Sebuah kerumunan sudah berkumpul di tepi tanah keluarga Lin Hai.
Li Erleng, yang berusia awal tiga puluhan, bertelanjang dada, melipat tangan, menatap Lin Wen dengan ekspresi penuh penghinaan.
“Hei, Pak Tua Lin, jangan tidak tahu terima kasih begitu. Aku cuma mengambil sedikit tanahmu, apa sih hebatnya?”
“Betul sekali! Sial, dasar pelit! Bikin keributan cuma gara-gara sepetak tanah sekecil ini!”
“Pak tua keras kepala ini memang cari perkara.”
“Sialan, nanti kuhancurkan semua jendelanya, dasar tua bangka!”
Beberapa preman kampung berpakain mencolok di belakang Li Erleng menimpali, suara mereka sarat dengan sindiran.
“Pak Lin, relakan saja.”
“Ya, sudahlah. Kita tidak mampu melawan orang-orang seperti mereka.”
“Lebih baik menelan ludah dan cari aman saja, Pak Lin. Coba lihat mereka, apa kelihatan seperti tipe orang yang mau mengganti rugi?”
Beberapa warga desa maju ke depan, mencoba membujuk Lin Wen.
Lin Wen menegakkan lehernya, memperlihatkan ekspresi keras kepala, keriput di wajahnya sedikit bergetar karena marah. Berdiri berhadap-hadapan dengan Li Erleng yang jauh lebih tinggi darinya, ia sama sekali tidak menunjukkan rasa takut.
“Li Erleng, kuberi tahu kau, kalau hari ini kau tidak mengganti rugi, aku tidak akan melepaskanmu!”
“Tidak mau melepaskan? Ha!” Wajah Li Erleng penuh dengan cibiran. “Pak tua, jangan jadi orang yang tidak tahu diuntung dan menguji kesabaranku.”
“Kuberi tahu kau, Li Erleng, orang lain mungkin takut padamu, tapi aku tidak! Anakku Xiaohai kenal dengan Kepala Desa Huang. Kalau hari ini kau tidak mengganti rugi, awas saja, akanuruh anakku melaporkanmu padanya!”
Ekspresi Li Erleng sedikit berubah. Belakangan ini memang ada desas-desus bahwa anak lelaki si pak tua, yang kuliah itu, sepertinya kenal dengan Kepala Desa Huang.
Jika dulu, Li Erleng tidak akan peduli, tapi kemarin ia mendengar dari paman keduanya yang menjabat sebagai kepala desa, bahwa Kepala Desa Huang ini mungkin akan dipromosikan menjadi Sekretaris Partai.
Jika ia menjadi Sekretaris Partai, itu berarti ia akan menjadi pejabat tertinggi di kota kecamatan. Menyinggung pejabat tertinggi jelas bukan langkah yang pintar.
Sialan. Kurasa kali ini aku lepaskan saja si pak tua ini.
Li Erleng mengumpat dalam hati dan menarik selembar uang 20 yuan yang sudah kusut dari saku celananya.
“Sialan, kita kan sesama warga desa. Jangan bilang aku, Li Erleng, tidak tahu aturan. Ambil uang 20 yuan ini sebagai ganti rugi tanahmu.” Li Erleng menempelkan lembaran 20 yuan itu tepat ke wajah Lin Wen yang kecokelatan diterpa cuaca.
“20 yuan?” Lin Wen tertawa pahit penuh kemarahan. “Kau berikan itu pada pengemis saja.”
“Hei, pak tua, jangan serakah! Uangnya 20 yuan, mau ambil silakan, tidak mau ya sudah.” Li Erleng mendelik tajam ke arah Lin Wen lalu berbalik untuk pergi.
Lin Wen tentu saja tidak membiarkannya pergi begitu saja.
“Kau berhenti di situ. Kalau hari ini kau tidak memberiku ganti rugi yang pantas, kau tidak boleh pergi ke mana pun.” Lin Wen mencengkeram lengan Li Erleng.
“Singkirkan tangan kotor itu dariku!” Li Erleng mengibaskan lengannya, hampir membuat Lin Wen terhuyung.
“Sialan, kau memang cari mati, ya?” Li Erleng mendorong dada Lin Wen, membuatnya mundur beberapa langkah lagi.
“Erleng, kami tidak mau ganti rugi itu lagi. Pak, ayo pulang bersamaku.” Song Qin bergegas datang.
“Kamu tidak usah ikut campur!” Sifat keras kepala Lin Wen kambuh lagi, ia mendorong Song Qin ke samping.
“Li Erleng, kalau hari ini kau tidak mengganti rugi, aku tidak akan melepaskanmu!” Lin Wen menyerbu lagi.
“Pergi sana!” Li Erleng mendorong Lin Wen, membuatnya kembali terhuyung.
“Mau kau apakan kalau tidak dilepaskan?” Li Erleng terus mendorong-dorong Lin Wen.
“Percaya tidak aku bunuh kau, bajingan tua!” Bahkan sebelum Lin Wen sempat menyeimbangkan tubuhnya, Li Erleng mendorongnya sekali lagi.
Dengan suara gedebuk yang berat, Lin Wen jatuh ke belakang, telentang di atas kebunnya.
“Ayah!!!” Lin Hai menjerit pilu.
Dari dalam mobilnya yang masih agak jauh, ia melihat seorang bertubuh besar berulang kali mendorong dan merundung ayah lanjut usianya.
Wajah ayahnya yang dipenuhi kerutan, kulit gelapnya, tubuh yang membungkuk, dan uban di kepalanya terpampang jelas di hadapannya, semakin lama semakin dekat, semakin dekat!
Namun hati Lin Hai justru semakin tenggelam, semakin terasa berat!
Anak kandungnya ada di tempat kejadian, tetapi ia hanya bisa menonton saat ayah tercintanya didorong dan diperlakukan semena-mena, langkah demi langkah, oleh seorang lelaki berbadan kekar, hingga akhirnya dirobohkan ke tanah.
Mata Lin Hai langsung memerah.
CENIT! Suara decitan ban yang terkunci terdengar tajam.
Lin Hai membanting pintu mobil dan melompat keluar.
“Ayah!” Lin Hai bergegas menghampiri dan membantu Lin Wen yang masih terduduk di tanah untuk berdiri.
“Ayah, aku terlambat datang!” Air mata mengalir membasahi wajah Lin Hai.
CENIT! Satu lagi decitan rem yang nyaring!
Qiang Si Botak keluar dari mobil BMW dan langsung melangkah menuju ke arah Li Erleng.
Ia telah menyaksikan apa yang terjadi dari dalam mobil, jadi ia langsung mengerti situasinya.
“Keparat kau!” Bahkan sebelum Li Erleng sempat menyadari apa yang terjadi, Qiang Si Botak melayangkan tinju tepat di wajahnya, lalu menendangnya hingga terjengkang ke belakang.
“Qiangzi, hajar dia sampai setengah mati!” Lin Hai meraung penuh amarah.
Qiang Si Botak tidak perlu menunggu perintah Lin Hai; ia sudah menerkam dan melancarkan rentetan tendangan ganas.
“Woi, sialan siapa kau? Lepaskan Kak Erleng!”
“Berhenti memukulinya, kubilang berhenti!”
Beberapa preman di belakang Li Erleng buru-buru menunjuk ke arah Qiang Si Botak sambil berteriak.
Beberapa dari mereka bahkan mulai maju, berniat menyelamatkan Li Erleng.
Namun, begitu mereka melihat penampilan Qiang Si Botak—kepala pelontos, tato di tubuh, kalung emas tebal di leher—jelas sekali bahwa ia adalah seorang preman dunia hitam.
Para preman kampung ini jago jika dipakai untuk menindas petani jujur di desa, tetapi ketika berhadapan dengan preman sungguhan, mereka tidak punya nyali untuk maju dan langsung ciut.
Alhasil, selain meneriakkan ancaman kosong dari pinggir, tidak satupun dari mereka yang berani mendekat.
Hal ini membuat nasib Li Erleng merana. Tidak lama kemudian, Qiang Si Botak telah menghajarnya hingga mulut dan hidungnya berdarah-darah, sementara seluruh tubuhnya kejang-kejang.
Seorang preman kecil yang cukup cerdik diam-diam menelepon beberapa pemuda dari keluarga Li.
Sementara itu, Liu Xinyue dengan cepat keluar dari mobil.
“Paman, Anda tidak apa-apa?” Liu Xinyue bergegas menghampiri untuk memapah Lin Wen, bertanya dengan penuh perhatian.
Lin Wen terpana, bertanya-tanya dari mana gadis cantik seperti malaikat ini datang dan langsung memanggilnya paman.
Song Qin, di sisi lain, melihat dengan jelas bahwa gadis ini keluar dari mobil Lin Hai, dan hatinya tiba-tiba terasa terang benderang.
Namun, sebelum ia sempat mengajukan pertanyaan apa pun, sekelompok pemuda bertelanjang dada, bersenjatakan tongkat dan kayu, berlari menyerbu dengan beringas dari arah berlawanan.
Li Erleng, yang sedang terkapar di tanah, langsung bersemangat begitu melihat mereka.
“Kak Tiga, cepat selamatkan aku!”
“Selamatkan pantatmu!” Qiang Si Botak menendang mulutnya sekali lagi hingga gigi depannya rontok.
Melihat begitu banyak orang berdatangan, Song Qin merasa ngeri.
“Xiaohai, suruh temanmu lari! Dan kau, bawa gadis ini, masuk ke mobil dan pergi dari sini sekarang juga!”
Lin Hai menatap dingin ke arah kerumunan yang sedang mendekat itu dan menggelengkan kepalanya.
“Ibu, jangan takut. Anakmu sudah pulang. Dulu, Ibu dan Ayah adalah pohon yang menaungiku. Hari ini, anak kalian akan merentangkan payung perlindungan untuk kalian berdua!”
Begitu kalimat itu selesai, secercah kilat dingin melintas di mata Lin Hai, dan ia melangkah maju.
“Qiangzi, mundur ke belakangku!” Lin Hai memanggil Qiang Si Botak ke sisinya.
Meskipun Qiang Si Botak memiliki sedikit kemampuan berkelahi, pihak lawan membawa terlalu banyak orang, dan semuanya memegang senjata. Ia mungkin bisa mengatasi dua atau tiga orang, tapi lebih dari itu, Qiang Si Botak pasti akan terluka.
Qiang Si Botak telah membelanya selaku sang guru, jadi Lin Hai tentu saja tidak akan membiarkannya mengambil risiko sendirian.
Qiang Si Botak juga tahu batasan kemampuannya. Ia memberikan dua tendangan kejam lagi kepada Li Erleng, lalu mundur berdiri di belakang Lin Hai.
Ia sama sekali tidak mengkhawatirkan Lin Hai; bagaimanapun juga, gurunya adalah seorang ahli bela diri.
“Persetan dengan ibumu! Berani-aninya kalian memukul kakak kedua ku? Kubunuh kalian hari ini!” Gerombolan itu bergegas menyerbu, mula-mula membantu Li Erleng berdiri. Pemuda yang berada di barisan paling depan menunjuk ke arah Lin Hai dan berteriak garang.
Sebelum Lin Hai sempat membalas, suara deru mesin mobil tiba-tiba terdengar di kejauhan, dan kepulan debu bagaikan badai pasir meluncur dengan kecepatan tinggi ke arah mereka.
Semua orang menoleh, bertanya-tanya apa yang ada di balik kepulan debu itu.
CENIT! Satu lagi decitan rem yang memekakkan telinga.
Saat debu mulai mereda dan mereka bisa melihat dengan jelas benda apa itu, semua orang langsung tertegun.