I’m Writing a Diary in a Fantasy World — I Really Am Not a ‘Cao Thief’! - Chapter 136.2 — NovelArc
Request novel bisa langsung di tab request ya, bebas request semua novel dari novelupdates

Chapter 136.2 · 2m baca

Chapter 136.2

by 无敌纯爱战神

Tak disangka, Chu Ge dengan sigap meraih kakinya.

“Guru… ini… juga boleh.”

“Kau—! Murid durhaka, semakin menjadi-jadi!”

Nafas Luo Huangjun naik turun sambil mengucapkan kata-kata itu setelah beberapa lama. Namun akhirnya, dengan sedikit keengganan, dia tetap mengikuti keinginan Chu Ge dan mulai bertindak sesuai.

Berbaring nyaman di tempat tidur, Chu Ge menoleh memandang Luo Huangjun yang sedang membersihkan jari-jari kakinya yang berkilau dengan hati-hati. Dia tak bisa menahan senyum kepuasan.

Pencapaian baru terbuka!

Meski suasana hatinya sangat baik, Chu Ge tidak melupakan tujuan lain kedatangannya hari ini.

“Guru, masih ingatkah pernah kukatakan akan menghadiahimu sebilah pedang?”

“Aku ingat.”

Tentu saja dia ingat.

Bahkan setiap kata yang diucapkan Chu Ge saat bersamanya, setiap tindakan yang dilakukannya, bahkan setiap gerakan halus—semuanya diingatnya dengan jelas.

“Ada apa? Sudah menemukan pedang yang kau anggap layak untuk gurumu?”

Mendengar ini, Chu Ge tersenyum penuh keyakinan.

“Tentu saja.”

“Bahkan… di dunia ini, hanya engkau, Guru, yang layak memilikinya—dan hanya pedang inilah yang layak untukmu.”

Saat ini, Luo Huangjun sudah selesai membersihkan diri. Mendengar kata-kata penuh keyakinan Chu Ge, dia berbalik memandangnya, kilatan harapan yang hampir tak terlihat melintas di matanya.

Sebenarnya, dia sudah lama menantikan hal ini.

Memang sudah tabiatnya—dia takkan pernah mengungkitnya sendiri, hanya menunggu dengan diam. Dia percaya Chu Ge takkan mengecewakannya.

Menatap pandangan Luo Huangjun, Chu Ge mengonsentrasikan pikiran.

Satu pedang hitam dan satu pedang putih perlahan terwujud di depan murid dan guru.

Mata Luo Huangjun langsung tertarik pada pedang putih murni, Huangyu (Bulu Phoenix).

Roh Phoenix Abadi dalam tubuhnya—yang sudah lama tertidur tanpa gerakan sedikit pun—bergerak pada saat ini.

“Ini…?”

Rasa ingin tahu memenuhi hatinya saat Luo Huangjun memandang Chu Ge, lalu memeriksa pedang lainnya juga—Fengling (Bulu Phoenix) yang hitam pekat.

“Guru, tahukah kamu apa nama sepasang pedang ini?”

“Jangan bertele-tele—katakan saja!”

Luo Huangjun melemparkan tatapan menyalahkan padanya.

Pesona yang mengalir dari matanya saat itu adalah sesuatu yang bahkan dia sendiri tidak sadari—betapa memesona dan tak tertahankannya.

Luo Huangjun sendiri perlahan menyadari hal ini melalui waktu mereka bersama, dan dia lebih dari bersedia untuk memanjakan kebiasaan kecil murid durhakanya ini.

“Guru… pedang hitam ini bernama Fengling. Pedang putih bernama Huangyu…”

“Dan jika digabungkan, mereka dikenal sebagai…”

Sambil berkata, Chu Ge berjalan mendekati Luo Huangjun.

Perasaannya terbawa oleh kata-katanya, jantungnya berdetak semakin kencang.

“Phoenix Mencari Phoenix.”

Kata-kata lembut Chu Ge sampai di telinganya.

Luo Huangjun bahkan tidak menyadari kehangatan lembab yang menyentuh daun telinganya. Di pikirannya, hanya tiga kata itu yang bergema berulang-ulang.

Phoenix Mencari Phoenix?

Phoenix Mencari Phoenix!

Dia tidak bisa lagi menahan gejolak perasaan dalam hatinya.

Berbalik tiba-tiba, dia merangkul erat Chu Ge, melepaskan perasaan yang meledak dari dalam dirinya dengan cara yang paling langsung dan tegas.

Gunakan ← → untuk pindah chapter