Mimpi ini begitu dalam, begitu dalamnya sehingga mustahil untuk memisahkannya dari kenyataan. Di hadapan Wang Lin, terbentang kabut. Beberapa sumber cahaya memanjang di dalam kabut melintas dengan cepat.
Wang Lin hanya berupa jiwa tak kasat mata saat ia mengembara di dunia yang berkabut itu dengan linglung. Ia bergerak perlahan dan lambat laun memudar, hingga suatu hari jiwanya akan benar-benar lenyap dan berhenti eksis. Ia merasa sangat dingin, dan rasa dingin yang hebat menyebar ke seluruh jiwanya.
Ia telah bergerak selama waktu yang tidak diketahui. Tidak ada matahari atau bulan atau bahkan konsep waktu. Tempat itu berbeda dari dunia luar. Saat ia bergerak maju, Wang Lin lambat laun menyadari bahwa cahaya yang bergerak di dalam kabut itu mengandung elemen logam, kayu, air, api, dan tanah.
Cahaya-cahaya itu memberinya perasaan yang sangat akrab, seolah-olah kelima elemen itu sangat dekat dengannya.
"Ini adalah... dunia Manik Penentang Surga..." Satu bulan; dua bulan; tiga bulan, atau satu tahun; dua tahun; tiga tahun... Wang Lin tidak tahu berapa banyak waktu yang telah berlalu, tetapi jiwanya tidak lenyap...
Selama tahun-tahun yang tak terhitung jumlahnya ini, cahaya merah darah yang hangat terkadang datang dari segala arah dan mengusir rasa dingin di dalam diri Wang Lin. Ini lambat laun menutrisi jiwanya, menyebabkannya perlahan-lahan berubah dari transparan menjadi setengah berwujud.
Kebingungan di sekitar Wang Lin perlahan-lahan memudar seiring cahaya darah menutrisi dirinya. Ia melihat sekeliling dan lambat laun mengingat banyak hal, termasuk dunia yang dilihatnya hampir 2.000 tahun lalu.
"Aku mengumpulkan kelima elemen di sini..." Wang Lin merenung dalam diam ketika kebingungan itu memudar. Perasaan bangkit menyelimutinya, hanya untuk mendapati bahwa setelah bangkit, ia masih berada di dalam mimpi.
Ia diam-diam merasakan sekelilingnya dan menoleh ke belakang. Selama waktu pengembaraan yang tidak diketahui ini, ia telah memasuki bagian dalam Manik Penentang Surga. Sekarang ia tidak dapat menemukan jalan kembali.
Bahkan jika ia menemukannya, tidak ada jalan keluar. Ia tampak terjebak di sini dan harus menunggu selama keabadian.
"Wan Er juga ada di sini..." Wang Lin sudah terbiasa hidup kesepian, terbiasa menjadi satu-satunya orang di dunia ini. Ia tidak merasa terganggu di sini.
"Namun, aku ingat kalau aku telah meruntuhkan segalanya. Kenapa aku muncul di sini..." Wang Lin mengerutkan kening saat melihat tubuhnya dan menunjukkan ekspresi pahit.
Ia melihat tubuhnya dalam keadaan setengah transparan. Jelas sekali bahwa ia hanya sehelai jiwa. Ia juga melihat cahaya darah hangat yang datang dari segala arah menutrisi dirinya, memungkinkannya melepaskan diri dari kebingungan dan membuat jiwanya mengambil bentuk.
"Cahaya darah ini adalah..." Wang Lin tertegun saat melihat cahaya darah itu memasuki tubuhnya dan memberinya perasaan hangat. Namun, bagaimanapun juga, ia tidak bisa menebak apa sebenarnya cahaya darah itu...
"Mungkinkah ini kekuatan misterius di dalam Manik Penentang Surga yang dapat menutrisi jiwa?" Wang Lin merenung sejenak. Sepertinya hanya jawaban inilah yang dapat menjelaskan segalanya.
Namun, ia merasa ada sesuatu yang salah. Tepat saat ia hendak memikirkannya lebih jauh, sebuah bisikan tiba-tiba datang dari kejauhan di dalam mimpi ini.
"Di sini... Di sini..."
Mata Wang Lin menyipit. Bisikan ini memasuki telinganya dan berubah menjadi riak yang bergeming di dalam jiwanya. Menatap ke depan, mata Wang Lin bersinar terang.
