“Pak, Universitas Jiang Nan, cepat!”
Di saat semua orang terbuai dalam alunan musik, Lin Hai meraih tangan Liu Xin Yue, lalu berlari keluar bar menuju sebuah taksi.
Setelah masuk ke dalam taksi, Liu Xin Yue merasa canggung dan melepaskan tangannya dari genggaman Lin Hai.
“Maaf tadi aku pura-pura jadi pacarmu dan memegang tanganmu.” Lin Hai tertawa canggung sambil dengan enggan melepaskan tangan lembut itu.
(Sial, tangan itu sangat mulus dan lembut.)
“Tidak apa-apa.” Liu Xin Yue merona merah. “Terima kasih sudah menolongku tadi.”
“Sama-sama, saling membantu kan sudah kewajiban generasi muda masa kini!” Lin Hai menirukan gaya bicara pendekar film silat, tak lupa memasang pose di dalam taksi yang sempit itu.
Liu Xin Yue tertawa melihat pose konyol Lin Hai.
(Cantik sekali…) Lin Hai terpaku menatapnya.
“Oh ya, kamu tadi bernyanyi bagus sekali. Penghayatannya sampai membuatku menangis.”
“Iya, menurutku juga bagus banget, aku bahkan sampai terharu sendiri.” Lin Hai mengiyakan tanpa ragu.
“Wah, tebal juga ya kulit mukamu. Baru kali ini aku ketemu orang yang memuji diri sendiri seperti itu.”
Keluar dari taksi, Liu Xin Yue memandang Lin Hai dengan aneh.
“Tunggu, bagaimana kamu tahu kalau aku kuliah di Universitas Jiang Nan?”
“Karena aku bisa membaca pikiran.” Jawab Lin Hai serius.
“Iya, percaya banget aku.” Bibir Liu Xin Yue berkedut; dia mati-matian menahan senyum. Semakin mereka mengobrol, semakin ia sadar bahwa Lin Hai tidak pernah bisa diajak serius.
Tenggelam dalam pikirannya, Liu Xin Yue tiba-tiba bertanya, “Kamu juga mahasiswa Universitas Jiang Nan? Jadi, kamu sudah mengenaliku dari tadi?”
“Ternyata kamu tidak bodoh-bodoh amat.”
“Tunggu, tapi kenapa aku sama sekali tidak kenal kamu?” Liu Xin Yue merasa bingung.
(Sial, apa kehadirannya benar-benar sekecil itu?) Lin Hai mengerutkan kening.
Dia sudah tiga tahun kuliah di sana. Sekalipun wanita itu tidak mengenalinya di awal, setelah beberapa kali berpapasan setidaknya wajahnya harusnya terasa familiar.
“Oh ya, omong-ngomong kenapa kamu malah nyanyi di bar?” Lin Hai akhirnya melontarkan pertanyaan yang mengganjal di benaknya sepanjang malam.
Wajah Liu Xin Yue langsung suram dan suasananya berubah dingin.
“Terima kasih untuk hari ini, aku duluan ya.”
“Ehm… Aku antar ya.” Lin Hai merutuki dirinya sendiri karena terlalu usil.
Setelah mengantar Liu Xin Yue pulang, Lin Hai menerima telepon dari Wang Peng yang terdengar sangat cemas.
“Lin Hai, kamu di mana? Jangan pergi, si Botak sedang mencarimu ke mana-mana.”
“Tenang saja, aku lagi bareng Liu Xin Yue dan kami sudah sampai di kampus.” Hati Lin Hai terasa hangat.
“Sial, cepat sekali!” Wang Peng menghela napas lega.
“Harus diakui, aksimu tadi keren banget. Nggak nyangka kamu bisa jadi pahlawan kesiangan dan sukses bikin si Botak berdiri kaku di tempat. Bagaimana Liu Xin Yue membalas budimu? Oh ya, kalau kita ke karaoke kamu kan jarang nyanyi. Nggak nyangka suara bagus juga, aku sampai mau nangis tadi…”
Lin Hai langsung menutup sambungan telepon, kalau tidak, Wang Peng tidak akan berhenti bicara.
Berbaring di atas tempat tidurnya, Lin Hai mengenang kembali kejadian hari itu dan merasa semuanya seperti mimpi.
Efek dari <Nyanyian Peri Istana Bulan> jauh melampaui ekspektasinya dan berhasil menyelamatkan dirinya beserta Liu Xin Yue.
Pada saat itu, Lin Hai yakin seratus persen bahwa grup WeChat yang konyol itu berisikan para dewa-dewi yang sesungguhnya.
Memikirkan hal itu, Lin Hai buru-buru meraih ponselnya dan membuka aplikasi WeChat.
Lingkaran Perdagangan Langit Tinggi dan Yu Tu masih ada di sana.
(Aku benar-benar nggak sedang bermimpi!)
Gelombang antusiasme menyerbu dada Lin Hai. Hidupnya pasti akan berubah drastis setelah ini.
Tak lama kemudian, Wang Peng dan teman-temannya datang. Tentu saja, mereka kembali membicarakan insiden malam itu dan asyik mengobrol hingga lewat tengah malam.
Keesokan harinya.
“Eh?” Saat melangkah masuk ke dalam kelas, Lin Hai melihat Wang Ting sedang asyik bermain dengan tablet barunya.
Di sampingnya duduk seorang pemuda dengan berbagai merek pakaian mewah melekat di tubuhnya, sementara satu tangan pria itu tampak liar merayap di paha Wang Ting.
Lin Hai mengenali pemuda itu. Namanya Zhao Lei, dari kelas sebelah. Rumornya, keluarganya menjalankan perusahaan besar dan sangat kaya—pantas saja Zhao Lei bisa mengendarai mobil BMW ke sekolah setiap hari.
Lin Hai tidak menyangka Wang Ting sudah mendapatkan gandengan baru, padahal mereka baru putus sehari.
“Hei, Ting Ting, bukankah itu pacarmu?” ejek Zhao Lei saat Lin Hai berjalan masuk ruangan.
“Mantan pacar. Dia itu kere, mana mungkin ada yang mau sama dia? Aku cuma mempermainkannya saja; kemarin sudah aku buang. Sekarang, cuma kamu satu-satunya di hatiku.” Kata Wang Ting sambil bermanja-manja merangkul lengan Zhao Lei.
“Haha, benar katamu. Coba lihat pakaian murahnya itu. Babi pun ogah sama dia.”
“Betul, babi kan cuma suka sama kamu.” Balas Lin Hai santai sambil mencari tempat duduk.
“Tentu saja…” Zhao Lei mengangguk arogan sebelum kalimatnya terpotong begitu saja.
“HAHAHA” Sontak seluruh mahasiswa di dalam kelas tertawa terbahak-bahak.
Wajah Wang Ting berubah merah padam bagaikan hati babi.
Tepat saat itu, dosen masuk ke ruangan dan suasana kelas langsung senyap.
Lin Hai tidak begitu tertarik dengan mata kuliah kali ini. Ia membuka WeChat dan melihat Lingkaran Perdagangan Langit Tinggi kembali aktif.
Raja Naga Timur: Pemberitahuan Barang Hilang: Aku telah kehilangan Mutiara Malam kemarin malam. Jika ada yang menemukan, mohon hubungi aku. Terima kasih.
Erlang Shen: Kenapa kamu malah bikin Pengumuman Barang Hilang? Kalau barangmu nggak ketemu, cari saja si kera itu, pasti dia yang mencurinya.
Raja Kera: @Erlang Shen, Anak muda, berani sekali kamu menuduhku? Mau cari ribut, hah?
Erlang Shen: Memangnya aku takut padamu. Ayo bertarung!
Raja Kera: Sepertinya kamu memang sudah gatal ingin dihajar.
Erlang Shen: Sini kalau berani. Siapa yang ciut, dia harus panggil yang menang sebagai Kakek.
Erlang Shen mengirimkan sebuah gambar rumit dengan titik merah kecil di bagian tengahnya.
Raja Kera: Bagus, aku datang!
Grup chat itu kembali senyap.
Sepertinya kedua makhluk itu pergi untuk baku hantam di lokasi yang dikirimkan oleh Erlang Shen.
Ding Dong!
Tidak lama berselang, Lin Hai kembali menerima pesan baru di WeChat.
Zao Wang Ye: Mencari murid magang, usia dan jenis kelamin tidak masalah. Bersedia melatihnya sampai bisa. Gaji menarik. Yang berminat silakan datang untuk wawancara.
Ri You Shen: Mencari pekerjaan paruh waktu shift malam, diutamakan sebagai petugas keamanan malam.
Chang Er: Teman-teman hebat di grup chat ini, mohon bantuannya untuk memberikan suara padaku ya. Terima kasih!
Li Jing: Anak saya ikut serta dalam “Kontes Kecantikan Anak Langit Tinggi”, mohon dukungannya untuk nomor urut 14. Terima kasih semuanya!
Ne Zha: Salah, semuanya mohon vote nomor 13 saja. Hong Hai Er itu nomor 14.
Hong Hai Er: Semuanya, tolong vote aku juga ya sekalian. (Emoji mata melotot)
“Hahaha, ternyata para dewa-dewi ini mirip manusia biasa juga ya.”
Seketika itu pula, Lin Hai merasa terhubung dengan para dewa yang tadinya terasa begitu angkuh dan sulit digapai.
“Ehem…” Lao Zi sepertinya sudah tidak tahan lagi melihatnya.
Lao Zi: Semuanya mohon diperhatikan, ini adalah grup transaksi. Mengobrol diperbolehkan tapi mohon untuk tidak mengirim iklan, meminta likes, dan menggalang suara.
Qi Xian Nu: Toko buah Pan Tao Yuan sedang mengadakan diskon besar-besaran! Ada diskon 20% untuk semua item di toko.
Mo Li Hai: Saya membuka kursus instrumen Pipa. Kirimkan anak-anak kalian agar saya bisa membantu mereka mempelajari keahlian baru! Hotline pendaftaran: 2b2b22b.
Berbagai macam iklan terus berdatangan dan teguran Lao Zi tenggelam di lautan pesan.
Semua orang mengabaikannya.
“Haha, menarik.” Lin Hai memutuskan untuk menandai @Lao Zi.
Xiao Hutu Xian: @Lao Zi, kalau suatu masalah bisa diselesaikan dengan angpao, maka itu bukanlah sebuah masalah. (Emoji monyet tidak mau melihat keburukan)
Lao Zi: @Xiao Hutu Xian, (3 emoji jempol)
“Sialan apa ini?” Lin Hai baru menyadari kalau nama akunnya di dalam grup chat bukanlah Lin Hai, melainkan Xiao Hutu Xian alias Peri Kecil Yang Bingung.
Ding Dong!
Tiba-tiba, sebuah angpao berukuran besar muncul di layar ponselnya.
Lin Hai langsung mengetuknya dengan cepat.
“Kamu telah mengklaim angpao Lao Zi.”
Berhasil!