Namun, Ling Yuling sudah sejak lama tahu bahwa hal ini akan terjadi. Cahaya dan debu di langit memadat, berubah menjadi sebuah tangan raksasa berwarna putih, lalu maju untuk berbenturan dengan telapak tangan roh keabadian itu.
Daya benturan tersebut benar-benar mengerikan.
Bahkan sisa dari gelombang kejutnya saja sudah cukup untuk melenyapkan satu dunia.
Rasanya seolah-olah dunia dijungkirbalikkan dalam sekejap, dan kekuatan yang mahakuas serta bergejolak itu berniat menghancurkan segalanya.
Untungnya, meskipun tempat ini tidak berada di dunia nyata, terdapat kekuatan dari Gerbang Kehidupan Abadi yang menjaga kestabilannya di sini.
Jika tidak, benturan tadi saja sudah cukup untuk merobek lapis-lapis penghalang ruang dan memicu kehebohan di dunia luar.
Aura kelam kembali menelan tempat itu, dan roh keabadian menyerang sekali lagi, tidak membiarkan Ling Yuling untuk terus memulihkan diri.
Namun, Ling Yuling tetap melawan dengan gagah berani. Jiwa sejati miliknya menjadi semakin padat, dan kekuatan yang bisa ia keluarkan semakin luar biasa.
Pada saat yang sama, ia juga berusaha membangkitkan kekuatan raganya, mencoba menggunakan kekuatan fisik tersebut untuk menekan serta memusnahkan roh keabadian.
Tempat ini seolah-olah sedang mengalami penciptaan kembali dunia. Semula tempat ini berada di dimensi kehampaan dan kekacauan, tetapi akibat pertempuran keduanya, ruang di sana terus-menerus retak dan terbentuk ulang.
Selama bertahun-tahun yang tak terhitung jumlahnya, keduanya telah bertempur entah sudah berapa kali, dan mereka sudah tahu cara untuk menghadapi metode satu sama lain.
Namun, seperti yang dikatakan oleh Roh Keabadian, ia memiliki cara lain, dan Ling Yuling tentu saja juga menyimpan jurus yang belum pernah ia gunakan sebelumnya.
Pada saat ini, tubuh Ling Yuling di dalam bola cahaya tiba-tiba bergetar bagaikan mata air.
Segera setelah itu, sebuah tusuk konde emas dengan sayap phoenix melesat keluar secara tiba-tiba, menyerupai seekor burung phoenix ilahi yang mengembangkan sayapnya, berputar diiringi kobaran api sejati dari jalan agung, memancarkan kekuatan dewa yang tak tertandingi.
Api sejati itu membubung tinggi, bercampur dengan aura tertinggi yang menyerupai jalan agung, terus-menerus membakar tempat ini.
Kesadaran roh keabadian itu hampir menyatu dengan ruang ini, tetapi di bawah bakaran api dari Burung Phoenix Ilahi ini, kesadaran tersebut terus-menerus memudar, menunjukkan tanda-tanda kemusnahan hingga menjadi debu halus.
Ia terkejut, merasa sangat ketakutan, dan tidak menyangka Ling Yuling mampu mengerahkan senjata di tingkat Dao.
Ini jelas merupakan harta rahasia yang telah ia bina dan kembangkan selama bertahun-tahun yang tak terhitung jumlahnya. Senjata ini sama sekali tidak bisa disamakan dengan senjata yang ada di alam Dao biasa. Kekuatannya begitu mencengangkan hingga mampu melukainya secara telak.
Sebelum ini, Ling Yuling tidak pernah menggunakan cara seperti itu, yang jelas sengaja disimpannya untuk hari ini.
"Aku tidak bisa menghadapimu, jadi aku tidak bisa menghadapi saudaramu?"
Suaranya tiba-tiba menjadi sangat dingin. Ia memilih untuk mengabaikan sebagian kesadaran yang sedang hancur ini dan berbalik untuk menghadapi Ling Yuxian dengan seluruh kekuatannya.
Kesadaran sejati miliknya selalu disegel di dalam Gerbang Kehidupan Abadi. Jadi, bahkan jika sebagian kesadaran ini musnah, itu tidak akan memberikan dampak yang besar.
Terlebih lagi, ia sudah merasakan bahwa sebagian kesadaran yang ditinggalkannya di dalam tubuh leluhur Klan Jing sedang mendekat ke arah sini.
Ini menunjukkan bahwa langkah cadangan yang dipersiapkannya pada Klan Jing telah membuahkan hasil.
"Kamu sama sekali tidak punya harapan."
Sebagian kesadaran roh keabadian itu terus-menerus dimusnahkan, tetapi ia masih sempat-sempatnya mencibir.
Aura gelap yang bergejolak begitu pekat bagaikan gelombang pasang, bergegas menerjang Ling Yuxian dengan liar, seolah ingin menenggelamkannya sepenuhnya ke dalam kegelapan.
Meskipun Ling Yuxian dilindungi oleh kakaknya, ia merasa sangat tidak nyaman dan kesakitan saat ini. Jiwa sejatinya terasa seperti hendak pecah berkeping-keping, seolah-olah sedang mengalami siksaan kejam.
Aura kegelapan itu meresap ke mana-mana, dan dengan kekuatan pembusukan yang dimilikinya, itu sudah cukup untuk mengubah seluruh materi di dunia ini menjadi lapuk dan tiada.