"Suara ini aneh. Suara ini bisa mengguncang jiwa. Aku adalah pemilik Manik Penentang Surga, jadi aku ingin melihat apa sebenarnya suara ini!"
Setelah merenung sejenak, Wang Lin perlahan bergerak maju.
Ia tidak bergerak cepat, dan karena ia hanya sehelai jiwa, ia bergerak bagai angin sepoi-sepoi yang melayang maju. Ia memasuki kabut dan menghilang.
Wang Lin bergerak semakin cepat. Saat ia maju, ia dengan jelas merasakan darah yang selalu ada di sana. Cahaya darah itu mengejar Wang Lin dan menutrisi jiwanya, membuat perasaan hangat itu semakin kuat dan kuat.
"Apa sebenarnya cahaya darah ini..." Saat Wang Lin maju, ia mengerutkan kening. Ia tidak dapat memikirkan asal-usul cahaya darah ini.
Saat ia maju, kecepatannya lebih cepat daripada kilat. Ia menerobos kabut dengan deru bagai petir. Sekarang ia bergerak berkali-kali lebih cepat daripada saat ia masih kebingungan.
Kabut terdorong ke belakang dan langsung runtuh di hadapan kecepatan Wang Lin. Wang Lin menerobos jalannya. Waktu perlahan berlalu. Satu tahun, dua tahun, tiga tahun...
Wang Lin terus terbang. Ia adalah sehelai jiwa dan tidak menggunakan energi asal. Ini adalah Manik Penentang Surga, dan ia adalah pemiliknya, jadi ia bagaikan ikan di dalam air. Saat ia bergerak maju, kabut menjadi semakin tipis.
Sepanjang tahun-tahun ini, cahaya darah tidak berhenti sama sekali, terus menerus menutrisi jiwa Wang Lin. Hal ini menyebabkan jiwanya tidak lagi transparan; jiwa itu telah berubah menjadi berwujud.
Namun, Wang Lin dapat merasakan bahwa meskipun cahaya darah ini masih hangat, ia melemah dan perlahan-lahan menjadi dingin...
Entah berapa banyak waktu telah berlalu. Saat Wang Lin terbang melintasi tahun-tahun itu, bisikan tersebut terus datang dan menjadi semakin jelas.
"Di sini... Di sini..."
Wang Lin bergerak semakin cepat. Pada hari ini, ia tiba-tiba berhenti dan menatap lurus ke depan. Di hadapannya, di dalam kabut tipis, sebuah pintu penembus surga tiba-tiba muncul!
Wang Lin tidak asing dengan pintu ini, ia telah melihatnya beberapa kali!
Pintu besar ini berdiri di dalam Manik Penentang Surga dan sangat tak bertepi. Siapa pun yang berdiri di hadapannya akan memiliki ilusi bahwa diri mereka hanyalah seekor semut.
Pada saat ini, saat Wang Lin mendekat, pintu batu raksasa itu bergemuruh dan perlahan terbuka. Sebuah celah raksasa terbelah, memunculkan deru bagai petir.
"Di sini... Di sini..." Suara itu datang dari celah tersebut, dan terdengar semakin jelas. Pada jarak yang begitu dekat, suara itu merasuk ke telinga Wang Lin bagaikan riak air dan menyebabkan jiwa asalnya bergetar hebat!
"Itu benar-benar dia!" Pupil mata Wang Lin menyusut saat ia menatap pintu batu itu dan terdiam. Ia sempat memikirkan beberapa dugaan tentang suara tersebut selama beberapa tahun terakhir dan secara alami teringat pada pintu yang muncul dari Manik Penentang Surga itu. Melihatnya sekarang, meskipun ia terkejut, itu adalah sebuah kejutan.
Saat ia terus ditutrisi oleh cahaya darah selama bertahun-tahun, jiwa asalnya menjadi semakin padat, dan ia telah mendapatkan kembali lebih banyak ingatannya. Ia teringat pada giok yang tiba-tiba muncul dalam perkelahiannya dengan Daoist Water!
Ia juga teringat akan apa yang diserukan oleh Daoist Water. Giok itu adalah Giok Alam Tersegel, dan itu adalah benda milik Guru Daoist Water! Wang Lin selalu merasa bingung akan sesuatu, dan sekarang ia samar-samar mendapatkan jawabannya!
Hal yang membuatnya bingung adalah mengapa bocah berambut putih itu ingin membunuhnya. Namun sekarang, setelah ingatannya bangkit dan setelah pertempurannya melawan Daoist Water, Wang Lin telah mengetahui bahwa Guru Daoist Water adalah Penguasa Alam Tersegel dan pemilik terakhir Manik Penentang Surga!
