Lin Hai bersumpah bahwa dia tidak pernah merasa sebegitu ketakutannya seumur hidup.
Tepat di depannya berdiri seorang wanita berbusana kuno, yang kehilangan satu tangan dan satu kaki. Tatapannya yang dingin membuat bulu kuduk Lin Hai merinding, membuatnya tampak begitu menyeramkan.
"Hantu? Hantu apa?" tanya Du Chun, kebingungan.
Sebelum Lin Hai sempat menjawab, hantu wanita itu terangkat dari tanah dan melayang lurus ke arahnya.
"Wah, jangan mendekat!" jerit Lin Hai ketakutan, sambil mundur teratur dengan panik.
Namun, secepat apa pun Lin Hai bergerak, hantu itu jauh lebih cepat. Dalam sekejap mata, makhluk itu sudah berada tepat di hadapannya.
"Persetan!" Dalam kepanikan, Lin Hai melayangkan tinju ke arah hantu tersebut.
"Hah?" Tanpa diduga, tinjunya menembus tubuh hantu itu seolah-olah terbuat dari udara kosong. Hantu tersebut melayang menembus tubuh Lin Hai begitu saja dan masuk ke dalam vila.
"Tuan, Anda tidak apa-apa?" Du Chun dengan sigap menopang tubuh Lin Hai, wajahnya dipenuhi kekhawatiran.
"Aku baik-baik saja," napas Lin Hai tersengal-sengal, masih dalam keadaan syok.
"Kakak, cepat ke mari! Ayah kambuh lagi!" Peng Xue tiba-tiba berlari keluar dari vila, memanggil Peng Tao yang sedang mengantar Lin Hai dan Du Chun.
"Apa?" Peng Tao terperanjat. Dia mencengkeram lengan Lin Hai. "Xiao Lin, kumohon, aku mohon padamu, tolong lihat kondisi ayahku."
"Lihat kepalamu!" Lin Hai menepis cengkeraman Peng Tao lalu ngibrit pergi.
"Sialan, seram sekali! Seram banget!" gerutu Lin Hai pada dirinya sendiri saat menyetir mobil menjauh.
Sejak mengetahui bahwa grup obrolan itu berisikan para dewa yang asli, Lin Hai sempat mempertimbangkan kemungkinan bahwa hantu mungkin juga eksis di dunia ini. Namun, dia tidak pernah menyangka akan langsung bertemu secepat ini.
Sebagai manusia fana, Lin Hai memiliki ketakutan bawaan terhadap hantu. Meskipun dia sudah menyiapkan mentalnya akan keberadaan mereka, melihatnya secara langsung sukses membuatnya ketakutan setengah mati.
"Tuan, Anda benar-benar tidak mau membantu ayah Peng Tao?" Du Chun, meski juga kesal dengan sikap keluarga Peng, memiliki hati yang baik dan tidak tega melihat seseorang menderita.
"Bantu kepalamu! Jangan pernah sebut-sebut keluarga Peng di depanku lagi!" Lin Hai bersumpah tidak akan pernah menginjakkan kaki di vila itu lagi.
Sisa hari itu dihabiskan Lin Hai dengan perasaan lesu. Suara sekecil apa pun bisa membuatnya terperanjat kaget.
"Kau baik-baik saja, kawan? Kau kelihatan gampang kaget begitu," tanya Wang Peng, menatap Lin Hai dengan aneh.
"Gemuk, apa yang akan kau lakukan kalau melihat hantu wanita?"
"Hantu wanita? Hihihi!" Wang Peng mengelus dagunya dengan menyeringai mesum.
"Menurutmu bagaimana? Akan kuperkosa, lalu kuperkosa lagi, dan terus kuperkosa sampai puas! Wahaha..."
Lin Hai menoleh dan memelototi Wang Peng dengan dingin tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Wah, Hai, jangan menatapku begitu. Bikin merinding," Wang Peng bergidik ngeri lalu berjalan menjauh.
Malam itu, Lin Hai akhirnya jatuh tertidur dengan gelisah.
Di dalam mimpinya, Lin Hai tiba-tiba merasa ada seseorang yang sedang menatapnya, mengirimkan hawa dingin hingga ke tulang punggung. Dia membuka matanya dan melihat—
"Ibu!" jerit Lin Hai, langsung bangkit duduk di atas tempat tidur.
"K-kau, apa yang kau mau?" tergagap Lin Hai, sekujur tubuhnya gemetar ketakutan.
Berdiri di ujung tempat tidurnya adalah hantu wanita yang dilihatnya di vila keluarga Peng siang tadi.
Mata dingin hantu itu menatapnya, bibirnya bergerak-gerak seolah sedang berbicara. Namun, Lin Hai tidak bisa mendengar suara apa pun.
"Apa yang kau katakan? Aku tidak bisa mendengarmu!" Lin Hai mengumpulkan keberanian untuk bertanya.
Hantu itu tampak kebingungan.
Sialan, sadar Lin Hai. Hantu itu juga tidak bisa mendengarnya.
Keduanya saling melempar gestur tubuh sesaat, tidak ada satupun yang mengerti apa yang diinginkan pihak lain.
Akhirnya, hantu itu merasa kesal dan menerkam ke arah Lin Hai!
"Ibu!" Lin Hai terbangun, bermandikan keringat dingin.
"Sial, ternyata cuma mimpi!" Lin Hai menyeka keringat di keningnya.
Meskipun itu hanya mimpi, rasanya begitu nyata hingga jantung Lin Hai berdegup kencang seolah mau copot dari dadanya.
Dia melirik jam—baru lewat tengah malam.
Kini benar-benar terbangun dan ketakutan, Lin Hai tahu dia tidak akan bisa tidur lagi.
Sial, apa ini yang dinamakan ketempuran alias dihantui?
Persetan, aku bahkan tidak kenal kau. Kenapa malah mengejarku?
Lin Hai hampir menangis rasanya.
Ini tidak bisa dibiarkan. Dia butuh sesuatu untuk mengusir roh-roh jahat.
Dengan pemikiran itu, Lin Hai meraih ponselnya dan membuka WeChat.
Orang pertama yang terlintas di benaknya adalah Sun Wukong, si Raja Kera. Bagaimanapun juga, dia adalah pemburu siluman profesional.
Manusia Fana Kebingungan: Yang Mulia, apa Anda ada di sana?
Sun Wukong: Ada apa, Kawan Kecil?
Manusia Fana Kebingungan: Aku butuh saran Anda. Aku baru saja menemui hantu, dan aku tidak tahu harus berbuat apa.
Sun Wukong: Gampang. Tinggal hantam saja pakai tongkatku.
Lin Hai tertegun. Oke, lupakan saja.
Setelah berpikir sejenak, Lin Hai memutuskan untuk bertanya di dalam Grup Perdagangan Pengadilan Surgawi.
Manusia Fana Kebingungan: Mencari barang yang bisa mengusir roh jahat dan membersihkan energi kotor.
Erlang Shen: Buat apa repot-repot? Bunuh saja hantunya kalau kau melihatnya.
Lin Hai mengeluarkan keringat dingin. Orang ini benar-benar barbar.
Raja Naga Laut Timur: Hantu? Mereka bakal kabur begitu melihat kami. Tidak perlu dibersihkan segala.
Tujuh Peri: Betul sekali. Lagipula, Pengadilan Surgawi dan Alam Baka sudah lama sekali tidak saling kontak. Di mana kau bisa menemukan hantu?
Bagus, nasibku memang sedang sial. Lin Hai benar-benar kehabisan akal.
Tepat saat dia hendak menyerah, sebuah notifikasi muncul.
Master Surgawi Zhang: Kenapa harus disingkirkan? Kau bisa menangkap hantu dan memeliharanya sebagai hewan peliharaan! (Diikuti oleh tiga emoji ngeces)
Chang’e: Jijik banget. Kenapa juga ada orang yang mau melihara hantu? Kelinci Giok-ku jauh lebih bagus.
Kelinci Giok: Cit cit!
Erlang Shen: @Chang’e, bagaimana kalau kita kawinkan Kelinci Giok-mu dengan Anjing Surgawi (Howling Celestial Dog) miliku suatu hari nanti? Penasaran anak seperti apa yang akan kita dapatkan.
Chang’e: Ogah banget! Nanti jadinya malah anjing kampung!
Biasanya, Lin Hai pasti sudah tertawa terbahak-bahak melihat obrolan mereka. Namun, saat ini dia terlalu panik untuk peduli.
Matanya terpaku pada profil Master Surgawi Zhang, dan dia begitu gembira hingga rasanya ingin menangis.
Sial, aku sampai lupa kalau ada pemburu hantu profesional di dalam grup ini!
Lin Hai buru-buru mengirimkan permintaan pertemanan kepada Master Surgawi Zhang.
Tring!
Sebuah notifikasi muncul—Master Surgawi Zhang telah menerima permintaan pertemanan darinya.
Manusia Fana Kebingungan: Master Surgawi, selamatkan aku!
Master Surgawi Zhang: Rekan Daois, apa yang membuatmu begitu panik? (Sederet emoji kaget)
Lin Hai menjelaskan semuanya—pertemuan dengan hantu, mimpi yang menghantui, serta ketidakmampuannya berkomunikasi dengan hantu tersebut.
Master Surgawi Zhang: Rekan Daois, bagaimana bisa kau bertemu hantu di Pengadilan Surgawi? Dan kenapa kau takut hantu? Dan kenapa kau tidak bisa berkomunikasi dengan mereka...
Master Surgawi Zhang membombardir Lin Hai dengan berbagai pertanyaan bagaikan anak kecil yang penasaran.
Lin Hai merasa pusing tujuh keliling.
Manusia Fana Kebingungan: Mari kita simpan pertanyaan-pertanyaan itu untuk nanti. Katakan saja, jika seorang manusia fana berada dalam situasi ini, apa yang harus dia lakukan?
Master Surgawi Zhang: Manusia fana? Tidak bisa apa-apa. Tamat sudah riwayatnya.
Persetan!
Lin Hai nyaris menangis.
Namun kemudian, pesan lainnya masuk.
Master Surgawi Zhang: Kecuali jika mereka bisa menemukan seseorang sepertiku—seorang pemburu hantu profesional—maka nasib mereka sama saja dengan mati.
Semangat Lin Hai bangkit kembali.
Manusia Fana Kebingungan: Apa saran Anda?
Master Surgawi Zhang: Banyak pilihannya! Sebenarnya, hantu terbentuk karena alasan ini: di dalam setiap tubuh manusia, terdapat jiwa yang berlokasi di area tenggorokan...
Lin Hai merasa kepalanya kembali berdenyut sakit.
Manusia Fana Kebingungan: Kumohon, langsung ke intinya saja!
Master Surgawi Zhang: Oh, benar juga! Pertama-tama, beri tahu aku bagaimana cara yang ingin kau gunakan untuk menghadapi hantu ini.
Cara menghadapinya? Jawaban yang paling jelas tentu saja menyingkirkannya!
Manusia Fana Kebingungan: Aku hanya ingin hantu itu berhenti menghantui diriku.
Master Surgawi Zhang: Gampang. Cari tahu saja kenapa dia menghantuimu. Hantu pada dasarnya adalah orang mati, dan biasanya mereka cukup masuk akal.
Lin Hai memutar bola matanya malas. Bukankah tadi aku sudah bilang kalau kami tidak bisa berkomunikasi?
Master Surgawi Zhang: Baiklah, aku akan memberimu pusaka yang bisa menyelesaikan masalahmu. Harganya sepadan dengan manfaatnya.
Manusia Fana Kebingungan: Bagus! Benda apa itu? Kirimkan sekarang!
Alih-alih mengirimkan barang yang diminta, Master Surgawi Zhang malah mengirimkan sederet seringai licik.
Master Surgawi Zhang: Kudengar kau baru saja memeras 9.999 poin merit dari Dewa Kekayaan tadi? Kebetulan sekali—harga pusakaku persis sebesar itu!
Sialan!
Lin Hai ingin menangis rasanya.
Ini mah namanya pemerasan!