My Amazing WeChat is Connected to the Three Realms - Chapter 59 — NovelArc
Request novel bisa langsung di tab request ya, bebas request semua novel dari novelupdates

Chapter 59 · 4m baca

My Amazing WeChat is Connected to the Three Realms Chapter 59

by Smoking Wolf

“Hei, Tuan Muda Huang! Bukankah itu keparat yang kita temui di tempat perjudian?” Seorang preman berpenampilan mencolok menunjuk dengan antusias.

“Tunggu.” Huang Shan dengan cepat menghentikannya.

“Setelah kita meninggalkan tempat perjudian, aku mencari tahu tentangnya. Nama orang itu adalah Lin Hai, dan dia juga dari Universitas Jiangnan. Dialah yang mematahkan jari-jari Hu Wei—katanya dia cukup lihai.”

“Itu dia? Kalau begitu, kita tidak bisa membiarkannya pergi begitu saja!” Cerita tentang jari Hu Wei yang patah telah menyebar di lingkaran pertemanan mereka.

“Membiarkannya pergi? Tidak mungkin.” Huang Shan menyeringai dingin dan mengeluarkan ponselnya.

“Hei, Tuan Muda Hu, ini Huang Shan…”

Lin Hai belum berjalan jauh dari stasiun ketika dia melihat kepala botak yang berkilau sedang memindai kerumunan penumpang yang baru tiba.

“Tuan! Di sini! Minggir kalian!” Guangtou Qiang — Si Botak Kuat — melambaikan tangan dengan antusias sambil mendorong orang-orang.

Kerumunan orang itu membubarkan diri, melemparkan tatapan aneh ke arah Lin Hai.

Lin Hai sangat marah. Dia melangkah maju dan menepuk kepala botak itu.

“Diam kau! Lihat bagaimana kau menakuti orang-orang! Kau membuatku terlihat buruk karenanya!”

“Tuan, tapi kita kan satu golongan,” kata Guangtou Qiang sambil mengusap kepalanya.

Pluk!

Satu golongan, dengkulmu!

Lin Hai sudah menyesal karena membiarkan Guangtou Qiang menjemputnya.

Sesampainya di mobil, Guangtou Qiang dengan bersemangat membukakan pintu penumpang.

“Tuan, kereta kencana Anda sudah siap.”

Begitu Lin Hai masuk, Guangtou Qiang melompat ke kursi pengemudi, dan mobil Land Rover itu melesat maju bagaikan roket.

“Keparat! Pelan-pelan!” Lin Hai hampir membenturkan kepalanya ke jendela akibat akselerasi yang mendadak itu. Dia menepuk kepala botak itu lagi.

“Heh, maaf. Menyetir mobil bobrok selama sepuluh tahun—ini pertama kalinya berada di balik kemudi kendaraan mewah seperti ini. Sedikit terbawa suasana.”

Tak lama kemudian, mereka memasuki Jalan Yingbin, kawasan baru yang sedang berkembang di Kota Jiangnan. Jalannya lebar tetapi tampak sepi mencekam.

Di depan, dua buah mobil BMW putih terparkir di sebuah persimpangan, lampu daruratnya berkedip-kedip.

Saat mobil Lin Hai mendekat, delapan pria berpakaian hitam melompat keluar, masing-masing memegang pipa baja, memblokir jalan.

Ciiiit! Guangtou Qiang membanting rem.

“Keluar!” bentak salah seorang pria itu.

Klik. Guangtou Qiang mengunci pintu.

“Tuan…”

Ini jelas masalah besar. Jumlah mereka kalah banyak dan lawan dipersenjatai.

Lin Hai memutar bola matanya. IQ orang ini benar-benar sudah tidak tertolong.

Mengunci pintu? Yang benar saja? Kau pikir mereka tidak akan menghancurkan kacanya?

“Buka kuncinya. Kita keluar,” perintah Lin Hai.

Di luar, Guangtou Qiang memosisikan dirinya secara protektif di depan Lin Hai.

Huh. Lumayanlah—setidaknya dia setia.

Kemudian Lin Hai mengenali orang-orang itu.

Wah, wah. Wajah-wajah lama.

Pemimpinnya tidak lain adalah Si Muka Bekas Luka, orang yang sama dari pertemuan terakhir mereka di kampus.

“Ada apa, kawan-kawan? Belum puas dengan kejadian kemarin?” cibir Lin Hai.

“Tch. Waktu itu kau beruntung—terlalu banyak saksi. Hari ini, kau mati!” Si Muka Bekas Luka mengacungkan pipa bajanya, memancarkan keangkuhan.

Setelah pertarungan terakhir—di mana menendang Lin Hai justru membuatnya kesakitan—kali ini dia datang dengan persiapan.

“Tuan, kita tamat,” bisik Guangtou Qiang gugup. “Itu Muka Bekas Luka, orang nomor empat di Geng Elang Hitam. Mereka memanggilnya ‘Kaki Maut’—katanya dia bisa menembus tiang kayu dengan tendangannya.”

“Kaki Maut? Lebih cocok disebut ‘Pincang Maut’ setelah hari ini.”

Keparat itu menendangku terakhir kali. Sakitnya bukan main. Sekarang dia datang mengantarkan diri ke hadapanku? Sempurna.

“Tuan, biarkan aku mencoba bicara dulu. Jika itu gagal, aku akan menahan mereka. Anda lari saja.” Guangtou Qiang melangkah maju, tampak sangat serius.

“Hei, Kakak Muka Bekas Luka! Ini aku, Guangtou Qiang dari Jalan Selatan. Nih, merokok dulu.” Dia menawarkan sebatang rokok dengan senyum dipaksakan.

“Hisap ini, bodoh!” Si Muka Bekas Luka menepis rokok itu. “Siapa kau berani-beraninya bicara padaku? Enyah sana!”

Kilasan kemarahan melintas di mata Guangtou Qiang, tetapi dia menahannya.

“Ayolah, Kakak Muka Bekas Luka. Kita semua saudara di dunia hitam. Jika kami telah menyinggungmu, aku secara pribadi akan meminta maaf lain hari—makan malam di Golden Glory, aku yang traktir. Bagaimana?”

Si Muka Bekas Luka mencibir, mengetuk-ngetukkan pipa bajunya ke kepala botak Guangtou Qiang.

“Minta maaf? Kau pikir kau layak meminta maaf padaku?”

Wajah Guangtou Qiang menggelap.

“Jadi tidak ada cara damai untuk menyelesaikan ini?”

“Damai? Persetan dengan damai!” Si Muka Bekas Luka meludah.

Mata Guangtou Qiang menyipit—kemudian, tanpa peringatan, dia melayangkan tendangan lurus ke arah selangkangan Si Muka Bekas Luka.

“Makan nih, keparat!”

Sambil menyerang, dia berteriak ke belakang, “Tuan, LARI!”

Lin Hai merasakan secercah kehangatan.

Orang ini… ternyata benar-benar membelaku.

“Berani sekali kau?!” Si Muka Bekas Luka menghindari tendangan itu dengan mudah.

Dengan ayunan kejam, pipa bajunya melesat membelah udara menuju kepala Guangtou Qiang.

Aku mati. Guangtou Qiang bersiap menerima benturan.

Namun, rasa sakit itu tak kunjung datang.

Huh? Apa dia meleset?

Dia membuka matanya—lalu membeku.

Lin Hai berdiri di antara mereka, dengan santainya mencengkeram pipa baja itu di udara.

Lengan Si Muka Bekas Luka bergetar mengerahkan tenaga, urat-uratnya menonjol, bekas lukanya mengerut mengerikan.

“Le-paskan… sialan!” Dia mengerahkan seluruh tenaganya, tetapi pipa itu tidak bergeming sedikit pun.

“Tuan?!” Guangtou Qiang ternganga. Dia tahu Lin Hai bisa bertarung, tapi sampai tingkat ini?

“Menyedihkan. Mengatasi beberapa bajingan saja tidak becus,” cemooh Lin Hai. “Mundur.”

“Baik, Tuan!” Guangtou Qiang berlari bergeser ke belakangnya sambil menyeringai.

“LEPASKAN!” bentak Si Muka Bekas Luka, kini menggunakan kedua tangannya untuk merbut kembali pipa tersebut.

“Huh, baiklah. Kalau kau sangat menyukainya, ambil sana.” Lin Hai melepaskan cengkeramannya.

Karena tidak ada lagi yang menahan kekuatannya, Si Muka Bekas Luka terhuyung mundur dan jatuh telentang.

“HAHAHA! Bodoh sekali!” Guangtou Qiang tertawa terbahak-bahak.

Si Muka Bekas Luka bangkit dengan tergesa-gesa, wajahnya memerah karena marah. Dia melempar pipa itu ke samping.

“Hari ini, aku akan menendangmu hingga hancur berkeping-keping!”

Gunakan ← → untuk pindah chapter