Bocah berambut putih itu jelas telah merasakan aura tuannya dan datang untuk membunuh Wang Lin. Itulah sebabnya, setelah melahap darah Wang Lin, ia berkata, "Bukan reinkarnasi!"!
Kemudian ia menggeledah jiwa Wang Lin demi mendapatkan Manik Penentang Surga. Tujuannya adalah untuk menemukan tuannya dan membunuhnya!
Wang Lin telah melihat melalui semua ini. Itulah sebabnya bocah berambut putih itu begitu khawatir dan menunjukkan ketakutan yang tiada akhir ketika melihat batu giok tersebut!
Penguasa Alam Tersegel jelas belum mati. Ketika ingatan Wang Lin bangkit, ia dengan jelas mengingat bahwa sebuah jari telah keluar dari giok itu. Jari tersebut menancapkan paku tujuh warna ke dalam tengkorak bocah berambut putih itu, menyebabkannya melarikan diri dengan luka parah!
"Di sini... Masuklah... Di sini..." Berdiri di hadapan gerbang batu itu, gumaman tersebut menjadi semakin jelas. Suara itu perlahan menyapu ke depan dan mengubah dunia di dalam Manik Penentang Surga!
Wang Lin tetap tenang saat menatap pintu batu itu dan perlahan berkata, "Siapa kamu?"
Setelah terhening lama, sebuah suara gumaman terdengar. "Aku... Aku adalah Penguasa Alam Tersegel, penguasa Alam Tersegel... masuklah... Aku tidak punya niat jahat... Aku tidak akan menyakitimu..."
Mata Wang Lin bersinar terang. Ia samar-samar merasa ada rahasia yang mengguncang surga di balik pintu itu. Sebuah rahasia yang berkaitan dengan Manik Penentang Surga dan sebuah jalan baginya untuk meninggalkan tempat ini!
Setelah merenung sejenak, Wang Lin tidak lagi ragu-ragu dan terbang menuju pintu tersebut. Ia mendekat dalam sekejap dan melangkah masuk ke celah pintu batu itu!
Laut Awan, wilayah tingkat 2. Ada sebuah benua liar terpencil yang tersembunyi jauh di dalam kabut. Para kultivator jarang datang ke tempat ini, dan tempat itu sangatlah sunyi.
Ada sebuah lembah di benua ini. Li Qianmei sedang duduk di dalam lembah tersebut, dan di hadapannya terdapat sebuah patung jernih bagaikan kristal.
Patung batu itu berlumuran darah, dan darah tersebut berangsur-angsur memudar. Wajah Li Qianmei sangat pucat, tanpa sedikit pun warna darah. Rambut birunya tidak lagi berkilau, dan ia perlahan membuka matanya. Tidak ada cahaya di matanya, yang ada hanyalah kesedihan.
Ia mengangkat tangan kanannya. Kelima jarinya pecah-pecah dan mengering. Ini bukanlah tangan seorang wanita muda, melainkan tangan seorang wanita tua.
Setelah melepaskan koreng yang belum sepenuhnya sembuh, mata Li Qianmei perlahan-lahan berbinar dan dipenuhi dengan tekad. Ia mulai melumuri kembali patung batu itu dengan darah.
Empat tahun telah berlalu. Dalam empat tahun ini, Li Qianmei tidak pernah meninggalkan tempat ini. Ia menemani patung batu itu dalam diam dan menutrisinya dengan darahnya sendiri.
Empat tahun lalu, ia hanya perlu melumuri patung itu dengan darah lalu memiliki waktu 10 jam untuk beristirahat. Empat tahun kemudian, patung batu itu menjadi semakin mengkilap dan membutuhkan lebih banyak darah. Ia harus melumurinya dengan darah sebanyak empat kali sehari, dan waktu istirahatnya menjadi kurang dari empat jam...
"Aku akan membangkitkanmu..." Li Qianmei menatap patung batu itu. Tidak ada air mata yang keluar dari matanya. Yang ada hanyalah retakan yang terbentuk akibat air mata yang terus mengalir. Selama empat tahun ini, ia telah bertanya pada dirinya sendiri berkali-kali: apakah semua ini... sepadan...
Chapter 1283 · 6m baca
Lord of the Sealed Realm
by Er Gen
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter