“Kau, sebenarnya makhluk apa kamu? Bagaimana mungkin makhluk rendahan sepertimu bisa menggunakan kekuatan seperti ini?”
Setelah mengamuk untuk beberapa saat, makhluk itu akhirnya melontarkan pertanyaan tersebut kepadaku.
Aku tidak punya jawaban yang pasti.
Jika dia bertanya bagaimana sesuatu yang sudah bisa kulakukan sejak lahir ini bekerja, tentu saja aku tidak tahu.
Jadi, aku balik bertanya kepadanya.
“Dan kamu? Makhluk apa kamu?”
Sebenarnya, siapa identitas makhluk yang telah merampas tubuhku ini?
Mengingat kembali apa yang terjadi beberapa saat lalu, mencoba mencari tahu bagaimana hal ini bisa sampai terjadi…
Tampaknya sangat jelas bahwa menyentuh permata es itu, benda yang disebut sebagai Jantung Raja Iblis Beku, adalah pemicu dari semua ini.
Jadi, apakah makhluk ini adalah Raja Iblis Beku?
Tebakan yang cukup masuk akal.
Makhluk itu berbicara dengan nada yang jelas-jelas kesal.
– Jalankan kembali waktu itu seketika. Setelah itu, baru akan kuizinkan pertanyaan-pertanyaanmu.
Seolah-olah aku akan menuruti permintaannya.
“Kubilang, kembalikan tubuhku dulu.”
– Daging dan tulangmu sudah menjadi milikku, sudah kubilang begitu.
“Kalau begitu, aku akan tetap seperti ini terus,” jawabku.
– Makhluk kurang ajar!
Apakah dia ini sejenis monster juga?
Dengan kemampuan khusus untuk mencuri tubuh orang lain?
…Atau ini ulah lain dari pihak Menara?
Aku juga tidak punya ide kenapa deskripsi item itu bisa mengalami glitch separah tadi…
Hanya ada hal-hal misterius yang tak terjawab.
– Baiklah kalau begitu. Kita lihat saja nanti.
Ujar makhluk itu.
– Aku tidak tahu trik macam apa yang telah kaugunakan, tetapi kekuatan yang berada jauh di luar tatanan alam ini tidak akan bisa bertahan selamanya. Saat waktu kembali berjalan nanti, kau akan menyesalinya.
“Lalu, apa yang akan kaulakukan?”
– Akan membekukan seluruh duniamu. Daratan, pegunungan, lautan, manusia dan para buas sekali pun. Segala makhluk hidup akan musnah dalam musim dingin yang abadi.
Wah… mengerikan sekali.
Sudah pasti aku tidak boleh membiarkan waktu berjalan lagi.
– Jika kau tidak ingin menyesal, batalkan ini sekarang juga. Ini adalah belas kasihan terakhir yang akan kuberikan.
Aku membalas kesombongannya.
“Kamu merampas tubuh orang lain lalu datang membawa ancaman seperti itu? Raja Iblis Beku, ya? Kepribadianmu benar-benar mirip raja iblis sungguhan, ya.”
– Apa katamu? Lancang sekali!
“Oke, kalau begitu ayo kita coba buktikan. Maaf saja, tapi aku bisa mempertahankan keadaan ini selamanya, tahu.”
Sang Raja Iblis mendengus.
– Omong kosong. Kau pasti akan menyesali ini.
Waktu berlalu.
Aku tidak berniat mengajaknya ngobrol. Lagipula, dia bukan jenis makhluk yang bisa diajak bicara dengan normal.
Dia juga tidak berbicara lagi kepadaku, jadi tidak ada suara apa pun selain keheningan.
Berapa lama waktu telah berlalu?
Menurut perkiraanku, rasanya sudah lewat beberapa hari.
– …Hei, Manusia.
Suara Raja Iblis itu akhirnya terdengar lagi.
Nadanya terdengar sedikit jenuh.
– Hentikan keras kepala ini. Batas kemampuanmu pasti sudah hampir tiba.
Aku bertanya balik.
“Putus asa mau mengembalikan tubuhku?”
– Jangan bicara yang tidak-tidak.
“Kalau begitu, jangan ngajak ngobrol. Kubilang kita bisa terus begini selamanya.”
– Ha…! Apa kau sedang mengaku sebagai dewa? Hal seperti itu mustahil.
“Ya, hal itu sangat mungkin.”
Raja Iblis terus mengomel panjang lebar, tapi aku tidak repot-repot menjawabnya dan memilih untuk mengabaikannya saja.
Rentang waktu yang sangat panjang kembali berlalu.
– Mari kita bersikap masuk akal. Berapa lama lagi kau berniat mempertahankan ini?
Sang Raja Iblis kembali berbicara kepadaku.
Aku tidak menjawab.
– Apakah kau benar-benar berniat terus seperti ini untuk keabadian?
Rasanya mungkin sudah sebulan berlalu…
Aku sudah bosan setengah mati, tapi dia pasti merasakan kebosanan yang sama.
Aku tidak boleh menunjukkan kelemahan sedikit pun sampai pihak sebelah menyerah lebih dulu.
“Khh…”
– Ada apa?
‘A… aku sudah tidak… tahan lagi…’
Aku pun melepaskan jeda waktu.
Dunia yang telah membeku begitu lama akhirnya mulai bergerak kembali.
Tentu saja, kendali atas tubuhku masih berada di tangan sang Raja Iblis.
“…Bwahahaha!”
Di dalam aliran waktu yang baru saja berjalan, sang Raja Iblis meledakkan tawa.
“Benar kan, sudah kuduga! Kau akhirnya mencapai batas kemampuanmu juga!”
Whoooosh!
Tubuhku melesat menembus langit dengan kecepatan luar biasa.
Sambil menyeringai lebar agar aku pasti mendengarnya, dia berkata,
“Bukankah sudah kukatakan kau akan menyesalinya? Mulai detik ini, aku akan membuatmu merasakan ketidakberdayaanmu sampai ke tulang sumsum—”
Waktu berhenti lagi.
Tertahan tepat di tengah penerbangan.
– …Apa?
Dia tadinya begitu bersemangat sampai-sampai rasanya memalukan melihatnya.
‘Jantungmu sempat copot ya, atau gimana?’
Aku tadi cuma merasa bosan dan ingin mengerjainya sebentar saja.
‘Kubilang kan aku bisa mempertahankan ini selamanya. Kenapa kamu tidak percaya begitu saja pada ucapanku?’
– Kau, makhluk rendahan…!
Raja Iblis itu mengamuk sejadi-jadinya begitu menyadari dirinya telah ditipu.
Membiarkan makian “akan kubunuh kau” miliknya berlalu begitu saja tanpa kuperdulikan, aku kembali masuk ke dalam kondisiku yang kosong dan hampa.
Waktu terus berjalan.
– …Aku menarik kembali sumpahku untuk membekukan duniamu. Jadi, hentikan hal ini sekarang.
Sang Raja Iblis akhirnya mulai mengerti.
Bahwa Kemampuan Menghentikan Waktu milikku ini benar-benar bisa bertahan selamanya.
Namun, dia sepertinya belum sepenuhnya sadar.
‘Ya, jelaslah. Katanya mau mengembalikan tubuhku.’
– Bukankah sudah kukatakan aku tidak bisa?
‘Tidak bisa, atau tidak mau?’
– …Aku tidak bisa. Tubuhmu sudah terlanjur menjadi milikku, dan mustahil untuk mengembalikannya kepadamu.
Jika itu benar, ini benar-benar masalah besar.
Tapi, kenapa omongan ini terdengar seperti omong kosong bagiku? Kenapa harus sekarang?
‘Kalau begitu tidak ada pilihan lain. Mari kita terus begini selamanya.’
– Orang gila…! Aku benar-benar tidak bisa mengembalikannya!
Mengabaikan sang Raja Iblis, aku kembali meredupkan kesadaranku. Bagai beruang yang masuk ke dalam masa hibernasi.
Sebenarnya tidak mungkin bisa tidur saat waktu sedang berhenti…
Namun, memasuki kondisi yang setengah mirip dengan tidur itu masih mungkin dilakukan.
Itu adalah trik yang tidak sengaja kudapatkan dulu, saat Sub-Menara muncul dan aku sedang mengisi daya Perangkat Teleportasi.
Melakukan hal ini membuat rentang waktu yang brutal itu menjadi sedikit lebih mudah untuk dilalui.
– Baiklah kalau begitu. Aku akan mengalah. Mari kita bagi kepemilikan atas daging ini bersama-sama.
Setelah rentang waktu yang sangat panjang berikutnya.
Sang Raja Iblis datang dengan penawaran baru.
‘Ngomong apa sih kamu.’
– Aku akan memberimu kendali atas tubuh ini selama separuh dari setiap hari. Sebuah kelonggaran yang luar biasa besar dariku.
‘Katanya tadi tidak bisa dikembalikan?’
– Kau percaya begitu saja? Itu tadi cuma bohong.
Sang Raja Iblis dengan tidak tahu malunya mengakui kebohongannya. Padahal aku juga tidak mempercayainya sejak awal.
Dan dia masih saja terus melontarkan omong kosong yang sama sekali tidak ada gunanya.
‘Raja Iblis, kamu mau mati ya?’
– …Apa katamu?
‘Ini tubuhku sejak awal, dan kamu mau menyebut itu sebagai kelonggaran? Kamu tidak berhak membuat aturan apa pun. Kembalikan saja titik.’
Tidak ada gunanya bernegosiasi dengan teroris.
Sang Raja Iblis menghujaniku dengan sumpah serapah, mengamuk dengan suara keras dalam waktu yang lama, lalu kembali terdiam.
– Aku akan menganugerahkan kekuasaan atas dunia ini kepadamu. Massa akan menyembahmu, dan kau akan menikmati segala kekayaan serta kemuliaan. Makhluk malang mana pun yang ingin kaubunuh, akan kubunuh untukmu.
– Bukankah sudah kukatakan aku akan menyerahkan tubuh ini kepadamu selama separuh hari? Sebagai gantinya, aku akan menjadikan dunia ini milikmu.
‘Huaaaam.’
– Dengarkan aku! Kau makhluk rendahan!
– Akan kubunuh kau. Keluargamu, kekasihmu, teman-temanmu, semuanya, akan kubuat kau bantai dengan tanganmu sendiri.
‘Waktunya tidak berjalan. Gimana caranya kamu mau membunuh orang?’
– …Akan kubunuh mereka! Aku pasti akan membunuh mereka!
‘Raja Iblis.’
‘Aku bosan. Mau main sambung kata?’
– …Diam.
‘Myeon [Mi instan].’ [Catatan: 닥쳐라 (dakchyeora, “diam”) berakhiran suku kata 라 (ra); 라면 (ramyeon, mi instan) berawalan suku kata 라. Tokoh utama pura-pura menganggap kutukan Raja Iblis sebagai giliran pertama dalam permainan sambung kata.]
Berapa banyak waktu yang telah berlalu sekarang…
Setidaknya sudah setahun, bukan?
Aku sudah mendekati tingkat pencerahan spiritual pada titik ini.
Jujur saja, bahkan aku pun merasa heran. Aku tidak menyadari kalau ketahanan mental diriku bisa sekuat ini.
Mungkin kesadaran bahwa Raja Iblis yang gila itu akan menghancurkan dunia begitu aku melepaskan waktu adalah hal yang terus mendorongku untuk bertahan.
– Makhluk keras kepala…
Suara Raja Iblis terdengar benar-benar kelelahan.
– Apakah kau benar-benar berpikir bisa bertahan untuk keabadian? Pikiranmu pasti akan runtuh lebih dulu.
Mungkin juga begitu.
Tetapi untuk saat ini, aku masih bisa bertahan.
Aku bertekad untuk menanggung ini sampai akhir, melihat siapa di antara kami yang akan menyerah lebih dulu.
‘Atap.’
Sang Raja Iblis menghela napas panjang.
– …Akan kukembalikan. Lepaskan waktunya.
Mendengar itu, aku langsung bersiaga penuh.
Apakah ini akhirnya bentuk penyerahannya?
‘Beneran? Mau main trik apa lagi kamu?’
– Lepaskan, lepaskan! Kubilang akan kukembalikan!
Sekalipun dia mencoba melakukan sesuatu, aku bisa langsung menghentikan waktu lagi seketika, jadi…
Aku membiarkan waktu mengalir kembali.
Whooosh!
Angin menerpa wajahku.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, merasakan kembali sensasi dingin, aku menjejakkan kaki ke tanah.
“…Wah.”
Aku berdecak kagum dalam hati, membuka dan menutup telapak tanganku.
Tubuhku bergerak sesuai kehendakku.
Raja Iblis benar-benar telah mengembalikannya.
Lalu, apa yang terjadi pada sang Raja Iblis? Apakah dia sudah pergi dari tubuhku?
– Tidak mungkin, kau makhluk rendahan.
Rupanya tidak.
Suaranya bergema di dalam kepalaku.
– Aku memang mengembalikannya untuk saat ini, tetapi jangan lupakan bahwa aku bisa mengambilnya kembali kapan pun aku mau.
Ah… begitu rupanya.
Aku berdecak kesal.
Aku memang berhasil mendapatkan kembali tubuhku untuk saat ini, namun masalah mendasarnya sama sekali belum terselesaikan.
‘Kenapa tidak pergi saja? Aku tinggal menghentikan waktu lagi kalau kamu mengambil alih tubuhku.’
Sang Raja Iblis mendengus.
– Aku sama sekali tidak berniat pergi, dan bahkan jika aku ingin pun, aku tidak bisa.
‘Sudahlah, jangan bohong terus.’
Raja Iblis tidak merespons ucapan itu.
…Sialan. Apa ini beneran?
Aku sedang mendongak menatap langit dengan pikiran yang gelisah ketika hal itu terjadi.
[Kesalahan terdeteksi.]
“…?”
Sebuah pesan dari Menara melayang di hadapan mataku.
[Memperbaiki kesalahan.]
– …!
Tubuhku bergetar hebat.
Sebuah perasaan ngeri dan jijik yang belum pernah kurasakan sebelumnya seumur hidupku.
Aku bahkan tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Aku tidak bisa bergerak.
Rasanya seolah-olah ada sosok makhluk agung yang maha besar… sedang menatap tajam ke arahku sambil mengulurkan tangan.
Menara itu. Aku bisa merasakannya secara insting.
Menara itu hendak melakukan sesuatu.
– …Waktu! Hentikan waktu!
Raja Iblis, dengan wajah pucat pasi, berteriak panik.
Aku langsung menghentikan waktu seketika.
Saat waktu membeku, tekanan luar biasa yang menghimpitku tadi langsung menguap begitu saja seolah-olah tidak pernah ada.
…Apa-apaan barusan itu?
Aku sedang berusaha mengumpulkan kesadaranku yang hampir buyar ketika,
‘…!’
Kali ini aku merasakan sang Raja Iblis sedang melakukan sesuatu.
Rasanya seperti jiwanya sedang meronta-ronta untuk menanamkan diri lebih dalam ke suatu tempat di dalam diriku…
‘…Apa yang kamu lakukan?’
Tanyaku.
Sang Raja Iblis tidak menjawab.
Pesan dari Menara tentang memperbaiki kesalahan tadi.
Mustahil jika hal itu tidak ada hubungannya dengan sang Raja Iblis.
…Lalu sekarang bagaimana?
Tadi aku sempat panik dan menghentikan waktu secara spontan.
Sepertinya Menara sedang berusaha melenyapkan sang Raja Iblis.
Jadi, apakah aku harus membiarkan waktu berjalan lagi? Apakah itu keputusan yang tepat?
Tetapi, di sisi lain, aku benar-benar tidak ingin begitu saja menuruti kemauan Menara…
Di tengah keraguanku, aku merasakan sang Raja Iblis menyembunyikan dirinya sepenuhnya.
Aku mencoba melepaskan waktu.
Tekanan yang menghimpit itu kembali menimpaku.
Aku bisa merasakan tatapan Menara tertuju lurus padaku.
Rasanya persis seperti sedang dihakimi lewat tatapan tajam. Apa pun itu, sensasinya sangat tidak menyenangkan sampai membuat kulitku merinding.
Kemudian, seluruh tekanan itu lenyap begitu saja.
Aku bahkan tidak menyadari kalau aku sedari tadi menahan napas, dan kini aku menghembuskannya dengan desahan tajam, “Hahh.”
Wah… sialan.
Sebenarnya apa ini?
Kepalaku pening. Aku sama sekali tidak bisa memahami apa yang sedang terjadi.
– Sialan keparat.
Lalu suara itu terdengar di dalam kepalaku.
Sang Raja Iblis, yang pada akhirnya berhasil lolos dari penghapusan, ternyata masih utuh.
‘Apa yang kamu perbuat?’
Aku bertanya pada sang Raja Iblis.
Sensasi yang kurasakan saat ini terasa aneh.
Bagaimana menjelaskannya… rasanya seperti jiwa sang Raja Iblis telah menyusup dan berakar di dalam jiwaku sendiri…
Satu hal yang bisa kurasakan secara naluriah.
Bahwa sang Raja Iblis telah menempel erat pada jiwaku.
Sama seperti kasus Diul sebelumnya, jiwa sang Raja Iblis dan jiwaku kini telah terhubung sebagian.
Aku tidak bisa memastikannya secara pasti… tapi apakah dia melakukan ini demi lolos dari jangkauan Menara?
Aku juga bisa merasakan bahwa kendali penuh atas tubuhku telah kembali sepenuhnya.
Dalam kondisi seperti ini, kecuali aku menyerahkan kendalinya secara sukarela, tampaknya sang Raja Iblis tidak bisa begitu saja mengambil alih tubuh ini kapan pun dia mau.
‘Hei? Kenapa kamu diam saja?’
Bahkan saat aku memanggilnya, sang Raja Iblis sama sekali tidak menjawab.
Namun aku bisa merasakan kalau suasana hatinya sedang sangat buruk.
Kutebak dia sedang ngambek karena terpaksa harus mengembalikan kendali tubuh kepadaku.
Yah, sudahlah… apakah ini bisa dianggap sudah beres?
Dengan cara ini, tidak ada lagi risiko tubuhku dicuri orang, meskipun cukup menyebalkan karena sekarang dia numpang tinggal di dalam diriku.
“Huh.”
Kemudian sesuatu terlintas di benakku, dan aku berjalan kembali ke arah bekas lubang tadi.
Item yang sebelumnya merupakan Jantung Raja Iblis atau entah apa itu sudah tidak ada di sana.
‘Apakah Menara yang sudah melenyapkannya?’
…Entahlah. Kepalaku sudah terlalu lelah.
Untuk saat ini, sebaiknya aku segera kembali saja.
Chapter 85 · 8m baca
Bug (3)
by 봡바봡
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter