I Am The Fated Villain - Chapter 1148 — NovelArc
Request novel bisa langsung di tab request ya, bebas request semua novel dari novelupdates

Chapter 1148 · 3m baca

Chapter 1148.0

by 天命反派

Di atas Sungai Zigui, sebuah perahu giok terapung anggun. Gu Changge berdiri dengan tangan ditaruh di punggung, berdiri sendiri di haluan kapal. Rambut hitamnya tergerai tertiup angin, jubah putihnya bahkan lebih putih dari salju tanpa ada noda sedikit pun, tampak seperti dewa abadi yang baru saja keluar dari gulungan lukisan.

Di dekat kompor teh yang tak jauh dari sana, Ye Suyi meletakkan guqin yang tadinya ia pangku, lalu mulai menggunakan kipas kecil untuk mengatur panas api.

Meskipun situasinya di Gunung Zixiao tidak begitu baik.

Namun, sebelum ibunya meninggal karena sakit, ia sebenarnya adalah seorang putri dari keluarga kaya yang dibesarkan dengan penuh kasih di balik tirai kamar yang megah.

Jari-jarinya yang lentik tak pernah menyentuh air dingin, dan ia bisa dibilang sangat mahir dalam segala hal—mulai dari seni musik, catur, kaligrafi, hingga lukisan.

Terutama bakatnya dalam seni Qin (musik tradisional) yang sangat luar biasa, bahkan di usia mudanya ia sudah memiliki aura seorang maestro.

Setelah datang ke Gunung Zixiao untuk mencari ayah kandungnya, ia justru berakhir menjadi seorang pelayan di sisi Zi Susu.

Namun, di satu sisi, pengalaman itu juga mengasah kemampuan bermain piano dan meracik tehnya hingga ke tingkat yang tinggi.

Sepasang tangan gioknya yang ramping dan tanpa cela, jernih serta putih bersinar, mengangkat teko teh dan mencuci peralatan minum teh dengan teliti. Bahkan gerakan saat ia menuangkan teh pun terlihat begitu anggun dan enak dipandang mata.

Ye Suyi menundukkan kepala, berkonsentrasi membuat teh sembari membersihkan peralatan teh. Dari waktu ke waktu, ia mengangkat kepalanya untuk mencuri pandang ke arah sosok ramping di buritan kapal, dengan sedikit rona kemerahan yang melintas di matanya.

Mungkin tindakan saling membantu pada saat itu, bagi Gu Changge, hanyalah sebuah tindakan tak disengaja, atau sekadar rasa iba sesaat.

Namun baginya, itu adalah seberkas cahaya terang di masa lalunya yang suram dan kelam, cukup untuk menerangi segala kabut, kesedihan, dan keputusasaan yang menyelimuti hidupnya.

Saat itu, ia sudah berpikir untuk mengakhiri semuanya saja, menganggap kematian sebagai akhir dari hari-hari yang tanpa harapan dan penantian.

Namun, tepat pada saat ia merasa paling tak berdaya dan putus asa, Gu Changge-lah yang muncul.

Bahkan, pria itu mengulurkan tangan kepadanya dan menyerahkan sebuah saputangan bersih untuk menyeka darah di wajahnya.

Bagi Ye Suyi, itu bagaikan sehelai jerami penyelamat yang tiba-tiba muncul di tengah lautan, membuatnya kembali melihat secercah harapan.

Ternyata, masih ada orang baik di dunia ini, dan masih ada orang yang bersedia membantunya.

"Sepertinya semuanya sudah berakhir. Meskipun sedikit lebih lambat dari yang kuduga, itu sama sekali tidak merugikan."

Gu Changge berjalan mendekat dari buritan kapal dan mengalihkan pandangannya ke kejauhan.

Pertempuran di ujung cakrawala telah mencapai akhirnya. Seperti yang telah ia duga, Paman Fu bukanlah tandingan Di Kun.

Meskipun Paman Fu sempat mengulurkan waktu untuk Chu Xiao, waktu itu sama sekali tidak berguna bagi Di Kun.

Bagaimanapun juga, Di Kun adalah eksistensi yang telah selamat dari enam bencana surgawi.

Kekuatannya sudah cukup untuk menandingi eksistensi seperti Fengxie yang keruh dan Hun Yuanjun, sehingga hanya tinggal menunggu waktu baginya untuk menyusul Chu Xiao.

"Jika memang begitu, maka sudah saatnya bagiku untuk bergerak sekali lagi."

Gu Changge melepaskan senyum tipis.

Kemudian, kehampaan di belakangnya bergetar samar, dan sesosok bayangan Raja Leluhur Tulang Putih muncul.

"Tuan Muda."

"Pergilah dan bawa kembali pelayan tua di sisi Chu Xiao itu," perintah Gu Changge.

Raja Leluhur Tulang Putih merasa sedikit terkejut dan bingung, namun ia tidak bertanya lebih jauh. Sosoknya langsung menghilang dan melesat cepat menuju benua liar tempat Paman Fu jatuh.

Setelah Raja Leluhur Tulang Putih pergi, Gu Changge menatap Ye Suyi yang masih berada di atas perahu.

Seakan menyadari tatapannya, Ye Suyi yang tadinya sedang fokus membersihkan peralatan teh tiba-tiba merasa daun telinganya menghangat, hingga ia tidak berani mengangkat kepala untuk menatap Gu Changge.

"Kau sekarang sudah bebas, kau tidak perlu lagi tinggal di sisiku, dan tidak akan ada lagi orang yang mengekangmu mulai sekarang."

Gunakan ← → untuk pindah chapter