“Luo Ye, pernahkah kamu mendengar legenda Pulau Penutup Kabut?”
Di ruangan yang terang itu, seorang wanita berpakaian putih duduk berhadapan dengan Luo Ye. Mereka saling memandang, mata keemasan mereka beradu, memperlihatkan pantulan diri masing-masing dengan jernih di dalam pupil mereka.
Luo Ye menjawab wanita itu dengan sejujurnya.
“Aku belum pernah mendengarnya,” kata wanita itu, lalu ia ragu-ragu. “Ah, tidak juga. Aku tahu kata itu, tapi…”
“Tapi kamu hanya mendengarnya dari dalam mimpi, kan?”
> Wanita itu menatap Luo Ye, tatapannya begitu tajam dan penuh keyakinan.
Luo Ye terkejut. “Bagaimana kamu tahu…?”
Wanita itu terkekeh kecil. “Tentu saja aku tahu. Bagaimanapun juga, darah yang sama mengalir di dalam tubuh kita. Tidak peduli itu mimpi atau hal lainnya, semuanya karena darah kita.
“Dan… kita berdua juga memikul kutukan yang sama di dalam tubuh kita.”
Melihat ekspresi wanita itu berubah serius, Luo Ye tidak bisa menahan diri untuk bertanya.
> “Kutukan seperti apa?”
“Hei, sabarlah,” wanita itu mendongak, kepekatan di matanya telah lenyap. “Katakan padaku dulu, seperti apa mimpimu itu?”
Luo Ye mengangguk.
> “Baiklah.”
Mimpi itu adalah rahasia Luo Ye.
Baru sekarang ia akhirnya memiliki kesempatan untuk membicarakannya.
Untuk waktu yang sangat, sangat lama, Luo Ye selalu mengalami mimpi yang aneh.
Di dalam mimpinya, ia sedang menyusuri jalan yang gelap. Jalan itu dikelilingi oleh kabut, diterangi oleh cahaya kuning pucat dari lampu-lampu jalan, membuat segala sesuatu di sekitarnya tampak kabur.
Itu adalah mimpi sadar, dan Luo Ye tahu betul apa yang sedang dilakukannya. Ia mengenali setiap tanaman dan batu di dalam mimpinya itu, dan ia juga tahu bahwa jika ia berjalan sampai ke ujung jalan tersebut, ia akan melihat sebuah gereja putih yang terang.
Di dalam gereja itu ada seorang wanita muda. Dialah satu-satunya orang selain Luo Ye di dalam mimpi tersebut.
Terkadang, Luo Ye akan tiba di gereja dan duduk di bangku barisan depan, menatap wanita itu dalam diam. Kaca patri yang besar memantulkan warna-warni cahaya ke wajahnya. Seolah-olah waktu itu sendiri telah berhenti.
Namun hari ini, mimpinya telah berubah.
Biasanya, wanita itu hanya duduk di depan sebuah piano di bawah jendela kaca patri, mengenakan seragam biarawati berwarna hitam dan putih, bagaikan seekor burung layang-layang laut yang gesit. Ia akan mengangkat kepalanya, memejamkan mata, dan menekan jemarinya di atas tuts piano. Sebuah melodi yang jernih bagaikan aliran sungai mengalir dari ujung jemarinya saat ia mulai bernyanyi.
Tetapi hari ini, ia tidak duduk di depan piano. Segala suara telah lenyap, seolah-olah mereka telah sirna ditelan kegelapan abadi.
Wanita itu memegang sebuah salib dan berdiri tegak tepat di bawah jendela kaca patri. Karena ia membelakangi cahaya, bayangan warna-warni tersebar di sekelilingnya. Luo Ye tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas, namun ia bisa merasakan kesedihannya, serta sebutir air mata yang menetes dari pipinya.
Ia mulai merasa panik.
Meskipun ia tahu itu hanyalah sebuah mimpi, siapa pun yang telah mengalami mimpi yang sama selama sepuluh tahun pasti akan menganggapnya sebagai bagian tetap dalam hidup mereka. Belum lagi, segala sesuatu di sini, termasuk wanita itu, memiliki makna yang sangat mendalam bagi Luo Ye.
“…Kenapa?” Luo Ye menatap ke arahnya, memohon sebuah jawaban.
“Temukan aku. Kamu harus menemukannya,” jawab wanita itu.
“Ye, kamu harus menemukannya. Waktu kita hampir habis. Tidak ada seorang pun yang bisa melawan siklus takdir…”
> Wanita itu mengulurkan tangan dan tersenyum.
“Aku akan menunggumu di Pulau Penutup Kabut.”
Begitu kata-kata itu terucap, gereja besar tersebut mulai runtuh. Lantai di hadapan Luo Ye telah ambruk, membuatnya tidak bisa melangkah maju sedepa pun. Ia menatap mata wanita itu melalui celah reruntuhan, tanpa menyadari bahwa air mata telah mengalir membasahi pipinya sendiri.
Ia mengulurkan tangannya, namun ia hanya bisa merasakan hawa dingin.
Kesadarannya menjadi kabur, lalu perlahan menjernih. Ia tahu bahwa ia akan segera terbangun.
Namun ia tidak ingin melakukannya. Mimpinya akhirnya berubah setelah sekian tahun lamanya…
“Ibu…”
Ia menggumamkan identitas wanita itu, lalu melayang di tengah kekacauan.
“Dan itulah mimpiku,” kata Luo Ye. “Mimpi itu berubah pagi tadi.”
“Menarik…” komentar wanita itu setelah mendengar cerita Luo Ye.
Menatapnya, Luo Ye akhirnya mendapatkan keberanian untuk mengajukan pertanyaannya.
“Kenapa mimpiku berubah hari ini? Mimpi itu selalu sama selama bertahun-tahun ini! Kenapa ibu tiba-tiba berbicara kepadaku?”
Ia tadinya berpikir bahwa mimpi yang terus berulang itu terjadi karena ia tidak bisa merelakan masa lalu. Namun sekarang, tampaknya segala sesuatunya tidak semudah itu.
“Baiklah, aku akan menceritakan detailnya nanti,” wanita itu ragu-ragu sejenak, lalu melanjutkan. “Oh ya, aku sudah lama ingin bertanya. Latar belakang ponselmu itu…”
“…Mereka keluargaku,” jawab Luo Ye dengan sedikit kesedihan. “Tapi mereka semua sudah…”
Di dalam foto itu tampak seorang pria, seorang wanita, dan dua orang anak. Luo Ye menggenggam ponselnya begitu erat hingga hampir remuk.
Setiap orang di dalam foto itu pernah menjadi keluarga yang amat ia sayangi.
Di dalam foto tersebut, Luo Ye kecil duduk di dalam dekapan ibunya sambil tersenyum lebar. Ayahnya juga sedang menggendong seorang anak, yang ekspresinya terlihat jauh lebih dewasa dari usianya. Namanya adalah Luo Hua, dan dia adalah saudara kembar kakak Luo Ye.
Senyuman keluarga itu terekam dalam satu foto, seolah-olah waktu telah membeku.
Namun pada tahun yang sama, ibunya membawa serta kakaknya menaiki kapal feri “Blue Waves” untuk berlibur, dan tidak pernah kembali lagi.
Satu jam setelah Blue Waves bertolak dari dermaga, seluruh 1,800 orang di atas kapal, serta kapal feri itu sendiri, lenyap tanpa jejak.
Luo Ye masih ingat hari itu sangat cerah tanpa sebutir awan pun. Ia sedang melambaikan tangan mengucapkan selamat tinggal kepada ibu dan kakaknya di dekat dermaga bersama ayahnya.
Ayahnya tidak bisa ikut karena urusan pekerjaan, sementara Luo Ye tertinggal di rumah karena sedang sakit dan tidak diizinkan ikut bepergian. Ia ingat sempat merasa sedikit iri pada kakaknya saat itu.
Siapa yang menyangka hal seperti itu akan terjadi?
Setelah Blue Waves kehilangan kontak, pemerintah mengerahkan banyak personel untuk misi penyelamatan, namun tidak ada hasil sama sekali.
Bahkan jika telah terjadi kecelakaan, mereka seharusnya menemukan bangkai kapalnya. Yang paling mencemaskan adalah tidak ada satu pun barang yang berkaitan dengan Blue Waves yang pernah ditemukan di area tersebut.
Pada akhirnya, pemerintah terpaksa menyerah, dan “Hilangnya Blue Waves” menjadi sebuah kasus yang tak terpecahkan. Ada banyak sekali rumor tentang kasus tersebut, masing-masing terdengar semakin tidak masuk akal.
Dan sejak ibu serta kakaknya dinyatakan hilang, Luo Ye terus-menerus mengalami mimpi yang sama.
Di dalam mimpinya, ia melihat ibunya di masa muda. Wanita itu duduk diam di bawah jendela kaca patri, seolah-olah ia telah berada di sana sejak awal mula waktu.
Selama bertahun-tahun, Luo Ye mengembangkan perasaan yang rumit terhadap mimpi itu. Awalnya ia terkejut. Lalu ketakutan. Dan akhirnya… mati rasa.
Bagaimanapun juga, malam demi malam, ia akan melangkah ke dalam kabut itu, menyusuri jalan yang sama, melihat keluarganya namun tidak pernah bisa mendekati mereka. Setelah sekian lama, mimpi itu kehilangan seluruh maknanya.
Namun sekarang, mimpi itu telah berubah.
Ibunya telah berbicara kepadanya.
Entah mengapa, Luo Ye merasakan firasat buruk yang merayap di dalam hatinya…
…Seolah-olah ia tidak akan pernah bisa bermimpi tentang ibunya lagi.
“…Aku minta maaf,” wanita itu tidak kuasa menahan diri untuk tidak bergumam saat melihat foto tersebut. “Aku tidak bermaksud mengungkit kenangan sedih.”
Luo Ye menggelengkan kepalanya. “Tidak apa-apa. Semuanya sudah berlalu.”
…Apakah benar sudah berlalu?
Jika ia benar-benar telah merelakan masa lalu, ia tidak akan duduk di sini, berbicara dengan wanita ini.
Wanita itu menatap Luo Ye, seolah-olah ia bisa melihat menembus setiap pertahanan yang dibangun pemuda itu.
> “Itulah sebabnya kamu setuju untuk menemuiku saat mendengar kalimat itu, kan?”
Pagi ini.
“…Pulau Penutup Kabut?”
> Luo Ye tiba-tiba teringat kalimat yang ditinggalkan oleh ibunya di dalam mimpinya.
“Aku akan menunggumu di Pulau Penutup Kabut.”
Ibunya telah menyebutkan sebuah tempat secara spesifik. Itu adalah pertama kalinya ibunya melakukan hal tersebut. Luo Ye mengeluarkan ponselnya dan mulai mencari istilah itu.
Namun, tidak peduli bagaimana ia mencarinya, tidak ada satu pun hasil yang berguna. Kata “Penutup Kabut” atau Fogshroud adalah kata yang cukup umum, dan ia tidak dapat menemukan apa pun. Luo Ye merasa kecewa.
Ia duduk bersandar di tempat tidurnya untuk waktu yang sangat lama, sampai ia mendengar langkah kaki bibinya setelah bangun tidur, diikuti oleh suara-suara aktivitas memasak dari arah dapur. Akhirnya, ia tersadar dari lamunannya, meregangkan tangan dan kakinya, bangkit, dan keluar dari kamarnya.
“Oh, Ye! Kamu sudah bangun.”
> Begitu membuka pintu, ia melihat sesosok wajah yang akrab. Itu adalah bibinya. Sejak ibunya menghilang, dialah yang merawat Luo Ye.
Bibinya menyeka tangannya sambil tersenyum. “Pergi dan sikat gigimu sana. Bibi mau membangunkan adik perempuanmu.”
Kemudian, wanita itu berjalan ke pintu yang lain dan mengetuknya dengan keras.
> “Matahari sudah bersinar terang! Cepat bangun! Kakakmu sudah bangun, jadi bibi ingin melihatmu sudah berpakaian dan keluar untuk sarapan sebentar lagi!”
Ia bisa mendengar sepupunya, Fang Xiaoting, berteriak dari dalam kamarnya.
> “Aku masih mau tidur!”
Mendengar perdebatan antara bibi dan sepupunya itu, Luo Ye akhirnya tersenyam. Ia merasa dirinya kembali menjadi manusia seutuhnya.
Selama bertahun-tahun ini, ia tinggal bersama bibinya. Bibi dan pamannya memperlakukannya dengan sangat baik, dan ia sudah menganggap sepupunya seperti adiknya sendiri. Berkat merekalah ia tidak merasa begitu kesepian.
…Tetapi setiap kali ia memikirkan keluarganya yang hilang, Luo Ye masih merasa seolah-olah ada secuil bagian di dalam hatinya yang telah hilang.
Selain ibu dan kakaknya, ada juga… pria yang seharusnya ia panggil ayah.
Luo Ye menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir bayangan pria itu dari pikirannya.
Sarapan telah siap di meja. Pamannya menyapa Luo Ye begitu melihatnya. Tidak lama kemudian, sepupunya akhirnya terbangun, menyikat giginya, dan berjalan menuju ruang makan. Ia duduk di samping Luo Ye dan memukul lengannya pelan.
> “Ini semua salahmu gara-gara kamu aku jadi tidak bisa tidur lagi!”
Luo Ye tersenyum. “Itu justru bagus. Kalau tidak, nanti saat sekolah dimulai, kamu akan selalu bangun kesiangan.”
“Ih!” Fang Xiaoting bergumam kesal lalu mulai makan. “Kamu menyebalkan sekali! Aku tidak mau ngobrol lagi denganmu!”
Suasana di ruang makan terasa begitu damai. Luo Ye tidak menceritakan tentang mimpinya. Ia tidak ingin keluarganya merasa khawatir.
“Ye,” bibinya ragu-ragu sejenak, lalu bertanya. “Bibi tahu ini terdengar mendadak, tapi seberapa banyak yang kamu ingat tentang kerabat dari pihak Ibumu?”
“Dari pihak Ibu?” Luo Ye tampak kebingungang. “Sepertinya aku tidak pernah bertemu dengan satupun dari mereka.”
Dulu, setelah ibu Luo Ye bersama dengan ayahnya, ibunya telah memutuskan segala hubungan dengan keluarganya. Luo Ye hanya tahu bahwa keluarga ibunya — keluarga Ye — adalah sebuah keluarga besar.
Selebihnya, ia sama sekali tidak tahu apa-apa.
“Huh, begitu ya?”
> Bibinya, Luo Yuehua, tampak terkejut.
> “Tadi pagi ada seseorang yang menelepon, mengaku sebagai sepupu mu. Kamu belum bangun saat itu, dan anak perempuan itu meminta bibi untuk menyampaikan pesan bahwa dia ingin menemuimu. Bibi merasa agak aneh saat itu — lagipula, kita belum pernah melihat satu pun anggota keluarga dari pihak Ibumu selama bertahun-tahun ini. Itulah sebabnya bibi tidak langsung mengiyakannya dan bilang akan mengonfirmasinya kepadamu dulu.”
“…Aku tidak tahu siapa dia,” Luo Ye berhenti sejenak. “Sebelum ibu menghilang, dia sama sekali tidak pernah menceritakan tentang keluarganya.”
Luo Ye selalu berpikir itu karena ibunya memiliki hubungan yang buruk dengan keluarganya.
Bibinya mengangguk. “Meskipun begitu, dia mungkin memang sepupumu. Mungkin dia tidak sengaja menemukan informasi tentangmu dan ingin menjengukmu? Kenapa tidak menemuinya saja? Bibi rasa dia bukan orang jahat. Lagi pula, kakakmu itu… kamu tidak punya kerabat yang usianya sebayamu.”
Luo Ye menggelengkan kepalanya. “Kurasa aku tidak akan menemuinya. Bibi, ada banyak sekali penipu di luar sana sekarang ini. Mungkin dia mendapatkan informasiku dari suatu tempat dan ingin menipu kita. Mari kita berhati-hati untuk saat ini.”
Melihat sikap Luo Ye yang bersikeras, bibinya tidak mendesaknya lagi. Sesaat kemudian, wanita itu sepertinya teringat sesuatu dan buru-buru menambahkan.
“…Oh ya, Ye, gadis itu juga meminta bibi untuk menyampaikan sebuah pesan untukmu. Bibi hampir lupa, kalimatnya agak panjang…”
“Pesan apa?”
“Dia bilang, ‘Aku akan menunggumu di Pulau Penutup Kabut.'”