Semua berkultivator Laut Awan telah musnah berkeping-keping. Hanya sesepuh berjubah ungu terakhir yang memuntahkan darah setelah keruntuhan kedua yang dengan putus asa mencoba melarikan diri.
Dia ketakutan, benar-benar ketakutan setengah mati!
Mata Wang Lin menyipit, tangan kanannya melambai, dan sungai api melesat ke arah pria tua itu. Wang Lin mengalihkan perhatiannya dari pria tua itu dan mendongak. Nyala api hukuman ilahi telah turun dari awan hukuman ilahi.
"Api..." Ekspresi Wang Lin tetap tenang dan senyum terukir di wajahnya. Saat api itu turun, Wang Lin menunjuk ke arahnya dengan tangan kanannya!
Dalam sekejap, sesosok api muncul di mata kirinya dan zirah merah menyala melingkupi tubuhnya. Dari kejauhan, Wang Lin tampak seperti mengenakan kobaran api.
Jubah putihnya berkibar di belakang bersama rambut putihnya, dan terdapat pula burung Vermillion putih pada zirahnya. Wang Lin menerjang lurus ke arah api surgawi.
Dia langsung menerobos masuk ke dalam api surgawi itu, dan lidah api yang mendekatinya langsung diserap oleh zirahnya. Burung Vermillion melompat keluar dari zirahnya dan melepaskan pekikan nyaring.
Burung Vermillion itu tampak sedang menari di tengah-tengah kobaran api surgawi.
Hukuman ilahi berupa api surgawi ini adalah sesuatu yang sanggup ditahan oleh Wang Lin!
Dia mengangkat kepalanya menatap langit dengan tatapan penuh tantangan. Wang Lin telah mengalami banyak hukuman ilahi dan selalu berakhir dalam kondisi mengenaskan sesudahnya. Dia hampir terbunuh berkali-kali, namun dia tidak pernah menyerah. Hari ini, dia mengendalikan api sekaligus petir, dan sifat membangkang yang selama ini tertekan di dalam dirinya kembali meletus.
Hukuman ilahi ini adalah manifestasi dari Dao surgawi. Jika seseorang ingin menentang surga, pertama-tama dia harus menentang hukuman ilahi dari surga itu sendiri!
Gemuruh hebat bergemuruh dari awan hukuman ilahi saat Wang Lin menatapnya dengan tatapan menantang. Seolah-olah keperkasaan surga telah dilecehkan, awan-awan itu bergolak hebat dan murka surga turun dari angkasa!
Ini bukan pertama kalinya Wang Lin merasakan murka surga; dia telah mengalaminya dua kali sebelumnya. Siapa pun yang berani meronta di hadapan murka surga pasti akan dihancurkan.
Namun, Wang Lin bukan hanya tidak mundur, dia justru tertawa.
"Hukuman ilahi api, hukuman ilahi petir, hukuman ilahi ilusi, hukuman ilahi kemurkaan, apakah tidak ada yang lain selain keempat hal ini?" Wang Lin menghadap ke langit dan sama sekali tidak bergeming di bawah tekanan murka surga!
Selesai dia berucap, surga merespons, dan tekanannya meningkat hingga lebih dari seratus kali lipat. Ruang di sekitar Wang Lin mulai berdistorsi seolah-olah ada kekuatan tak kasat mata yang merobeknya.
Tubuh Wang Lin langsung merosot belasan kaki ke bawah akibat tekanan tersebut. Suara retakan terdengar dari zirahnya, namun kepalanya tetap mendongak tinggi!
Dia melambaikan tangan kanannya. Di kejauhan, sungai api melilit mayat sesepuh yang hangus terbakar itu dan menariknya kembali beserta jiwa asalnya.
Sesepuh dari Laut Awan itu telah terluka parah. Bola petir hukuman ilahi saja sudah cukup untuk membuat tubuhnya hancur, namun dia masih mampu menahannya. Kemudian, jurus Gunung Runtuh melukainya lebih parah lagi, menyebabkan tingkat kultivasinya merosot drastis. Dia kini hanya memiliki kekuatan kultivator Pembersih Nirvana tahap awal.
Karena dikelilingi oleh sungai api, jiwa asal sang sesepuh melemah, tetapi saat sungai api itu kembali ke arah Wang Lin, mata sesepuh itu tiba-tiba terbuka lebar. Jiwa asalnya kemudian mengembang bagai orang gila, memungkinkannya melepaskan diri dari sungai api tersebut, lalu dia menerjang ke arah Wang Lin!
"Mati untukku!!" Ini adalah raungan terakhir dalam hidup pria tua itu. Dia mendekati Wang Lin dengan dipenuhi niat membunuh.
Wang Lin mendengus dingin, lalu tangan kanannya membentuk gestur telapak tangan dan menghantamkannya ke arah jiwa asal tersebut. Energi asal di dalam gugusan bintang berkumpul secara gila-gilaan membentuk cetakan telapak tangan raksasa, lalu menghantam jiwa asal pria tua itu.
Ekspresi pria tua itu berubah drastis dan dia berteriak, "Ini... Cetakan Jiwa Bela Diri dari Sekte Jiwa Tingkat 9!!" Tepat saat pria tua itu meneriakkan kata-kata ini, cetakan telapak tangan itu menghantam jiwa asalnya dan melemparkannya kembali ke dalam sungai api.
Gemuruh menggelegar bergema dan jiwa asal pria tua itu langsung hancur lebur!
Tanpa waktu untuk memikirkan ucapan pria tua itu, tangan kanan Wang Lin membentuk segel dan menunjuk ke arah sungai api. Sungai api itu dengan cepat melesat ke atas kepala Wang Lin dan menjelma kembali menjadi sebuah gunung. Namun, gunung ini dipenuhi dengan retakan, dan cahaya merah yang memancar dari celah-celah tersebut menerangi sekeliling.
Pada saat ini, murka surga menjadi semakin kuat dan menekan turun. Wajah Wang Lin sedikit memerah, tetapi dia tertawa, mendorong kedua tangannya ke atas, dan meraung, "Gunung Runtuh, hancurkan surga!"
Gunung besar di atas Wang Lin tiba-tiba melesat ke atas, menciptakan suara siutan yang tajam. Wang Lin terbang menyusul tepat di belakang gunung tersebut. Tangannya mendorong bagian bawah gunung itu seolah-olah dia sedang mendesaknya langsung ke dalam awan hukuman ilahi!
Saat suara siutan bergema, tekanan dari murka surga menjadi ratusan kali lipat lebih kuat. Sewaktu Wang Lin mendorong gunung itu ke atas, gunung tersebut mulai runtuh. Serpihan-serpihan yang hancur tidak mampu menahan keperkasaan surga dan tergilas menjadi debu.
Kendati demikian, Wang Lin tidak berhenti bergerak maju, dia bahkan melesat lebih cepat lagi. Dia melepaskan raungan saat mendorong gunung itu ke atas, semakin mendekati awan hukuman ilahi.
Dia semakin dekat dan semakin dekat!
Rambut Wang Lin berkibar dan zirah di tubuhnya terus menerus berderak seolah tak sanggup menahannya lagi. Suara gesekan tulang terdengar dari dalam tubuh Wang Lin, dan pembuluh darah di wajahnya menonjol keluar.
Namun, Wang Lin sama sekali tidak memedulikan semua itu. Yang dia inginkan adalah tekad pemberontakan. Dia telah menghadapi hukuman ilahi berkali-kali, dan dia selalu berada dalam posisi pasif di setiap kesempatan tersebut. Kali ini, Wang Lin ingin melawan balik!
Saat jaraknya semakin dekat, sebagian besar gunung itu runtuh menjadi debu. Pada akhirnya, seluruh gunung hancur total menjadi debu.
Meskipun gunung itu telah runtuh, jiwa gunung tersebut masih tetap ada!
Setelah semua bebatuan hancur berkeping-keping, Wang Lin kini tengah menggenggam sebuah gunung berapi. Meskipun alih-alih sebuah gunung, wujudnya lebih menyerupai kobaran api berbentuk gunung.
Pada saat ini, Wang Lin berada dalam jarak 100.000 kaki dari awan hukuman ilahi. Murka surga tiba-tiba meningkat tajam. Retakan muncul di ruang hampa di bawahnya, dan energi sedingin es yang tiada akhir menyembur keluar dari celah-celah spasial tersebut.
Bahkan gunung api yang didorong oleh Wang Lin meredup, seolah-olah hendak padam di bawah hantaman murka surga.
Wang Lin melampiaskan raungannya, lalu dia melambaikan tangan kanannya dan energi asal di dalam tubuhnya mendorong gunung api itu menuju awan hukuman ilahi di atas!
100.000 kaki... 90.000 kaki... 80.000 kaki... 50.000 kaki!
Saat gunung api itu berada dalam jarak 50.000 kaki dari awan hukuman ilahi, gemuruh menggelegar meledak dari dalam awan. Pada akhirnya, gunung tersebut tidak mampu menembus awan hukuman ilahi dan padam di tengah hantaman gelombang kejut.
Tanpa adanya gunung api, tidak ada lagi halangan antara surga dan Wang Lin. Wang Lin dipenuhi dengan rasa penasaran yang membara sekaligus keengganan untuk menyerah. Hanya 50.000 kaki lagi... jika saja dia bisa melewati jarak 50.000 kaki ini, dia bisa menyerang awan hukuman ilahi itu secara langsung!
Seiring turunnya tekanan, kobaran api menyala di mata kirinya dan petir mengerikan berkilat di mata kanannya. Petir dari tangan kanannya mengalir di sepanjang lengannya dan membentuk bola petir di atas telapak tangan kanannya.
Pada saat yang sama, nyala api dari mata kirinya merambat di sepanjang lengan kirinya dan bola api putih muncul di atas tangan kirinya!
"Petir surgawi, patuhi perintahku sebagai naga petir purba dan berkumpullah!" Wang Lin melayang di udara dan meraung. Seekor naga petir purba raksasa muncul di belakang Wang Lin. Matanya dipenuhi dengan niat menentang surga dan ia melepaskan raungan dahsyat! Segala petir tiba-tiba bermutasi dan mulai berkumpul di telapak tangannya.
Area dalam radius 10.000 kaki dari Wang Lin diselimuti oleh sambaran petir, tampak bagaikan neraka petir. Kilatan petir tanpa akhir meliuk-liuk bagaikan sekumpulan ular.
Yang lebih mencengangkan lagi adalah ketika Wang Lin menggunakan tangan kanannya untuk mengendalikan petir, sambaran petir dalam jumlah tak terhitung justru melesat keluar dari awan hukuman ilahi menuju tangan kanannya.
Pada detik ini, Wang Lin seolah sedang bersaing dengan surga untuk memperebutkan kendali atas petir!
Dia bertarung melawan surga demi hak mengendalikan petir! Saat gemuruh menggelegar bergema, lebih banyak petir ditarik keluar dari awan hukuman ilahi. Satu gemuruh menggelegar lagi meledak dari awan hukuman ilahi, dan sambaran petir yang tengah turun mendadak terhenti. Mereka tampak seolah hendak ditarik kembali ke dalam awan.
"Dao surga, hukuman ilahi! Jika memang ada surga, dan jika surga ingin menghancurkanku, aku akan menghancurkan surga! Aku, Wang Lin, tidak mempercayai Dao surga ataupun hukuman ilahi. Apa yang disebut Dao surga tidak lebih dari Dao surga yang menobatkan dirinya sendiri, dan apa yang disebut hukuman ilahi tidak lebih dari hukuman ilahi yang diciptakannya sendiri!!" Melihat kilatan petir itu kembali ditarik ke dalam awan hukuman ilahi, Wang Lin mengepalkan tangan kirinya.
"Api surga, patuhi perintah burung Vermillion-ku: berkumpullah!" Dalam sekejap, sejumlah besar api putih muncul di samping naga petir purba dan berubah menjadi burung Vermillion raksasa. Burung Vermillion itu membentangkan sayapnya dan melepaskan pekikan nyaring!
Lautan api tiba-tiba muncul dari ketiadaan dan berkumpul menuju tangan kiri Wang Lin. Pada saat yang sama, gelombang api dalam jumlah besar menyembur keluar dari awan hukuman ilahi dan melesat menuju bola api di tangan kiri Wang Lin.
Dia tidak hanya bersaing dengan surga untuk urusan petir, dia juga hendak menandingi surga dalam menguasai api!
Jika kultivator lain melihat pemandangan ini, mereka pasti akan sangat terkejut. Saat ini Wang Lin memegang bola petir di tangan kanannya dan bola api di tangan kirinya. Selain menyerap energi asal, dia secara terbuka merebut kekuasaan dari awan hukuman ilahi.
Raungan dari awan hukuman ilahi terdengar semakin jelas, lalu kabut darah mengepul keluar dari dalam sana. Inilah jenis hukuman ilahi kelima: hukuman ilahi darah!
Saat kabut darah itu muncul, Wang Lin tiba-tiba mendongakkan kepalanya dan melesat bagaikan anak panah. Dia menerjang ke arah awan hukuman ilahi dengan membawa bola petir selebar 1.000 kaki dan bola api berukuran serupa!
50.000 kaki... 40.000 kaki... 30.000 kaki... 10.000 kaki!! Wang Lin semakin mendekati awan hukuman ilahi. Tepat saat jaraknya berada dalam radius 10.000 kaki, kabut darah itu pun tiba.
Chapter 1107 · 7m baca
Battling Against Heaven
by Er Gen
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter