Painting King memasang ekspresi muram, tidak tahu apa yang diinginkan oleh penguasa Alam Suci, Lin Hai, darinya.
“Tetua Painting King, tentang ikan bakar yang kita makan waktu itu—dari mana asalnya?”
“Ikan bakar? Ikan itu baru saja ditangkap dari danau!” Painting King menunjuk ke arah danau di hadapan mereka.
“Oh, kalau begitu bisakah Anda membantuku menangkap beberapa ekor?”
Painting King terkejut.
“Tugas yang Anda maksud, Tuan, hanya menangkap ikan?”
“Ya, apa ada masalah?”
“Tidak, sama sekali tidak.” Painting King buru-buru melambaikan tangannya, merasakan kelegaan yang luar biasa menyelimutinya.
Awalnya, dia pikir Lin Hai akan memberinya tugas mendesak, berbahaya, atau sulit, dan jantungnya sempat berdegup kencang. Siapa sangka tugasnya semudah menangkap ikan?
“Aku akan menangkapnya untuk Anda sekarang juga.” Begitu selesai bicara, Painting King berjalan ke tepi danau.
Matanya menatap lekat-lekat ke permukaan air tanpa berkedip. Lalu, tangan kanannya melesat, mencengkeram udara kosong, dan menariknya dengan kuat ke belakang.
Cipratan air bergemercik! Seekor ikan tak dikenal, dengan panjang lebih dari dua puluh sentimeter, melompat keluar dari air dan mendarat di tanah, mengibas-ngibaskan ekornya.
Ya ampun, hebat sekali!
Begitukah cara menangkap ikan? Lin Hai menatap dengan mata terbelalak dan terpana.
Painting King terus menyambar ikan dari udara. Dalam sekejap, dia sudah menangkap empat atau lima ekor.
“Sudah cukup, sudah cukup!” Lin Hai buru-buru menghentikannya.
Mendapatkan sebuah kantong jaring, Lin Hai memasukkan ikan-ikan itu ke dalamnya.
“Jadi, Tetua Painting King, teknik apa yang baru saja Anda gunakan untuk menangkap ikan-ikan itu?” tanya Lin Hai penuh semangat.
“Oh, itu cuma keterampilan dasar bernama ‘Tangan Petik Bintang’. Teknik itu memungkinkanmu meraih benda dari jarak jauh.”
“‘Tangan Petik Bintang’? Bisakah Anda mengajarinya kepadaku?” Lin Hai menggosokkan kedua telapak tangannya.
“Tentu saja. Bukan hal yang istimewa kok.” Usai berkata demikian, Painting King masuk ke dalam pondok.
Lin Hai buru-buru mengikutinya masuk.
“Di mana aku meletakkannya ya?” Painting King meraba-raba isi ruangan dan akhirnya menarik sebuah buku berdebu dari bawah salah satu kaki meja.
“Buku ini dipakai untuk mengganjal meja. Nyaris saja tidak ketemu.” Dia membersihkan debunya dan menyerahkannya kepada Lin Hai.
“Sial, boros sekali, memakai kitab rahasia untuk mengganjal meja.”
Lin Hai menerimanya dan melihat tiga karakter besar terpampang di sampulnya: Tangan Petik Bintang!
Begitu jarinya menyentuh buku itu, kitab tersebut lenyap begitu saja dari pandangan mereka.
“Tuan, ini…” Painting King menatap dengan takjub.
“Tidak apa-apa. Aku menyimpannya menggunakan metode rahasia,” kata Lin Hai tenang.
Jantung Painting King berdegup kencang. Tuan benar-benar luar biasa—dia berhasil mengambil buku itu tepat di depan matanya tanpa dia sadari sama sekali!
“Baiklah, Tetua Painting King, aku ada urusan lain, jadi aku pergi dulu. Lain kali aku berkunjung, aku akan mengajarimu teknik membuat sketsa.”
“Saya mohon pamit, Tuan!” Painting King buru-buru menangkupkan kedua tangannya memberi hormat.
Lin Hai memegang kantong jaring tersebut, dan sosoknya pun menghilang.
Sedetik kemudian, Lin Hai sudah muncul kembali di dalam vila.
Wus!
Begitu muncul, mata Lin Hai nyaris copot dari tempatnya.
Ya ampun, siapa… sosok berpakaian putih di depannya ini?
Itu memang sosok berkulit cerah, membelakanginya sambil melipat sehelai cheongsam di atas tempat tidur.
“Gaun ini benar-benar indah. Akan ku simpan baik-baik dan dipakai saat Festival Hantu nanti. Entah kapan si Lin Hai itu pergi. Seharusnya aku menyuruhnya membelikan lebih banyak lagi…”
“Hmm?” Chu Lin’er tiba-tiba merasa seolah ada sepasang mata yang menatap tajam ke punggungnya.
Dia menoleh dengan cepat!
“Aaaah!!!”
Sebuah jeritan melengking memecah keheningan.
“Lin Hai! Beraninya kau melihat tubuh putri ini! Akan kucungkil matamu itu nanti!!!”
Lin Hai buru-buru kabur keluar dari vila, jantungnya berdegup kencang karena ketakutan.
Sial, dia sudah gila. Menakutkan sekali.
Kau sendiri yang tidak berpakaian di kamarku, lalu menyalahkanku karena melihat? Itu benar-benar tidak masuk akal.
Namun, kalau dipikir-pikir lagi, gadis itu benar-benar punya bentuk tubuh yang bagus—benar-benar kelas atas.
Lin Hai mengusap dagunya dan tersenyum nakal.
Menghadang sebuah taksi, Lin Hai tiba di lantai bawah apartemen Liu Xinyue.
“Bibi, halo,” sapa Lin Hai kepada Zhao Fang.
“Xiao Hai! Masuklah dan duduklah. Duh, repot-repot membawa oleh-oleh segala!”
“Bibi, tolong masak ikan ini ya hari ini. Rasanya luar biasa enak, dan dengan keahlian Bibi, rasanya pasti jadi yang paling top.”
“Bisa saja kamu merayu. Baiklah, Bibi akan memasakkannya untukmu!” Zhao Fang tersenyum, mengambil ikan tersebut, lalu melangkah ke dapur.
“Xinyue, aku membelikanmu gaun. Coba dipakai.” Lin Hai lantas menyerahkan cheongsam hijau itu kepada Liu Xinyue.
“Mhm.” Liu Xinyue menerimanya dan masuk ke kamar dalam.
“Huh.” Liu Xinqing mengerucutkan bibirnya ke arah Lin Hai.
“Wah, ada apa, ipar?” tanya Lin Hai.
“Bukan urusanmu,” jawab Liu Xinqing ketus sebelum melenggang masuk ke kamarnya dan membanting pintu hingga tertutup rapat.
“Eh…” Lin Hai benar-benar bingung. Sial, aku tidak sedang membuat sang putri kecil ini marah, kan?
Liu Xinqing berbaring tengkurap di atas tempat tidurnya, pipinya menggembung karena kesal.
“Huh, cowok menyebalkan. Kamu cuma membelikan baju untuk kakakku, tidak untukku,” gerutunya pelan.
Begitu kata-kata itu keluar dari mulutnya, dia langsung tertegun.
Ya ampun, Liu Xinqing! Apa yang sedang kau pikirkan? Dia itu pacar kakakmu sendiri!
Bagaimana bisa kamu cemburu pada kakakmu sendiri?
Hati gadis muda itu dilanda gejolak.
“Lin Hai.” Liu Xinyue keluar dari kamar dan memanggilnya dengan lembut.
Lin Hai menoleh dan langsung terpesona.
Liu Xinyue berdiri di sana mengenakan cheongsam hijau, dengan fitur wajah yang lembut dan rupawan. Dia tampak segar dan anggun, bagaikan peri kahyangan yang turun ke dunia fana, tak tersentuh oleh nafsu duniawi.
“Bolehkah aku bertanya, wahai sang peri, mengapa engkau turun ke alam fana? Apakah untuk mencari kekasih hatimu?” seru Lin Hai dengan gaya berlebihan.
Pffft. Liu Xinyue tidak kuasa menahan tawa mendengar ucapannya.
“Pandai sekali merayu,” ujarnya sambil melirik Lin Hai dengan jenaka, meski rona bahagia di wajahnya sama sekali tidak bisa disembunyikan.
Brak! Liu Xinqing juga keluar dari kamarnya. Ketika matanya menatap Lin Hai, secercah ke canggung melintas di wajahnya.
“Wah! Kak, kamu cantik sekali!” Begitu melihat Liu Xinyue, Liu Xinqing berseru dramatis dan langsung berlari menghampiri. Dia mengamati kakaknya dari atas sampai bawah, jemarinya meraba kain cheongsam yang licin dan halus itu.
“Xiao Qing, kalau kamu yang pakai, pasti bakal terlihat lebih cantik dari Kakak,” ucap Liu Xinyue sambil tersenyum.
Mendengar itu, secercah kekecewaan melintas di wajah Liu Xinqing, tapi dia langsung menutupinya dengan cepat.
“Mana bisa, Kakak kan yang paling cantik.”
“Huh! Cantik-cantik kok malah jatuh ke tanganmu,” kata Liu Xinqing sambil mengerutkan hidungnya ke arah Lin Hai.
“Eh…” Lin Hai menggaruk-garuk kepalanya, tidak tahu harus merespons apa.
“Makan malam sudah siap!” panggil Zhao Fang dari arah dapur.
Semua orang bergegas membantu membawa makanan ke meja makan.
“Bibi, Bibi harus coba ikan ini. Asal Bibi tahu, ini bukan ikan biasa. Bukan cuma enak, tapi juga bisa mempercantik kulit, memperpanjang usia, dan menyembuhkan berbagai penyakit membandel.” Lin Hai mulai mengarang cerita setinggi langit.
Setelah memakan ikan itu waktu itu, dia tahu ikan tersebut memang istimewa. Entah benar-benar berkhasiat seperti yang dia katakan atau tidak, yang jelas ikan itu pasti memberikan manfaat bagi kesehatan manusia.
“Berhenti membual. Kalau memang separah itu khasiatnya, apa masih bisa dibilang sekadar ikan biasa?” Liu Xinqing memutar bola matanya malas ke arah Lin Hai.
Zhao Fang dan Liu Xinyue tersenyum tanpa berkomentar.
Namun, rekomendasi penuh semangat dari Lin Hai itu telanjur memancing rasa penasaran mereka. Masing-masing mengambil sepotong ikan dengan sumpit lalu memasukkannya ke dalam mulut.
Baru gigitan pertama, mata mereka langsung terbuka lebar karena takjub.
Mereka langsung meraih potongan ikan berikutnya tanpa jeda.
“Kok bisa enak begini?” Melupakan semua tata krama, mereka mulai makan dengan lahap, sepotong demi sepotong.
Melihat ibu dan kakaknya makan dengan begitu bernafsu, Liu Xinqing tertegun.
“Emangnya beneran enak banget ya?” gumamnya ragu-ragu sambil meraih sumpitnya sendiri.
Dia memasukkan sepotong ikan ke dalam mulutnya, dan tubuhnya seketika menegang.
“Ibu! Kak! Sisain buat aku!”