Begitu Jiang Luoshen duduk, ia langsung merasa ada yang tidak beres.
Kenapa ia menuruti perkataan Gu Changge? Pria itu menyuruhnya duduk, dan ia malah langsung duduk begitu saja?
Memikirkan hal itu, ia kembali bangkit berdiri.
Dengan ekspresi dingin di wajahnya, ia menatap lurus ke arah pria itu dan berkata tajam, "Gu Changge, kedatanganku kali ini adalah untuk membuat kesepakatan denganmu."
"Aku tahu."
Mendengar itu, Gu Changge mengangkat pandangannya sejenak, lalu kembali santai mengipasi bara di bawah kompor teh.
Nyala api berwarna lembayung muda itu memancarkan aura mengerikan yang seolah mampu melahap segalanya; bahkan ruang di sekitarnya tampak kabur, seakan sewaktu-waktu bisa runtuh.
Jelas sekali, itu adalah api yang sangat langka.
"Kau tahu?"
Jiang Luoshen mengerutkan kening. Ia sama sekali tidak menduga Gu Changge akan memberikan jawaban seperti itu.
Sebelum datang, ia telah mempersiapkan segalanya dengan matang, termasuk menebak reaksi Gu Changge dan apa yang mungkin akan diucapkannya.
Namun, kini Gu Changge justru mengaku sudah tahu.
Hal itu membuatnya merasa perhitungannya meleset.
Untuk sesaat, ia bahkan kehilangan kata-kata.
"Bukankah ini tidak lebih dari keinginan agar aku menutup mulut dan tidak membongkar apa yang kalian sebut sebagai 'penjelasan' dari Klan Taixu Protoss?"
"Sebagai gantinya, kau ingin aku berjanji untuk tidak mengatakan bahwa keempat pemimpin sekte agung itu tewas di tanganku, begitu kan?"
Gu Changge tersenyum santai. "Lagi pula, ada cukup banyak orang yang menyaksikan semuanya dengan mata kepala mereka sendiri. Selama kau cukup kejam untuk menangkap jiwa para klan yang berhasil melarikan diri saat itu, bukankah kau bisa memulihkan kejadian yang sebenarnya?"
"Itulah yang kalian anggap sebagai kartu As-ku."
"Katakan, apa aku salah?"
Ekspresi Jiang Luoshen langsung berubah drastis mendengarnya. Ia menatap pria itu dengan rasa tidak percaya.
Ia sungguh tidak menyangka Gu Changge bukan hanya tahu asal-usulnya, tapi bahkan tahu persis apa yang hendak ia katakan.
Seketika, ia merasa seluruh rahasianya telah dibedah dan dilihat tembus.
Semua yang diucapkan Gu Changge adalah kebenaran.
Saat itu, memang tidak banyak orang yang melihat Gu Changge membunuh keempat pemimpin sekte tersebut.
Selain dirinya, ada beberapa anggota klannya yang juga menyaksikan kejadian itu secara langsung.
Bagi Jiang Luoshen, itulah alasan utamanya datang untuk menemui Gu Changge dan membuat kesepakatan.
Jika Gu Changge membongkar kebohongan mereka, maka klannya akan membeberkan masalah ini ke publik dan terang-terangan bermusuhan dengan Gu Changge.
Namun kini, tampaknya Gu Changge sudah lama menebak niat mereka dan sama sekali tidak peduli.
"Sepertinya tebakanku tepat."
Melihat perubahan warna wajah Jiang Luoshen, Gu Changge tersenyum tipis dan melanjutkan, "Sepertinya caramu berpikir terlalu naif. Sejak aku berani membunuh orang-orang itu, aku sama sekali tidak takut pada pembalasan mereka. Menurutmu, seberapa besar tingkat kepercayaan orang-orang jika kalian mengumbar cerita itu sekarang?"
"Gu Changge, lalu apa sebenarnya syarat agar kau mau menyetujuinya?"
tanya Jiang Luoshen dengan ekspresi muram.
Sebelum datang ke sini, ia tidak pernah menyangka situasinya akan berkembang sejauh ini.
Masalah semacam ini pada akhirnya hanyalah klaim sepihak dari keluarga Taixu Protoss mereka.
Meskipun mereka memiliki cara untuk merenggut jiwa para tetua yang selamat dan merekonstruksi ulang kejadian saat itu.
Tetap saja, garis keturunan Taois lain akan mencurigai rekaman itu telah dipalsukan demi melemparkan kesalahan pada pihak lain.
Selama seseorang memiliki tingkat pencapaian spiritual yang sedikit lebih tinggi, memanipulasi ingatan bukanlah hal yang sulit.
Itu bukanlah metode yang sempurna.
Terlalu banyak celah.
Gu Changge jelas tidak merasa khawatir, yang berarti ia pasti punya cara lain untuk mengatasinya.
Memikirkan hal itu, Jiang Luoshen merasa segalanya menjadi semakin rumit.
"Syaratku sebenarnya sangat sederhana. Jika kau ingin tinggal, aku butuh seorang sandera dari klan Void Protoss yang berada di sisiku—jenis sandera yang bisa dipanggil kapan saja. Jika tidak, aku tidak bisa mempercayai kalian. Bagaimanapun, kedua belah pihak harus menunjukkan ketulusan dalam sebuah transaksi."
"Jangan menatapku seperti itu."
"Aku bisa memegang kendali atas nasib klarmu sekarang. Percaya atau tidak, aku hanya butuh satu kalimat saja saat ini, dan garis keturunan lainnya pasti akan tersulut kebencian lalu mengirim pasukan untuk memusnahkan klarmu."
"Saat itu terjadi, aku yakin Taixu Protoss tidak akan mampu menghentikannya... ck ck, lagipula, di balik delapan pemimpin sekte yang tewas itu terdapat sekte-sekte besar Jalur Tao..."
Gu Changge menuangkan secangkir teh untuk dirinya sendiri dengan perlahan, lalu berbicara dengan nada santai, seolah ia sedang membicarakan hal sepele.
Jiang Luoshen membayangkan kemungkinan yang diucapkan pria itu, membuat wajahnya memucat seketika. Namun, ia tetap menggertakkan giginya, mempertahankan raut sedingin es.
"Gu Changge, jangan keterlaluan. Aku bisa menyetujui syarat-syarat yang lain, tapi yang satu ini sama sekali tidak bisa."
"Jika kau butuh sandera, aku bisa mengirim pesan kepada Ayah agar mengirim adikku ke sini."
Ia memikirkan jalan kompromi.
Bukankah Gu Changge menginginkan sandera dan ketulusan?
Kalau begitu, adiknya bisa menggantikannya!
Dengan statusnya, bagaimana mungkin ia tinggal di sisi Gu Changge sebagai seorang sandera?
Terutama sandera yang harus siap dipanggil kapan saja.
Belum lagi fakta bahwa Gu Changge adalah sosok yang sangat berbahaya. Tinggal di sisinya berarti ia harus selalu waspada, tanpa tahu kapan nyawanya bisa melayang akibat kecerobohan kecil.
Rasa takut yang telah merasuk hingga ke tulang sumsumnya itu masih sering muncul sewaktu-waktu dan sulit dihapus dari hatinya.
Bagaikan mimpi buruk yang menghantui.
"Adikmu? Maksudmu calon kaisar dewa dari Taixu Protoss di masa depan itu?"
Gu Changge mengangkat alisnya, lalu menyeruput tehnya dengan santai.
"Meskipun adikku bukan calon kaisar dewa, dia juga seorang jenius berbakat di Taixu Protoss. Sekalipun bakatnya tidak sehebat diriku, pencapaiannya di masa depan tidak akan rendah..."
Jiang Luoshen menatap Gu Changge, merasa sangat gelisah.
Gu Changge tersenyum tipis dan berkata, "Apa gunanya mengatakan itu? Sebagai seorang kakak, begitu mudahnya kau mengorbankan adikmu sendiri? Sayangnya, aku hanya menginginkanmu."
"Jika syarat ini tidak bisa disetujui, maka tidak ada lagi yang perlu kita diskusikan."
Usai berkata demikian, ia kembali meminum tehnya dengan tenang, seolah tak ada beban.
Gu Changge sama sekali tidak terburu-buru.
Ia menduga Jiang Luoshen pada akhirnya akan mengalah dan membiarkan dirinya disandera. Di satu sisi, keberadaannya bisa membuat Klan Dewa Taixu berpikir dua kali untuk berulah.
Di sisi lain, baru-baru ini ia memang sedang membutuhkan seorang pelayan wanita.
Calon kaisar dewa dari Taixu Protoss—status seperti itu sudah lebih dari cukup untuk ukuran pelayan.
Tentu saja, jika Jiang Luoshen bersikeras menentangnya seperti yang ia lakukan di Makam Dewa Taixu tempo hari.
Maka Gu Changge sama sekali tidak keberatan untuk melenyapkannya sekali lagi.
Ia tidak percaya Jiang Luoshen memiliki begitu banyak jimat pelindung di tubuhnya.
"Gu Changge, apa... apa kau bisa mengganti syarat yang lain..."
Jiang Luoshen menggigit bibir peraknya erat-erat. Betapa pun kuat dan angkuhnya dirinya, pada saat ini ia merasa sangat terhina.
Meskipun sebelum datang ke Akademi Zhenxian ia telah mempersiapkan mental untuk menelan berbagai penghinaan.
Namun, ia benar-benar tidak menyangka tuntutan Gu Changge akan begitu keterlaluan!
Meski begitu, ia sangat kesulitan untuk menolaknya!
Sama seperti yang dikatakan Gu Changge, mereka tadinya mengira mereka memegang kartu As Gu Changge sehingga bisa menekannya untuk membuat kesepakatan.
Namun kenyataannya, kartu As itu sama sekali tidak berarti bagi Gu Changge; pria itu bahkan tidak peduli.
Sebaliknya, Gu Changge kini memegang urat nadi kehidupan klan mereka.
Delapan pemimpin sekte besar tewas!
Meskipun kedengarannya sepele, implikasi di balik peristiwa itu sangatlah mengerikan.
Kekuatan Jalur Tao Bafang—meskipun masing-masing sekte tidak sekuat Taixu Protoss.
Namun jika mereka digabungkan, sekuat apa pun akar dan warisan klan Taixu, mereka tetap harus merasa waswas dan mempertimbangkannya secara matang.
Bahkan jika ia menceritakan perkataan Gu Changge ini kepada ayahnya sekalipun.
Ayahnya pasti akan memaksanya untuk menyetujui syarat tersebut!
"Kenapa aku harus bersikeras pada syarat ini?"
Mendengar itu, Gu Changge berpikir sejenak dengan serius, lalu menatap Jiang Luoshen dari atas ke bawah. "Aku justru harus bertanya padamu. Meskipun perangai burukmu itu sudah mendarah daging, parasmu setidaknya cukup lumayan untuk memanjakan mataku."
Sebagai seorang putri dari Taixu Protoss.
Kecantikan Jiang Luoshen tentu saja tidak perlu diragukan lagi.
Rambut pirang bagaikan air terjun, postur tubuh tinggi semampai dengan kaki jenjang.
Fitur wajahnya begitu sempurna tanpa cela, kulitnya seputih es yang tampak begitu lembut seolah bisa pecah hanya dengan tiupan angin, serta memiliki garis wajah tiga dimensi layaknya pahatan patuh.
Gu Changge mengucapkan kalimat itu dengan tenang dan blak-blakan, tanpa ada niat menutup-nutupi, namun hal itu justru membuat Jiang Luoshen tertegun sejenak.
Ia belum pernah mendengar seseorang berbicara terus terang seperti itu kepadanya.
Biasanya ia sudah terlalu sering mendengar sanjungan dan pujian, hingga ia terbiasa. Namun, rasanya menjadi sangat berbeda ketika kata-kata itu keluar dari mulut Gu Changge.
Jadi, pria ini tahu kalau dirinya cantik?
Lalu kenapa saat di makam dulu pria itu tega berniat membunuhnya tanpa ampun?
"Huh!"
"Gu Changge, apa menurutmu perangaiku buruk?"
"Tapi, bagaimana bisa sifatmu sendiri dibilang lebih baik?" Jiang Luoshen tidak bisa menahan diri untuk tidak mendengus dingin. "Tapi untungnya, matamu tidak buta."
"Omong kosong tidak ada gunanya. Di mataku, jika kecantikanmu tidak bisa membuatku senang, aku bisa saja melenyapkanmu kapan pun aku mau."
Gu Changge menyeruput tehnya dengan santai, meliriknya sekilas, lalu berkata pelan, "Aku sudah memberikan pilihannya, terserah kau mau melakukannya atau tidak."
"Hmph, aku bisa menyetujui syaratmu, tapi kau harus berjanji tidak akan memaksaku melakukan hal-hal yang tidak kuinginkan."
"Selain itu, aku tidak boleh merugikan kepentingan Klan Taixu Protoss."
Melihat tatapan Gu Changge yang menyapu tubuhnya dari atas ke bawah, Jiang Luoshen tidak bersikap canggung seperti wanita pada umumnya.
Sebaliknya, ia menatap pria itu dengan dingin, dengan bangga memamerkan wajah cantiknya dan siluet tubuhnya yang sempurna secara terang-terangan.
"Oh, kalau aku memaksa, memangnya kenapa?"
Mendengar itu, Gu Changge tampak semakin tertarik dan berkata sambil tersenyum.
"Kalau begitu, aku pasti akan memutuskan hubungan dan bertarung sampai mati denganmu."
Tatapan Jiang Luoshen menajam. Sebuah jimat emas digenggam erat-erat di dalam genggaman tangannya yang bergiok.
Namun, mengingat dirinya bukan tandingan Gu Changge, ia terpaksa menelan kemarahan itu mentah-mentah.
Ia datang ke sini bukan untuk membalas dendam kepada Gu Changge, ataupun untuk mencari musuh.
"Kalau begitu, aku tidak bisa melakukannya."
Ujarnya dingin sambil memalingkan wajah ke samping.
"Kalau begitu, bisakah kau menuangkan teh untukku dan memijat bahuku?"
Ekspresi Gu Changge tetap tidak berubah, tampak luar biasa santai.
"Tidak bisa. Aku tidak akan pernah melayani siapa pun." Suara Jiang Luoshen terdengar dingin dan tanpa kompromi.
Sebagai putri dari Taixu Protoss, ia selalu berada di posisi tinggi dan memandang rendah segala hal.
Kapan ia pernah melayani orang lain? Apalagi menuangkan teh dan memijat bahu.
"Jadi, kau sedang mempermainkanku?"
Gu Changge tersenyum, namun sama sekali tidak terlihat marah. "Hal ini tidak bisa, hal itu tidak boleh, lalu apa yang sebenarnya bisa kau lakukan?"
"Apa kau benar-benar ingin aku menghabisimu sekarang?"
Ia mengucapkannya dengan ringan, tanpa menunjukkan emosi yang meluap.
Namun, Jiang Luoshen merasakan hawa dingin yang mengerikan serta niat membunuh yang pekat menerpa dirinya, membuatnya nyaris kehabisan napas dan tubuhnya sedikit gemetar.
"Aku..."
Wajah Jiang Luoshen sedikit memucat. Ia tidak kuasa menahan diri untuk tidak menggigit bibir bawahnya, sementara keringat dingin mulai merembes di punggungnya. Ia tahu betul bahwa ucapan Gu Changge adalah sebuah peringatan terakhir.
Jika ia terus keras kepala.
Maka akibat dari kunjungannya hari ini tidak akan berakhir baik.
"Di hadapanku, sebaiknya kau buang jauh-jauh tabiat putri manja itu. Siapa tahu suatu hari nanti saat suasana hatiku sedang buruk, aku benar-benar akan membocorkan rahasia klanmu itu."
Gu Changge meliriknya sekilas. "Tidak bisa melayani orang bukanlah masalah besar, kau bisa belajar."
"Tapi jika kau benar-benar tidak bisa belajar, maka kau tidak perlu hidup lagi di dunia ini."
Ucapannya terdengar sederhana, namun mengandung niat membunuh yang begitu nyata.
Wajah Jiang Luoshen berubah pucat pasi. Dalam lamunannya, ia seolah melihat lautan darah dan tumpukan mayat yang menerjang ke arahnya, membuat seluruh tubuhnya gemetar ketakutan.
Ia mengepalkan tangannya erat-erat, diliputi rasa enggan yang teramat sangat, namun ia sama sekali tidak memiliki keberanian untuk menentang Gu Changge.
"Aku... aku mengerti. Tapi Gu Changge, jangan bertindak terlalu keterlaluan."
Jiang Luoshen menggertakkan giginya, menarik napas dalam-dalam, dan berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Ia melangkah dengan kaku dan berjalan menghampiri Gu Changge.
Melayani seseorang untuk pertama kalinya dalam hidupnya.
Tentu saja gerakannya terlihat sangat canggung.
Melihat Gu Changge mengerutkan kening seolah tidak puas, tangannya bahkan sempat bergetar hingga nyaris menumpahkan teh tersebut.
Gu Changge menggelengkan kepalanya tipis-tipis dengan ekspresi jijik. "Menuangkan secangkir teh saja tidak becus, kau benar-benar tidak berguna."
Wajah Jiang Luoshen tetap tampak datar, namun hatinya dipenuhi rasa terhina yang luar biasa. Sejak kecil, ini adalah pertama kalinya ia dicaci maki separah itu.
Ia sangat ingin melemparkan cangkir teh itu tepat ke wajah pria tersebut.
Namun, ia hanya bisa memendam niat itu di dalam hatinya.
Sejak memasuki Akademi Zhenxian, Jiang Luoshen tidak pernah pergi dan memilih untuk tinggal di sana.
Banyak murid jenius dan para tetua yang mengetahui hal tersebut kemudian merasa sangat terkejut.
Awalnya mereka mengira Jiang Luoshen datang menemui Gu Changge untuk suatu urusan penting.
Namun siapa sangka, begitu datang ia justru enggan pergi dan malah menetap di sisi Gu Changge.
Apa arti dari semua itu?
Hal ini membuat banyak kultivator muda merasa iri sekaligus dengki. Pada saat yang sama, mereka diingatkan kembali tentang jurang pemisah yang begitu besar antara orang-orang—sebuah perbedaan yang bahkan tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata.
"Dia benar-benar tinggal di sana?"
Mendengar berita itu, Yue Mingkong merasakan sedikit rasa tidak nyaman di dalam hatinya.
Ia tidak tahu persis apa tujuan kedatangan Jiang Luoshen menemui Gu Changge, namun tindakan Jiang Luoshen saat ini sangat mirip dengan jalan cerita di kehidupan sebelumnya.
Hanya saja, di kehidupan lampau, wanita itu mendatangi kediaman Keluarga Gu untuk menemui Gu Changge.
Sedangkan di kehidupan ini, ia langsung menyusul ke Akademi Zhenxian.
Kendati demikian, Yue Mingkong tidak berniat mendatangi Jiang Luoshen untuk mencari masalah; ia merasa tidak perlu memedulikan hal semacam itu.
Adapun Jiang Chuchu dan Wang Zijin kebetulan sedang meninggalkan Akademi Zhenxian karena suatu urusan di Aula Renzu, sehingga mereka tidak mengetahui perkembangan ini.
Jika tidak, reaksi mereka dipastikan tidak akan jauh berbeda dari Yue Mingkong.
Sementara itu, selama beberapa waktu belakangan, seluruh kekuatan Jalur Tao di Wilayah Atas tengah sibuk mencari keberadaan Jiang Chen dan Biksu Pudu.
Selain itu, kemunculan fenomena 'zona kegelapan mutlak' yang sesekali muncul di berbagai tempat juga sempat memicu kepanikan yang cukup besar.
Di luar hal-hal tersebut, situasi tampak cukup tenang.
Selama beberapa waktu terakhir, Gu Changge terus mengerahkan orang-orang untuk menyelidiki lokasi cabang Menara Giok Chunfeng.
Langkah inilah yang justru menarik perhatian dari berbagai sekte dan kekuatan Jalur Tao.
Menara Giok Chunfeng adalah sebuah organisasi pembunuh bayaran yang jika dibandingkan dengan kelompok pembunuh legendaris seperti Kuil Buddha, Dunia Manusia, atau Alam Baka, skala mereka masih terpaut jauh.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, nama mereka mulai melambung di seluruh Wilayah Atas, dan tidak sedikit kultivator serta murid jenius yang tewas di tangan para pembunuh mereka.
Gu Changge mengerahkan banyak orang untuk memburu lokasi Menara Giok Chunfeng, membuat banyak orang kebingungan dan gagal memahami alasan di balik tindakannya.
Mungkinkah Menara Giok Chunfeng telah menyinggung Gu Changge?
Bahkan, Gu Changge juga mengeluarkan sebuah sayembara berhadiah.
Setiap kultivator yang berhasil menangkap pembunuh dari Menara Giok Chunfeng bisa datang kepadanya untuk mengambil hadiah berharga.
Seketika, banyak kultivator di Wilayah Atas yang bergerak bagaikan angin, berbondong-bondong memburu markas dan anggota Menara Giok Chunfeng.
Banyak cabang organisasi itu yang akhirnya berhasil dihancurkan.
Meskipun para pembunuh Menara Giok Chunfeng terbiasa bersembunyi dan dikenal memiliki loyalitas tinggi hingga memilih mati daripada menyerah.
Namun di bawah berbagai metode interbiar menakutkan milik Gu Changge, mereka akhirnya tetap membuka mulut dan membocorkan beberapa rahasia terkait Menara Giok Chunfeng yang terjadi beberapa waktu lalu.
"Sepertinya Bai Lian'er telah meninggalkan Wilayah Atas, dan membawa serta banyak ahli dari Menara Giok Chunfeng menuju Alam Iblis? Apakah dia berencana untuk mengirimkan surat itu terlebih dahulu, sebelum memikirkan cara menyelamatkan Bai Kun?"
Gu Changge sedikit mengangkat alisnya.
Jika situasinya seperti itu, maka tidak ada lagi alasan baginya untuk terus tinggal di Akademi Zhenxian. Rencana awalnya memang menunggu Bai Lian'er menampakkan diri.
Namun tampaknya, Bai Lian'er jauh lebih cerdas dari perkiraannya dan memilih untuk tidak datang kemari.
"Sepertinya aku harus membereskan urusan di pihak Bai Kun terlebih dahulu."
Gu Changge memberikan perintah kepada bawahannya.
Tak lama kemudian, ia meninggalkan Akademi Zhenxian tanpa membawa satupun pengikut dari generasi muda.
Sebab, para pengikut dari generasi muda kini sudah tidak lagi berguna baginya.
Kesenjangan kekuatan yang terlalu jauh membuat mereka paling-paling hanya bisa dijadikan pajangan untuk pamer pamor.
Oleh karena itu, Gu Changge mengalihkan pandangannya pada para ahli dari tingkat yang lebih tinggi.
Paling tidak, tingkat kultivasi mereka harus berada di alam Suci agar memenuhi kualifikasi untuk menjadi pengikut dan melaksanakan perintahnya.
Ia menyuruh Jiang Luoshen kembali ke Taixu Protoss untuk mengerahkan beberapa orang, sementara ia sendiri bertolak menuju Wilayah Bintang Kekacauan (Chaos Star Territory).
Wilayah Bintang Kekacauan, sesuai dengan namanya, adalah tempat yang sangat kacau dan dipenuhi oleh pecahan-pecahan benua yang hancur.
Sangat luas dan megah, cahaya bintang bertebaran di mana-mana, serta dipenuhi dengan bangkai-bangkai bintang dan pulau melayang yang berserakan di segala penjuru.
Setiap harinya, orang bisa melihat berbagai karavan dagang dan kultivator lalu-lalang di tempat ini.
"Tuan Muda."
Di sebuah kota kuno jauh di dalam Wilayah Bintang Kekacauan, ia akhirnya bertemu dengan Ji Qingxuan.
Gadis itu sedang memberikan arahan kepada sekelompok orang di dalam aula utama.
Wajahnya putih bersih dengan fitur yang rupawan, rambutnya lembut tergerai, mengenakan gaun panjang berwarna ungu yang memancarkan aura dingin sekaligus cemerlang.
Ji Qingxuan sama sekali tidak mengecewakannya.
Di bawah kepemimpinannya, Wilayah Bintang Kekacauan kini tampak jauh lebih tertib dan teratur.
Dalam hal birokrasi dan ketertiban, wilayah ini jauh lebih stabil dibandingkan saat dikuasai oleh Tiga Belas Bandit di masa lalu.
Gadis itu kini bahkan telah memancarkan aura seorang pemimpin sejati.
Setelah merasakan manisnya kekuasaan, kobaran api yang disebut ambisi itu tidak lagi bisa dihentikan untuk membakar angkasa.
Begitu melihat Gu Changge, Ji Qingxuan tampak sangat gembira. Ia langsung merangkul lengan pria itu dan melaporkan berbagai pencapaian yang diraihnya selama kurun waktu tersebut.
Sikapnya sungguh mencerminkan seorang bawahan yang berusaha mencari muka di hadapan atasannya.
"Pendapatan selama periode ini setidaknya meningkat 30% dibandingkan saat wilayah ini dikuasai Tiga Belas Bandit. Banyak karavan dagang yang kini jauh lebih patuh dan tidak berani lagi menghindari pajak jalan, sementara tingkat korban jiwa juga berkurang drastis..."
"Dalam waktu tiga tahun, aku yakin bisa melipatgandakan wilayah kekuasaan ini!"
Ia berbicara dengan penuh percaya diri, menunjukkan bakat alami dalam hal tata kelola wilayah.
"Kerja bagus."
Gu Changge mengangguk pelan, lalu memeriksa catatan perkembangan wilayah tersebut selama periode ini.
Setelah itu, ia memilih sejumlah besar ahli dari kelompok bandit di sana untuk dibawa serta, di mana tingkat kultivasi terendah dari mereka sudah berada di Alam Suci.
Di antara mereka juga terdapat beberapa praktisi dari Tanah Suci Agung yang tadinya melarikan diri ke mari akibat menyinggung sekte lain dan terbiasa hidup di ujung tanduk dengan menjilat darah musuh.
Mereka adalah sekelompok orang nekat yang kuat dan memiliki pengalaman tempur yang luar biasa.
Mereka tentu saja tahu siapa identitas Gu Changge, dan merasa sangat gembira ketika mengetahui bahwa mereka bisa mengikuti pria tersebut.
Dengan latar belakang identitas seperti itu, apa arti dendam dari musuh-musuh masa lalu mereka?
Dalam sekejap mata, para bandit yang dulunya ditakuti karena kekejaman mereka kini beralih status menjadi bawahan setia Gu Changge.
Berbagai klan dari era Xiangu serta keluarga Gu dari jalur keabadian juga turut mengirimkan banyak ahli atas perintah Gu Changge.
Setelah menyelesaikan semua persiapan itu, Gu Changge memimpin sekelompok bawahannya menuju tempat yang telah disepakati untuk menunggu kedatangan Jiang Luoshen.
"Kau ingin pergi ke alam iblis untuk mencari seseorang, lalu apa urusannya denganku?"
Dari kejauhan, suara Jiang Luoshen terdengar. Ia tampak menaiki awan keemasan dengan pendar cahaya yang membumbung ke langit, diikuti oleh banyak ahli dari klan Taixu Protoss di belakangnya.
Wajahnya tampak sangat dingin, dan nada bicaranya dipenuhi dengan rasa tidak puas.
Selama periode ini, ia benar-benar menderita di bawah kendali Gu Changge, hingga keangkuhannya berhasil dikikis habis.
Terlebih lagi, Gu Changge memperlakukannya sepenuhnya seperti seorang pesuruh.
Bahkan ketika hendak pergi ke alam iblis untuk mencari orang, pria itu tetap memerintahkannya pulang ke Taixu Protoss untuk mengerahkan pasukan.
Benar-benar diperlakukan layaknya alat.
Namun... tanpa sadar ia juga mendapati dirinya mulai terbiasa dengan situasi di mana ia harus menuruti perintah pria tersebut.
"Saya telah melihat Tuan Muda Changge."
Banyak ahli dari Taixu Protoss memberi hormat kepada Gu Changge dengan sikap penuh rasa hormat.
Meskipun mereka tahu Gu Changge berniat memperalat klan mereka, tidak seorang pun dari mereka yang berani mengajukan protes.
"Lalu, kenapa kau malah ikut datang?"
Mendengar itu, Gu Changge melirik Jiang Luoshen sekilas dengan santai.
"Aku... tentu saja aku khawatir kau akan membiarkan orang-orang dari klan ku mati sia-sia," jawab Jiang Luoshen dingin.
"Benarkah? Kalau begitu, kebetulan sekali ada seorang pelayan tambahan yang bisa dimanfaatkan di perjalanan."
Gu Changge tidak mempermasalahkan jawabannya, lalu berjalan langsung menuju jalur luar angkasa yang terhubung ke alam iblis.
Berbeda dari dunia-dunia lainnya.
Alam Iblis memiliki keistimewaan tersendiri. Wilayah itu terletak di area pusat Wilayah Atas, di mana terdapat jalur ruang angkasa khusus yang memungkinkan seseorang melintasi hambatan antar-dunia dengan mudah.
Kini di Wilayah Atas, reputasi Gu Changge telah mencapai puncak yang belum pernah dicapai siapapun sebelumnya.
Setiap gerak-geriknya selalu berada di bawah pengamatan publik.
Bahkan banyak orang yang berspekulasi kapan pemuda itu akan mengambil alih tampuk kepemimpinan tertinggi keluarganya.
Dengan kekuatan yang dimilikinya saat ini, hal itu tentu bisa dilakukannya dengan sangat mudah.
Kepala keluarga dari klan keabadian yang baru berusia dua puluhan?
Dan tiba-tiba saja, ia mengerahkan sejumlah besar ahli menuju alam iblis, sebuah tindakan yang langsung menyita perhatian dari berbagai kekuatan Jalur Tao.
Banyak kultivator dan makhluk hidup yang merasa terkejut, berspekulasi tentang alasan di balik tindakan besar-besaran yang dilakukannya itu.