-rumah tua dan reyot ini mendadak tampak seperti baru, dan sedetik kemudian, bangunan-bangunan itu berubah menjadi reruntuhan.
Bukan hanya waktu rumah-rumah itu yang berputar balik, bahkan para manusia biasa di dalam rumah-rumah tersebut menjadi lebih muda. Segera, mereka musnah satu per satu seolah-olah tidak pernah muncul di dunianya!
Beberapa orang yang pernah tinggal di sini dan telah lama mati tampak bangkit kembali. Kehidupan mereka berputar di hadapan sang lelaki tua.
Wang Lin masih duduk di dalam rumah. Proses penelanan petir abadi di dalam jiwa asalnya telah mencapai saat-saat krusial. Petir abadi itu mengandung sebuah kehendak yang meronta-ronta dengan panik dan melepaskan raungan menggelegar, sangat mirip dengan suara guntur di luar.
Namun, tidak peduli bagaimana ia mencoba melepaskan diri, ia tetap tidak dapat keluar dari tubuh Wang Lin. Setelah jiwa asal Wang Lin menelan delapan naga petir kuno, ia telah berubah menjadi sebersit petir. Rasanya bagaikan dua sambaran petir abadi yang saling bertarung di awal mula waktu. Hanya satu yang boleh bertahan, hanya satu yang bisa menjadi raja petir sejati!
Namun, tepat pada saat ini, Wang Lin tiba-tiba membuka matanya, dan tatapannya mulai bersinar. Ekspresinya tenang saat dia melambaikan tangan dan segala sesuatu di dalam rumah mulai terdistorsi seperti cermin. Distorsi itu terus berlanjut hingga suara retakan terdengar dan, akhirnya, semuanya hancur berkeping-keping.
Setelah melakukan ini, Wang Lin memejamkan mata dan mengabaikan dunia luar. Dia sekali lagi masuk ke dalam meditasi kultivasi dan memulai langkah terakhir untuk menelan petir abadi tersebut.
Di tengah hujan, lelaki tua berjubah Tao itu perlahan menatap melintasi rumah-rumah. Ketika pandangannya melewati rumah Wang Lin, dia bahkan tidak sedikit pun melirik dua kali. Dia hanya melihat seorang sarjana menghilang di dalam rumah itu dan digantikan oleh sebuah keluarga yang jauh lebih ramai.
Setelah sekian lama, lelaki tua itu telah menyusuri seluruh bagian barat kota. Setelah tidak menemukan apa pun, lelaki tua itu dengan tenang membentuk mudra, menunjuk ke antara kedua alisnya, dan mengeluarkan raungan.
Cahaya dari tanda sukunya menjadi semakin terang, dan ketika lelaki tua itu melihat sekali lagi, kota itu telah lenyap. Waktu terus berputar mundur dan sebuah medan perang kuno muncul di hadapan lelaki tua tersebut. Dua pasukan fana bertempur, mencat bumi menjadi merah gelap.
Lelaki tua itu tiba-tiba memejamkan matanya. Cahaya dari tanda sukunya meredup hingga kembali normal. Ketujuh kultivator di sekelilingnya juga menarik tanda mereka. Kini wajah mereka tampak sedikit pucat.
"Tidak ada kultivator yang bersembunyi di sini, mari kita pindah ke tempat lain!" Lelaki tua itu melambaikan lengan bajunya dan melompat ke udara menembus awan gelap. Saat dia terbang ke kejauhan, ketujuh kultivator itu mengikutinya.
Pemandangan serupa tidak hanya terjadi di berbagai kota, tetapi juga di banyak planet di seluruh Sistem Bintang Kuno!
Begitu Perintah Sistem Bintang Kuno dikeluarkan, setiap klan harus patuh, dan mereka mulai melakukan pencarian mendetail di setiap planet kultivasi dan planet terlantar. Penduduk Sistem Bintang Kuno membentuk jaring raksasa!
Ekspresi Wang Lin tetap netral dan sama sekali tidak berubah ketika mereka pergi; matanya bahkan tidak terbuka. Raungan petir abadi itu semakin melemah, begitu pula dengan perontannya!
Dengan awan yang masih menutupi langit, bahkan hingga kini hujan tampak tidak mereda. Bahkan penjaga malam pun tidak muncul, dan satu-satunya suara yang terdengar adalah deru hujan yang turun.
Dua petir di dalam jiwa asal Wang Lin akhirnya menyatu. Petir abadi itu melepaskan raungan keengganan sebelum sepenuhnya ditelan oleh jiwa asal Wang Lin.
Saat petir abadi itu ditelan, kehendak di dalamnya dimurnikan oleh Wang Lin dan menyatu dengan jiwa asalnya. Dia merasakan jiwa asalnya bergetar, dan esensi petirnya tumbuh dengan kecepatan yang tak terbayangkan.
Pertumbuhan ini mustahil untuk dijelaskan. Hanya esensi petir itu saja yang telah memungkinkan kultivasi Wang Lin menerobos tahap menengah Nirvana Shatterer dan merambah ke tahap akhir!
Saat esensi petirnya bergemuruh, kultivasi Wang Lin akan langsung mencapai tahap akhir Nirvana Shatterer jika dia mengerahkan kekuatan petirnya!
Kekuatan esensi adalah fondasi dari segala ranah. Memperoleh esensi berarti dia telah memahami seluruh hukum petir. Batasan ranah pada kultivasinya telah sirna, dan hal ini belum pernah didengar sebelumnya!
Setelah menelan kehendak petir abadi, pikiran Wang Lin bergemuruh. Kenangan melintas di benaknya. Ini adalah kenangan dari sang kehendak, kenangan dari petir abadi itu sendiri!
Kenangan itu terpecah-pecah akibat berjalannya waktu, sehingga hanya tiga bayangan yang muncul!
Bayangan pertama adalah keruntuhan sebuah sistem bintang. Keruntuhan itu menyebar melintasi tak terhitung banyaknya gugusan bintang dan wilayah bintang, mencakup area yang jauh lebih luas daripada Dunia Internal maupun Eksternal. Keruntuhan ini bagaikan kiamat!
Di tengah keruntuhan tersebut, tak terhitung banyaknya makhluk yang binasa. Wang Lin melihat para kultivator berpakain aneh, monster-monster aneh, makhluk seperti nyamuk raksasa seukuran planet, dan dia bahkan melihat seekor Ji Qiong dengan kepala yang tak terhitung jumlahnya!
Namun, tepat saat dia hendak terus melihat, sebersit petir tampak melesat dengan panik dari kehampaan seolah-olah sedang menghindari sesuatu, dan kilat itu melintas menerobos kehampaan!
Inilah bayangan pertama. Durasinya sangat singkat, namun kejutan yang dibawanya bagi Wang Lin sangatlah besar! Kilatan itu adalah petir abadi!
Namun, kekuatannya berkali-kali lipat lebih dahsyat daripada saat Wang Lin menelannya!
Dalam bayangan kedua, petir itu berenang di telapak tangan seseorang. Orang itu paruh baya dan memiliki tatapan acuh tak acuh. Ada tato bunga di antara kedua alisnya. Bunga itu memiliki tujuh kelopak yang merepresentasikan tujuh warna.
"Sayangnya, petir dewa kehampaan kuno ini tidak akan pernah kembali seperti keadaannya di masa lalu... Lupakan saja, aku akan melepasmu pergi dan melihat seperti apa keberuntunganmu." Lelaki paruh baya itu menggelengkan kepala dan melambaikan tangannya. Petir itu menderu saat ia meluncur turun tanpa henti dan menghilang.
Latar tempat bayangan ketiga berada di puncak kuil Klan Scatter Thunder. Terdapat sebersit petir yang menghubungkan langit dan bumi. Rasanya seolah-olah ia telah ada sejak awal mula waktu dan akan tetap abadi.
Ada delapan kultivator yang melayang di sekitar sambaran petir ini. Salah satu dari kedelapan orang itu adalah seorang lelaki tua, dan dia memiliki tanda petir di antara kedua alisnya!
Ketujuh orang lainnya mengenakan pakaian aneh yang terbuat dari bahan yang tak dikenal. Tampaknya masing-masing dari mereka mengenakan sebuah sungai!
Orang yang berdiri di paling depan jelas adalah pemimpinnya. Bahkan orang dari Klan Scatter Thunder memandang orang ini dengan rasa hormat dan sedikit ketegangan.
Ada garis emas di sekitar tubuh orang itu. Wang Lin merasa kalau garis emas itu sangat familiar!
"Aku tidak menyangka dia akan berada di sini... Sayang sekali, sayang sekali..." Sang pemimpin menggelengkan kepala dan berbalik. Begitu dia berbalik, sebuah gemuruh bergema di dalam benak Wang Lin, pupil matanya menyusut, dan dia tertegun sejenak!
"Dia... Dia adalah..."
Chapter 1365 · 6m baca
Three Images
by Er Gen
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter