"Pfft!"
Begitu Chen Yan mengatakan itu, Lin Hai hampir terjengkang.
Otak gadis ini sebenarnya terbuat dari apa, sih?
Sepasang mata Chen Yan yang besar dan berair menatap Lin Hai dengan sedikit kecurigaan.
Dia benar-benar tidak bisa memikirkan alasan lain.
Uang saku sepuluh juta sebulan, ditambah sebuah mobil—bukankah itu definisi harfiah dari paket "wanita simpanan"?
Lin Hai memerhatikannya yang memiringkan kepala, alis indahnya berkerut tipis, menatapnya seolah-olah dia adalah sejenis predator, membuat Lin Hai merasa geli.
Tapi kalau dipikir-pikir, gadis ini memiliki bentuk tubuh dan paras yang menawan. Jika dia benar-benar menjadikannya simpanan, bukankah itu hal yang lumayan?
Pikir Lin Hai dengan usil.
"Ehem… kau salah paham. Aku punya kerja sama bisnis dengan Direktur Ye sekarang. Karena kau sudah akrab dengan perusahaannya, jangan repot-repot mencari pekerjaan lain. Jadilah sekreterisku saja, dan tangani sepenuhnya urusan bisnis dengan perusahaan Direktur Ye."
Lin Hai menjelaskan niat aslinya.
"Hanya… hanya itu? Tidak ada yang lain?" Chen Yan setengah tidak percaya.
Lin Hai memutar bola matanya. Memangnya apa lagi yang kau harapkan?
"Tentu saja, jika setelah jam kerja kau ingin melakukan interaksi yang lebih 'mendalam' dengan bosmu, aku juga tidak akan menolak." Lin Hai mengangkat alisnya ke arah Chen Yan.
Wajah Chen Yan langsung merona merah, tetapi dia bisa menebak bahwa pria itu hanya sedang berkelakar.
Meski begitu, tawaran itu sangat menggiurkan hingga terasa tidak nyata.
Seratus juta sebulan—sebagian besar orang biasa bahkan tidak bisa menghasilkan sebanyak itu dalam setahun kerja keras. Kenapa Tuan Lin ini begitu tertarik padanya?
Apa dia sedang mempermainkannya?
"Tuan Lin, Anda serius? Benar-benar seratus juta sebulan?" tanya Chen Yan dengan ragu-ragu.
"Direktur Ye ada di sini. Apa kau pikir aku akan berbohong padamu? Kau resmi diterima mulai sekarang. Aku akan membayarkan gajimu bulan ini begitu aku menandatangani kontrak dengan Direktur Ye," kata Lin Hai santai.
"Ayo, Bro Ye, mari kita tanda tangani kontraknya." Lin Hai melambaikan tangan ke arah Ye Ziyu.
"Baiklah. Xiao Hai, nyalimu besar juga—tanpa ragu sedikit pun." Ye Ziyu melirik penuh arti ke arah Chen Yan, lalu menatap Lin Hai dengan tatapan yang hanya bisa dipahami oleh sesama pria.
Sialan, apa yang dipikirkan semua orang ini? Kenapa pikiran kalian semua ngeres banget? Aku cuma mau bekerja dengan benar di sini, tahu!
Lin Hai tidak bisa berkata-kata.
Setelah menaiki dua anak tangga, Lin Hai menyadari ada yang tidak beres.
Dia berbalik dan melihat Chen Yan masih berdiri di sana dengan terpaku, tidak mengikutinya.
"Hei, ayo. Mau ngapain berdiri di situ terus?" Lin Hai melambai padanya.
Chen Yan membeku dan menatapnya tidak percaya.
"Tuan—Tuan Lin, Anda serius tadi? Anda tidak sedang bercanda, kan?"
"Aduh, ampun." Lin Hai menepuk jidatnya dengan perasaan gemas.
"Hei, Bro Ye, kau punya uang tunai? Pinjami aku seratus juta."
"Beres." Ye Ziyu memberi gestur ke belakang, dan sedetik kemudian, seseorang membawakan seratus juta uang tunai dan menyerahkannya kepada Lin Hai.
"Jangan berikan padaku. Langsung berikan padanya." Lin Hai menunjuk Chen Yan.
"Tuan Lin, ini..." Chen Yan memeluk sepuluh bundel uang tunai itu, semakin kebingungann.
"Dengar, kau tidak berniat membawa uangnya kabur tanpa bekerja, kan? Cepat naik ke atas," ujar Lin Hai, lalu melangkah naik bersama Ye Ziyu.
Chen Yan tersadar dari keterkejutannya, merasa sangat gembira, dan buru-buru mengikuti.
Mereka duduk di ruang kerja Ye Ziyu yang luas dan terang, dan tak lama kemudian seorang staf membawakan teh.
"Bro Ye, di mana kontraknya?" tanya Lin Hai dari atas sofa.
"Xiao Hai, kau terlalu tidak sabar. Kontraknya bahkan belum selesai diketik. Minumlah teh dulu dan tunggu sebentar," kata Ye Ziyu sambil tersenyum dan menggelengkan kepala.
"Yah… baiklah kalau begitu. Kebetulan sekali—aku ingin membicarakan hal lain denganmu."
"Oh? Ada kabar baik apa lagi?" Ye Ziyu merasa tertarik.
"Ehm, Chen Yan, bisakah kau duduk dulu?" Lin Hai melihat gadis itu berdiri dengan canggung di sampingnya sambil mendekap uang tunai, lalu menunjuk ke kursi di sebelah kanannya.
"Tuan Lin, aku… aku berdiri saja." Chen Yan buru-buru menggeleng.
Uang seratus juta di dalam pelukannya tiba-tiba membuatnya merasa gugup dan canggung di dekat Lin Hai.
Dalam sekejap, dia berubah dari pegawai kantoran biasa yang berpenghasilan lima juta sebulan menjadi eksekutif tingkat atas dengan gaji seratus juta. Rasanya seperti mimpi. Dia sangat takut jika tidak berhati-hati, mimpi itu akan berakhir dan semua ini lenyap begitu saja.
"Kubilang duduk. Memangnya aku ini seseram itu?" Lin Hai pura-pura kesal.
Barulah setelah itu Chen Yan dengan gugup duduk di sampingnya, bahkan hampir tidak berani bernapas.
"Bro Ye, kau tahu tentang pelelangan aset Hu Corporation, kan?"
"Tentu saja. Aku bahkan sudah mengincar sebuah kelab malam. Jangan bilang kau tertarik dengan lelang itu juga?" Ye Ziyu yang cerdik langsung menebak maksud Lin Hai.
"Tepat sekali. Aku ingin mengambil alih Golden Splendor, tapi danaku sedikit kurang..."
"Oh? Jadi Xiao Hai sedang kekurangan dana? Butuh berapa? Sebutkan saja!" kata Ye Ziyu dengan murah hati.
"Haha, kalau begitu aku tidak akan sungkan." Lin Hai tersenyum. "Aku belum tahu pasti berapa yang dibutuhkannya, tapi kurasa lebih dari seratus lima puluh juta. Demi amannya, Bro Ye, pinjami aku seratus lima puluh juta. Kau bisa langsung memotongnya dari bagian keuntungan masker milikku."
Setelah mengatakannya, Lin Hai merasa sedikit gugup di dalam hati.
Seratus lima puluh juta—sial, itu uang yang benar-benar banyak.
Namun, di luar dugaan, Ye Ziyu bahkan tidak berkedip. Dia melambaikan tangannya.
"Tidak masalah. Kakakmu Ye ini akan mendukungmu sepenuhnya."
"Haha, terima kasih banyak!" Dengan beresnya masalah Golden Splendor, Lin Hai merasa beban berat terangkat dari pundaknya.
"Direktur Ye, ini kontrak dengan Tuan Lin." Tepat pada saat itu, seorang wanita masuk dan meletakkan dokumen yang sudah dicetak di hadapan Ye Ziyu.
Ye Ziyu membacanya sekilas, lalu menyerahkannya kepada Lin Hai.
"Xiao Hai, lihatlah dulu. Jika ada yang perlu diubah, katakan saja. Jika tidak, kita tanda tangani."
"Tidak perlu dibaca. Apa aku tidak percaya padamu, Bro Ye?" Lin Hai langsung membuka halaman terakhir dan membubuhkan tanda tangannya.
"Ini..." Ye Ziyu terpaku sejenak, merasa sangat tersentuh.
Dia telah memaparkan kepada Lin Hai betapa menguntungkannya bisnis masker itu—keuntungan di masa depan bahkan bisa sangat luar biasa. Namun, Lin Hai bahkan tidak melirik isi kontrak sebelum menandatanganinya. Tingkat kepercayaan seperti itu sangat menghangatkan hati Ye Ziyu.
"Xiao Hai, kau tidak takut aku akan menipumu?" Ye Ziyu menatapnya dengan rasa ingin tahu.
"Bro Ye, kau sedang bercanda. Kau setuju meminjamkan seratus lima puluh juta tanpa berpikir panjang. Bahkan saudara kandung pun belum tentu mau melakukan itu untuk satu sama lain. Setelah caramu memperlakukanku, bahkan jika kau benar-benar menipuku, aku akan menerimanya dengan ikhlas." Mata Lin Hai memancarkan ketulusan.
Kedua pria itu saling memandang.
Untuk waktu yang lama.
"Hahaha..." Keduanya tertawa terbahak-bahak.
Mereka berdiri dan bersalaman dengan erat, empat tangan besar saling menggenggam erat.
Sebuah ikatan yang tak terlukiskan mulai berakar dan tumbuh di antara mereka berdua.
"Baiklah, Bro Ye, karena urusan kita sudah selesai, aku pergi dulu." Setelah mengobrol sebentar lagi, Lin Hai bangkit untuk pamit.
"Pergi?" Ye Ziyu terkejut. "Bro, kau pikir semuanya sudah selesai hanya karena kita menandatangani kontrak? Masih ada banyak prosedur dan detail yang harus diurus."
"Mulai sekarang, urus semuanya langsung dengan dia. Dia mewakili diriku sepenuhnya." Lin Hai menunjuk ke arah Chen Yan.
"Dia? Tapi..." Ye Ziyu merasa Lin Hai terlalu santai dalam mengambil keputusan.
"Bro Ye, apa kau pernah dengar sebuah pepatah?"
"Pepatah apa?"
"Sekretaris mengerjakan semuanya! Haha, aku pergi!" Lin Hai melambaikan tangan dan pergi begitu saja tanpa menoleh ke belakang.
"Yah..." Ye Ziyu terdiam tak bisa berkata-kata. Dia menoleh untuk menatap Chen Yan. "Bisa-bisanya punya bos yang lepas tangan begini. Hei, apa kau pernah mendengar pepatah itu sebelumnya?"
Wajah kecil Chen Yan tiba-tiba merona merah padam, tetapi dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Bukan hanya pernah mendengarnya—dia juga tahu sepertinya ada kalimat lanjutan setelah kalimat itu.