Lin Hai segera menelan Pil Kebangkitan itu.
Begitu pil tersebut menyentuh bibirnya, dia sudah bisa merasakan kehangatan luar biasa mengalir melalui pembuluh darahnya. Setiap jengkal tubuhnya dibanjiri oleh rasa bahagia, dan sensasi ajaib ini membuat tubuh Lin Hai mengalami perubahan besar.
Hanya dalam beberapa detik singkat itu, indra Lin Hai bertransformasi. Mereka menjadi sangat peka. Aliran angin dan gemerisik rumput di sekitarnya seakan berada di bawah kendalinya. Dia bisa merasakan belaian lembut angin, seolah menyambut perubahan besar ini. Angin itu terasa hidup, berdetak gembira di sekitar Lin Hai.
Ketika evolusinya berakhir, Lin Hai merasa tubuhnya kini sekuat banteng, dipenuhi dengan kekuatan tanpa batas. Dia begitu percaya diri dengan kekuatan barunya itu, hingga dia yakin jika dia meninju dinding, dia bisa menghancurkannya dengan sangat mudah.
[Apakah aku baru saja berubah menjadi Superman?!] pikir Lin Hai terkejut.
"Sialan! Akan kubunuh kau!" Si Kepala Botak Qiang mendekati Lin Hai dan hendak mengulurkan tangannya.
"Tunggu sebentar!" Seorang pria muncul dari belakang Si Kepala Botak Qiang.
"Zhao Lei?" kata Lin Hai dengan mata menyipit. Dia memerhatikan bahwa di sisi Zhao Lei berdiri Wang Ting, yang sedang memasang senyum sinis dingin.
"Qiang Ge, ada terlalu banyak orang di sini..." Zhao Lei melirik ke sekeliling para penjual yang sibuk.
"Ah, benar... Aku tidak menyadarinya..." Si Kepala Botak Qiang menggaruk kepalanya dan memerintahkan, "Bawa dia pergi." Bahkan Si Kepala Botak Qiang sendiri tidak berani bertindak terlalu arogan di tempat ramai seperti ini.
"Mau bawa aku ke mana?" gerutu Lin Hai, pura-pura ketakutan.
"Kau akan tahu setelah sampai di sana. Bergerak!" Dua anak buah maju dan mendorong Lin Hai.
Sepuluh menit kemudian, Lin Hai dibawa ke tempat sepi oleh anak buah Si Kepala Botak Qiang.
"Keparat, kau hampir saja mengibuliku. Untung saja pacar Zhao menunjukkan fotomu kepadaku!" Si Kepala Botak Qiang menunjuk Lin Hai dan membentak.
[Wang Ting, kau... haha... berbalik melawanku lagi?]
Hati Lin Hai menjadi dingin, disertai sedikit rasa sakit karena kenangan masa lalu.
Pada saat ini, Zhao Lei tertawa bangga, mengeluarkan sebatang rokok, dan berjalan menghampiri Lin Hai langkah demi langkah. Sementara itu, Wang Ting bergelayut di lengannya dengan memamerkan kebanggaan seolah keluar sebagai pemenang.
Zhao Lei membuka mulutnya dan mengembuskan kepulan asap ke wajah Lin Hai dengan sangat arogan. "Bocah, kau sangat sialan sombongnya! Berani-aninya kau menyuruhku, ayahmu ini, untuk menggonggong seperti anjing." Kata Zhao Lei sambil mengangkat tangannya dan mengayunkannya ke wajah Lin Hai.
Namun, sebelum kulit mereka bersentuhan, ‘Plak!’ Lin Hai mencengkeram pergelangan tangan Zhao Lei lalu memutarnya.
"Argh! Sakit, Hentikan! Apa kau mau membunuhku, keparat?" Zhao Lei langsung membungkuk dan merintih.
Ekspresi wajah Wang Ting berubah dingin dengan cepat saat dia berteriak, "Lin Hai, lepaskan Kakak Lei!"
Lin Hai melirik Wang Ting dengan tatapan acuh tak acuh yang dingin; kosong dari emosi yang dimilikinya sebelumnya.
"Keparat! Lepaskan Pangeran Zhao, atau kalau tidak..." Si Kepala Botak Qiang memasang sikap sok kuat namun juga merasa cemas. Dengan Zhao Lei berada di tangan Lin Hai, dia merasa seperti keluarganya sedang disandera.
Lin Hai terkekeh menatap Si Kepala Botak Qiang, "Nah, jika kau ingin melindungi tangan ini, maka kau harus mulai dengan belajar bagaimana menggonggong tiga kali seperti saudaramu di bawah sini."
Si Kepala Botak Qiang, tampak tidak bisa memahami apa yang baru saja didengarnya, bertanya lagi, "Lin Hai, apa yang kau..."
"Apa?" Tiba-tiba, Lin Hai, untuk menegaskan maksudnya, mengerahkan sedikit lebih banyak tenaga pada tangannya, "Maafkan aku, sepertinya pendengaranku memburuk setelah kau membentakku tadi."
"Sialan!" Zhao Lei berteriak mengenaskan, "Gonggonglah! Demi Tuhan! Cepat gonggong saja!"
Si Kepala Botak Qiang menyadari bahwa tidak ada jalan keluar dari situasi ini, lalu melakukan apa yang diperintahkan, "Guk, guk, guk!"
"Wah, dia benar-benar berhasil melakukannya. Dia cukup cerdas. Hei, kurasa dia punya potensi yang bagus untuk jadi anjing," sindir Lin Hai dan dengan cepat beralih ke Wang Ting, "Dia juga harus belajar."
Lin Hai telah memutuskan untuk tidak melepaskannya, [Wanita ini, masa lalu yang kita miliki bukan saja tidak ada artinya baginya, dia bahkan masih berusaha menjerumuskanku di setiap kesempatan yang ada.]
"Lin Hai, kau benar-benar bajingan sakit!" Wang Ting berteriak histeris.
"Aku dengar mulutmu bergerak tapi sepertinya tidak ada suara gonggongan. Hmmm..." Lin Hai mengangguk dan mengerahkan lebih banyak tenaga pada tangannya.
"Ya Tuhan! Sayang, lakukan saja dengan cepat!" Rintihan Zhao Lei terdengar sekali lagi. Rasa sakitnya begitu hebat hingga seluruh tubuhnya hampir jatuh ke lantai.
"Guk, guk, guk!" Wang Ting tidak berani menentang Zhao Lei dan ikut menggonggong. Namun, sebelum melakukannya, dia menatap Lin Hai dengan tatapan penuh kebencian.
"Bagus sekali." Lin Hai mengulurkan tangan dan menepuk wajah Zhao Lei yang berkerut karena kesakitan.
"Ingat ini, tanpa kekuatan, jangan pernah cari gara-gara dengan orang lain di masa depan! Kecuali jika kau ingin membayar harga yang mahal." Setelah memberikan peringatan terakhir, Zhao Lei didorong hingga jatuh ke tanah.
"Keparat! Bunuh dia!" Zhao Lei bangkit dari tanah dan buru-buru bersembunyi di balik Si Kepala Botak Qiang.
Seorang pria berambut pirang tampak tidak sabar untuk beraksi, mengikuti perintah Zhao Lei. Dia maju menerjang dan melayangkan tinju ke wajah Lin Hai. Tindakan sederhana ini sangat cepat, seolah-olah sudah dilatih ribuan kali. Pria ini jelas adalah seorang petarung berpengalaman.
Jika si rambut pirang ini melawan orang biasa, lawannya pasti akan langsung roboh oleh tinju ini. Sayangnya, dia sedang melawan Lin Hai. Bagi Lin Hai, si rambut pirang ini tidak lebih dari seekor siput. Pantiu yang diklaim cepat ini tidak lebih dari ayunan gerakan lambat.
Lin Hai mencibir dan membalas dengan sebuah tinju ke arah si rambut pirang.
‘Krek!’ Suara tulang patah bergema saat si rambut pirang itu terpental sejauh tiga meter dan jatuh pingsan di tanah.
"Maafkan aku, aku masih belum bisa mengendalikan kekuatanku dengan baik." Lin Hai meminta maaf dengan gestur menyatukan tangan.
Semua orang terkejut dengan pemandangan itu dan hanya bisa bergumam dengan suara tertahan di tenggorokan: "Ini..."
"Sialan! Gunakan otak kalian! Ada begitu banyak dari kalian dan kalian berencana menyerangnya satu lawan satu? Serang dia bersama-sama sekaligus!"
Zhao Lei menderu dan para gangster yang tersisa maju menyerbu.
Meskipun sepertinya ada peluang untuk menang, pemandangan yang terjadi dipenuhi dengan teriakan kesakitan dan ketakutan murni.
Untungnya, itu semua hanya berlangsung kurang dari satu menit. Semua gangster jatuh ke tanah, masing-masing memegangi bagian tubuh mereka sambil menggigil kesakitan.
[Wah!] Lin Hai merasa sangat puas saat mengedarkan pandangannya ke lantai untuk melihat hasil kerjanya.
Tertarik untuk berlatih lebih lanjut, mata dingin Lin Hai jatuh pada Si Kepala Botak Qiang.
"Bagaimana caranya?! Tendangan bayangan?! Tendangan yang sama yang diajarkan oleh para biksu di gunung?" Si Kepala Botak Qiang menyeringai. Dia tidak hanya tidak gentar dengan kekuatan Lin Hai, tetapi malah bersemangat untuk menghadapi lawan yang begitu tangguh.
"Bayangan apa? Apa yang kau bicarakan?" Lin Hai memutar bola matanya dan melangkah maju.
"Kakak Besar Hai, terimalah aku sebagai muridmu." Tiba-tiba Si Kepala Botak Qiang mundur dua langkah dan berlutut.
"Apa?" Lin Hai membuka mulutnya dan berkata, "Apa yang sebenarnya ada di dalam pikiranmu? Kepala Botak Qiang, kau benar-benar tidak punya sedikit pun akal sehat!"
"Kakak Besar Hai, aku menyukai seni bela diri sejak aku masih anak-anak. Aku penggemar berat Huang Fei Hong. Kumohon, terimalah aku." Si Kepala Botak Qiang tampak seolah-olah siap mempertaruhkan nyawanya demi kesempatan ini.
"Ehm... yah, kita bisa membicarakannya nanti!" Bingung, Lin Hai hanya bisa menjawab seperti itu. Saat ini, dia memiliki hal-hal yang lebih penting untuk diurus.
Mengalihkan pandangannya kembali ke arah Zhao Lei, yang baru saja lolos dari 'cengkeraman mautnya', dia mengamati pangeran manja ini.
Zhao Lei jelas terkejut dengan pemandangan di depannya. Faktanya, dia sangat ketakutan oleh apa yang baru saja disaksikannya, hingga tubuhnya gemetar setiap kali matanya beradu dengan Lin Hai.
"Lin Hai, kumohon, jangan pukul aku. Aku salah. Aku tahu kesalahanku," mohon Zhao Lei.
Namun, kata-kata sudah tidak berguna lagi pada titik ini. Tanpa buang waktu, Lin Hai berjalan lurus menghampiri Zhao Lei.
Zhao Lei menjadi panik dan berbalik untuk melihat Wang Ting, yang sama-sama ketakutan.
Seolah menemukan secercah harapan di tengah mimpi buruk ini, Zhao Lei menarik Wang Ting dan mendorongnya ke arah Lin Hai.
"Kakak Besar Hai, jika kau menginginkan jalang ini, ambillah. Aku kembalikan dia kepadamu. Jadi, biarkan aku pergi," ratap Zhao Lei.
Lin Hai mengenyahkan Wang Ting ke samping, melangkah maju, mengulurkan tangan, dan menarik Zhao Lei berdiri.
"Kakak Besar Hai, aku salah. Kumohon, beri aku kesempatan lagi untuk menebus kesalahan." Kedua kaki Zhao Lei terangkat dari tanah, dan wajahnya berubah pucat pasi saat dia berjuang untuk melepaskan diri.
"Memaafkanmu?" Lin Hai tersenyum geli. "Aku baru saja mengampunimu tapi lihat bagaimana caramu membalas kebaikanku? Begitu kau berhasil bebas, kau malah menyuruh anak buahmu untuk membunuhku."
Melihat senyum tak berbahaya di wajah Lin Hai, Zhao Lei merasa semakin ngeri. Tindakannya benar-benar lebih buruk daripada perbuatan iblis (setidaknya iblis akan menepati janjinya).
"Kakak Besar Hai, aku benar-benar tahu aku salah. Ini semua karena Tuan Hu yang menyuruhku melakukannya."
"Hu Wei?" Lin Hai mencibir. "Baiklah. Kembalilah dan sampaikan pesan ini kepadanya: 'Berhentilah mencoba mengganggu orang lain secara sembunyi-sembunyi, pengecut.'"
"Ya, ya, ya, Kakak Besar Hai, aku pasti akan menyampaikan peringatan ini kepadanya," kata Zhao Lei dengan napas terengah-engah.
"Enyah!"
Melempar Zhao Lei ke tanah, Lin Hai berjalan pergi.
"Terima kasih Kakak Besar Hai, terima kasih Kakak Besar Hai." Zhao Lei mengangguk dan membungkuk, sebelum berlari kabur diikuti oleh Wang Ting di belakangnya.
"Tuan!" panggil Si Kepala Botak Qiang dari belakang.
"Jangan panggil aku Tuan." Lin Hai menoleh ke belakang dan memperingatkan.
"Baik, Tuan," jawab Si Kepala Botak Qiang dengan penuh hormat.
"Apa yang baru saja kukatakan?" Lin Hai mendatangi dan menampar Si Kepala Botak Qiang.
Sementara itu, dia tenggelam dalam pikirannya, mengalami konflik batin mengenai apa yang harus dilakukan selanjutnya. Di satu sisi, dia tidak ingin menerima pengikut, tetapi di sisi lain, dia ingin melakukannya demi kesombongan semata.
Rasanya seolah ada dua wujud di atas bahunya, memberinya pesan yang berbeda.
[Lin Hai, tidak bisakah kau terima saja dia?]
[Tidak. Akan ada akibatnya dan itu terlalu merepotkan.]
[Kau tahu kau sangat ingin menerimanya.]
[Tapi pria ini bodoh!]
[Justru bagus, dia jadi mudah dibodohi.]
[Tapi punya orang bodoh di sekitar hanya akan membuat sang master terlihat bodoh!]
Begitu perdebatan dua arah ini akhirnya berakhir di benak Lin Hai, dia pun bersuara, menirukan cara bicara seorang biksu.
"Kau dan aku tidak memiliki hubungan untuk menjadi guru dan murid, kembalilah turun gunung dari tempat asalmu."
"Turun gunung? Tuan, bukankah kita sedang berada di bukit?"
Si Kepala Botak Qiang tampak kebingungan.
"Kepala udang. Enyah sana."
Lin Hai merasa otaknya mulai menyusut beberapa sel.
Si Kepala Botak Qiang: "Oh, Tuan, apakah kita harus bersiap turun bukit?"
Lin Hai: "Sialan, maksudku aku tidak mau menerimamu sebagai muridku!"
Si Kepala Botak Qiang: "Oh, begitu ya, Tuan."
Lin Hai: "Jangan panggil aku Tuan."
Si Kepala Botak Qiang: "Baiklah, Tuan."
Lin Hai: "Keparat! Bukankah sudah kukatakan jangan panggil aku Tuan!?!?"
Si Kepala Botak Qiang: "Ya, Tuan, saya mengerti. Saya tidak akan memanggil, Tuan."
[AAAAAHHHHHHH!] Lin Hai merasa dia benar-benar menghadapi lawan yang sepadan.