Leon mendapati dirinya berdiri di dalam sebuah ruangan besar yang tampak hampir persis seperti tempat ia bertarung melawan [Murid Dewa Sihir].
Aritekturnya sama, dengan pilar-pilar batu tinggi yang diukir dengan ukiran kuno, menjulang ke arah langit-langit yang tampak mustahil tingginya.
Dindingnya dihiasi pola-pola yang memancarkan cahaya redup dari mana yang tertidur.
Untuk sesaat, pikirannya tertuju pada Emilia.
Ia berharap gadis itu berhasil keluar dengan selamat dan tidak terjadi hal-hal tak terduga setelah gerbang itu tertutup.
Namun, mengkhawatirkannya sekarang tidak akan mengubah apa pun.
Aturan sebuah [Alam Rahasia] bersifat mutlak. Jika hanya satu orang yang diizinkan masuk, maka tidak ada cara untuk mengubahnya.
Ia mengembuskan napas perlahan dan memusatkan perhatian pada sekelilingnya.
“[Alam Rahasia] yang belum pernah diselesaikan oleh siapa pun.” Ia menggumamkan kata-kata itu di dalam hati, mencoba memahami alasannya.
Ia tahu dirinya jauh lebih kuat daripada sebagian besar pemain pada levelnya saat ini.
Bakatnya, pengalamannya dari kehidupan masa lalunya, dan pertempuran terus-menerus melawan musuh-musuh yang levelnya lebih tinggi telah menempatkannya jauh di atas standar normal.
Namun, masih ada orang-orang kuat di [Domain Rendah].
Kendati demikian, tak seorang pun dari mereka yang berhasil menamatkan tempat ini?
Ia mempertimbangkan situasinya.
[Alam Rahasia] khusus ini tidak dikenal secara luas.
Tempat itu tersembunyi di balik berlapis-lapis syarat.
Banyak pemain kuat mungkin tidak pernah menemukannya sebelum naik ke [Domain Tinggi].
Begitu seseorang naik tingkat, mereka tidak dapat kembali ke [Domain Rendah].
Hal itu saja sudah berarti bahwa tak terhitung banyaknya penantang potensial yang kehilangan kesempatan bahkan tanpa menyadarinya, termasuk dirinya.
Meski begitu, Leon merasa gelisah.
Ruangan itu sangat luas, terbentang ratusan meter di depannya.
Namun, hal yang langsung menarik perhatiannya adalah sebuah pedestal tunggal yang terletak di ujung ruangan.
Pedestal itu berdiri sendiri, diterangi oleh cahaya ungu samar. Di atas pedestal tersebut tergeletak sebuah buku.
Aura di sekitarnya terasa pekat dan menakutkan, memancarkan gelombang mana yang bergolak di udara.
‘Sebuah [Buku Keterampilan]?’ pikirnya, ‘Itu pasti hadiahnya.’
[Alam Rahasia] memiliki struktur yang sangat beragam.
Beberapa bisa sangat panjang, membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk diselesaikan, tetapi dengan tingkat kesulitan sedang.
Di sisi lain, ada pula tempat seperti yang Leon masuki ini yang ukurannya sangat kecil tetapi memiliki tingkat kesulitan yang mustahil.
Meski begitu, ia meragukan tempat ini sepenuhnya tidak masuk akal di dalam [Domain Rendah]. Pasti ada cara untuk menyelesaikannya.
Ia mulai berjalan menuju pedestal tersebut.
Peningkatan Penglihatan!
Kemampuan itu langsung aktif, mempertajam persepsinya.
Ukiran di dinding menjadi lebih jelas. Fluktuasi mana yang tipis di udara menjadi lebih mudah dideteksi.
Ia bersiap menghadapi penyergapan kapan saja.
Namun saat ia melangkah maju selangkah demi selangkah, tidak terjadi apa-apa.
Satu menit penuh berlalu. Ia sudah berada di tengah-tengah ruangan.
Leon tidak menurunkan kewaspadaannya. Jika setiap pemain yang memasuki tempat ini tewas, maka sesuatu sedang menantinya.
Kesunyian itu sendiri sudah mencurigakan. Dan akhirnya, ia mencapai pedestal tersebut.
Buku itu berada tepat di hadapannya. Ia menatapnya.
“Itu tidak mungkin benar,” gumamnya.
Penilaian!
Sebuah panel muncul di depan matanya.
[Buku Sihir Terlarang (???): Memungkinkan pengguna untuk mempelajari “Sihir Terlarang”.]
Ekspresi Leon membeku. [Sihir Terlarang] bukanlah kemampuan biasa.
Kemampuan itu tidak memiliki peringkat. Kekuatan mereka begitu luar biasa hingga berada di luar sistem klasifikasi normal.
[Dewa Sihir] dan pelayan setianya masing-masing memiliki setidaknya satu [Sihir Terlarang].
Sihir-sihir itu mampu memusnahkan kota, mengubah bentang alam, dan menghancurkan pasukan dengan satu kali pelafalan.
Dan seperti yang bisa diduga, jika ada [Sihir Terlarang], maka secara alami ada juga [Keterampilan Terlarang], meskipun kesempatan untuk mendapatkannya hampir tidak ada.
Panel tersebut tidak merinci [Sihir Terlarang] apa yang terkandung di dalam buku itu.
Bisa jadi acak. Bisa jadi menyesuaikan dengan penggunanya, mirip dengan [Buku Keterampilan Afinitas].
Jantung Leon berdegup sedikit lebih kencang.
Jika ia bisa mempelajari sihir dengan tingkat sebesar itu, kekuatannya akan melonjak ke level yang sepenuhnya berbeda.
Ia mengulurkan tangannya ke arah buku tersebut. Udara di sekitarnya terasa padat, seolah menolaknya.
Jarinya tinggal beberapa inci lagi menyentuh sampulnya ketika sebuah suara bergema di seluruh ruangan.
“Tidak layak.”
Mata Leon terbelalak ke atas.
Sesosok figur transparan melayang di atas pedestal, wujudnya berkedip-kedip bagaikan cahaya yang terdistorsi.
Ia tidak ragu-ragu.
Penghalang Kegelapan!
Sihir itu terbentuk di sekelilingnya dalam sekejap. Detik berikutnya, buku itu meledak.
DUARR!
Sebuah gelombang kejut yang dahsyat meledak keluar, menghantam Leon dan melemparkannya ke belakang sejauh puluhan meter.
Penghalang kegelapan itu hancur berkeping-keping akibat benturan tersebut, retakan menyebar di permukaannya sebelum akhirnya larut sepenuhnya.
Ia terhempas ke lantai batu namun berhasil memutar tubuhnya untuk berdiri seketika.
Jika ia tidak bereaksi tepat waktu, ia pasti sudah tewas di tempat.
Saat asap mulai memudar, Leon menatap sosok yang melayang di dekat pedestal tersebut.
Dan saat ia melihatnya… ia mengerti mengapa tidak ada seorang pun yang berhasil menamatkan [Alam Rahasia] ini.
“Aku tidak menyangka orang lain akan menemukan tempat ini,” kata sosok itu dengan suara tenang dan geli. “Tapi kurasa itu tidak bisa dihindari.”
Makhluk itu berdiri dengan tinggi setidaknya tiga meter. Tubuhnya setengah transparan, namun keberadaannya terasa lebih berat daripada apa pun yang pernah Leon temui sejauh ini dalam hidupnya.
Penilaian!
[Jejak Dewa Sihir, ??? (Bos Alam)]
[Level: ???]
[Kekuatan Tempur: 250.000]
[Rincian: Jejak dari “Dewa Sihir” asli yang ditempatkan di sini untuk melindungi “Buku Sihir Terlarang”.]
Leon tidak kuasa menahan desisan pelan.
Dua ratus lima puluh ribu kekuatan tempur. Itu hampir dua kali lipat kekuatannya sendiri.
Dan itu bukan sembarang musuh. Itu adalah jejak dari [Dewa Sihir].
Artinya, meskipun itu adalah versi yang jauh lebih lemah… itu tetaplah sesuatu yang ditempatkan oleh [Dewa Sihir] itu sendiri.
‘Pada dasarnya… secara teknis aku sedang melawan seorang Dewa.’
Ini adalah pertama kalinya dalam hidup ini ia berhadapan langsung dengan sesuatu yang terhubung dengan otoritas ilahi, selain patung-patung di [Aula Ilahi] selama penilaian pertama.
“Tidak seorang pun pernah berhasil menghiburku,” kata jejak itu dengan senyum tipis. “Kuharap kau berbeda.”
Sebuah tongkat sihir terwujud di tangannya, terbentuk sepenuhnya dari mana yang memadat.
Aura Menindas!
Ruangan itu bergemetar. Gelombang kehadiran yang menghancurkan memenuhi ruangan seketika.
Kehadiran itu menekan Leon dari segala arah, menyesakkan dan berat.
Siapa pun yang lain pasti sudah berlutut, tidak mampu bernapas, tidak mampu berpikir jernih.
Emilia pun akan kesulitan di bawah tekanan ini.
Sebagian besar pemain pasti sudah lumpuh karena ketakutan. Namun Leon berdiri teguh.
Kemampuan pasif dari gelar [Surgawi] miliknya aktif secara otomatis.
Tak Tergoyahkan!
Rasa takut yang mencoba merasap ke dalam pikirannya dihapuskan sebelum sempat berakar.
Sinar Darah!
Ia tidak membuang waktu.
Sebuah sinar merah pejam memancar dari tongkatnya, ditenagai oleh sub-bakat S-Level miliknya, [Raja Darah], serta Atribut Spirit-nya yang baru saja berlipat ganda.
Sinar itu merobek ruangan melesat menuju sosok yang melayang tersebut.
“Tidak terpengaruh?” jejak itu sedikit memiringkan kepalanya, tertarik. “Menarik.”
Penghalang Batu!
Lantai batu terangkat seketika, membentuk dinding tebal yang mencegat [Sinar Darah] tersebut dan menyerapnya sepenuhnya.
Mata Leon menyipit.
Sihir itu cukup kuat untuk merobek bos tingkat tinggi.
Dan sihir itu telah diblokir begitu saja dengan santainya.
Ini adalah [Dewa Sihir]. Dalam hal sihir, tidak ada yang melampauinya.
Bahkan Emilia, dengan pengali Spirit-nya yang luar biasa, kemungkinan besar akan kesulitan melawan makhluk ini.
Faktanya, mungkin tidak ada satu pun entitas di seluruh [Kenaikan Abadi] yang mampu menyaingi [Dewa Sihir] dalam penguasaan sihir murni.
Secara logika, ini adalah pertarungan yang pasti kalah.
Atau setidaknya akan menjadi seperti itu, jika Leon tidak memiliki sesuatu di luar logika.
Ia mempererat genggamannya pada senjatanya.
‘[Kekuatan Surgawi] adalah satu-satunya peluanngku.’
Jika ia tidak bisa mengalahkan jejak ini, tiruan pucat dari dewa sejati ini, maka ia tidak akan pernah bisa berdiri melawan yang asli.
“Bertekad?” tanya jejak itu sambil tersenyum menyeringai. “Baiklah. Tunjukkan padaku apa yang bisa kau lakukan. Jika kau menghiburku, [Buku Sihir Terlarang] itu adalah milikmu.”
Leon tidak menjawab. Ia hanya fokus.
Spirit-nya melonjak. Mananya bersirkulasi dengan efisiensi maksimal.
Ini bukan sekadar bos biasa. Ini adalah ujian yang ditempatkan oleh seorang dewa. Dan Leon berniat untuk lulus.
Chapter 114 · 5m baca
The Forbidden Spell Book, The Trace of God of Magic
by Champion_Dreamer
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter