Beyond the Timescape - Chapter 71 — NovelArc
Request novel bisa langsung di tab request ya, bebas request semua novel dari novelupdates

Chapter 71 · 11m baca

Jabbering Patriarch

by Er Gen

Bulan yang terang menerangi kubah langit, menyingkapkan beberapa gumpalan awan yang lewat dengan santai.

Namun, di luar gua pertapaan di Puncak Keenam, Patriark Golden Vajra Warrior tampak muram di bawah cahaya rembulan. Dan kemuraman itu semakin memperjelas kekhawatiran yang tergambar di wajahnya. Sebenarnya, dia tidak terlalu peduli pada kekayaan yang telah hilang. Alasan sebenarnya hingga dia memuntahkan darah adalah kemarahan karena melihat markas sektenya hancur lebur.

Batu-batu spiritual yang dipajang untuk diambil sebagian besar memang ditaruh di sana hanya sebagai hiasan.

Dan yang dikhawatirkannya sekarang adalah musuhnya berada di Tujuh Darah, tumbuh semakin kuat dan kuat. Saat kecemasan di dalam dirinya semakin memuncak, dia menatap gua pertapaan itu, dan memperhatikan betapa sunyinya tempat itu. Tampaknya tidak ada tanggapan atas salamnya.

Waktu berlalu cukup lama, kira-kira setara dengan waktu setengah batang dupa terbakar. Kemudian, dia mendengar sebuah desahan dari dalam.

"Lama tak jumpa, Master Freespirit."

Nama dao asli Patriark Golden Vajra Warrior adalah Master Freespirit. Namun, sudah bertahun-tahun orang-orang di daerah itu mulai memanggilnya sebagai seorang patriark. Oleh karena itu, hanya sedikit orang yang memanggilnya dengan nama dao-nya. Ketika Patriark Golden Vajra Warrior mendengar nama itu, secercah kilas balik muncul di matanya, dan dia mendesah pelan.

"Lama tak jumpa," ucapnya.

Pintu batu gua yang tertutup terbuka dengan suara bergemuruh, menyingkapkan kegelapan pekat di dalamnya, dan dari sana melangkah sesosok orang berpenampilan tidak biasa. Dia adalah seorang lelaki tua yang berjalan dengan gaya kaku. Dia mengenakan jubah dao berwarna biru tua, memiliki rambut abu-abu panjang, dan ekspresi wajahnya sangat suram.

Saat dia berjalan menghampiri Patriark Golden Vajra Warrior dan berdiri di hadapannya, angin menerpa ujung jubahnya hingga tersingkap ke samping... memperlihatkan bahwa dia tidak memiliki kaki yang terbuat dari daging dan darah. Sebagai gantinya, kakinya adalah konstruksi mekanis. Kaki itu berkilau dengan cahaya biru, dan tampak sangat dingin di bawah sinar bulan.

Lelaki tua berrobe biru itu mendongak menatap awan di langit, dan berkata dengan lembut, "Ini memang sudah lama sekali. Oleh karena itu... aku harus bertanya-tanya apa yang membawamu ke mari hari ini."

Meskipun mereka berdiri di atas kedudukan yang setara, kelihatannya Patriark Golden Vajra Warrior justru berada di posisi yang lebih rendah darinya. Setelah beberapa saat diselimuti keheningan yang suram, Patriark Golden Vajra Warrior menjelaskan situasinya dengan Xu Qing.

"Sebuah bencana besar menimpa sekutuku baru-baru ini... Sebelum pergi, pencuri kecil itu merampas semua sumber dayaku. Dia meracuni semua orang, membuat beberapa kebakaran, dan praktis membakar habis markas hingga rata dengan tanah.

"Jika dia sekadar anak nakal biasa, aku tidak akan terlalu peduli. Tapi setelah menghabiskan banyak uang untuk menyelidiki latar belakangnya, aku mengetahui bahwa dia bergabung dengan Tujuh Darah. Bukan hanya itu, dia juga hidup dengan baik di sini. Sekarang aku terus-menerus duduk gelisah. Aku tidak bisa berhenti memikirkan catatan-catatan yang kubaca di arsip kuno beberapa tahun lalu.

"Aku sebenarnya telah mempelajari banyak kisah kuno, dan ternyata, orang-orang sepertinya biasanya memiliki takdir yang sangat kuat dan tak terkalahkan. Aku benar-benar bodoh karena mengejarnya hanya dengan dua tetua agung sebagai pendukung. Seharusnya aku membawa seluruh sekte bersamaku. Seharusnya aku mengerahkan seluruh kekuatan untuk menghancurkannya! Atau pilihan lainnya, aku seharusnya mengubah senjata perang menjadi hadiah batu giok dan sutra lalu meminta maaf saja...

"Ai. Sayangnya, aku melewatkan kesempatan itu. Pokoknya, berdasarkan analisisku, aku sangat yakin bahwa setelah dia dewasa, dia akan mustahil dihentikan... Dan kemudian aku pasti akan dibunuh tanpaa ada keraguan lagi!

"Hatiku tahu persis bahwa begitu dia bangkit meraih kejayaan, dia akan menurunkan hujan api dan darah ke sekte Tujuh Darah kalian, dan menghancurkannya sepenuhnya! Catatan-catatan kuno semuanya mengatakan hal itu akan terjadi seperti itu. Dan setelah itu, yang dibutuhkannya hanyalah sepatah kata darinya, dan Sekte Golden Vajra Warrior milikku akan menjadi abu."

Setelah menyelesaikan penjelasannya, Patriark Golden Vajra Warrior menundukkan kepalanya dengan pahit.

Lelaki tua berrobe biru itu berdiri di sana dengan ekspresi aneh di wajahnya saat mendengarkan Patriark Golden Vajra Warrior. Kemudian dia menggelengkan kepalanya.

"Master Freespirit, setelah sekian tahun, kau... benar-benar menjadi sering meracau. Kau pikir bajingan rendahan seperti itu memiliki takdir yang sangat kuat dan tak terkalahkan? Bahwa dia akan menghujani Tujuh Darah dengan api dan darah, lalu memusnahkan sekte ini dari muka bumi? Dengan sepatah kata, dia akan menghancurkan Sekte Golden Vajra Warrior-mu? Bagiku, kau sepertinya sedang berimajinasi..."

Sang patriark menghela napas. "Kau tidak mengerti. Aku mempercayai instingku..."

Melihat sang patriark seperti ini, lelaki tua berpakaian biru itu menggelengkan kepalanya lagi. Kenyataannya adalah mereka berdua tidak memiliki persahabatan yang mendalam. Selain beberapa interaksi bertahun-tahun lalu, mereka tidak begitu dekat.

"Anak itu ditempatkan di puncak mana?"

"Puncak Ketujuh," jawab sang patriark dengan suara pelan. "Menurut penyelidikan latar belakang yang kubayar, namanya adalah Xu Qing, dan dia berada di Divisi Kejahatan Berat."

"Tidak peduli di divisi mana dia berada, dia tetaplah seorang murid Luar Puncak. Kendati demikian, meskipun kita memperlakukan mereka seperti serangga berbencana di dalam toples, dan bahkan membiarkan mereka saling bertarung dan membunuh, faktanya tetap ada aturan sekte tertentu yang tidak boleh dilanggar..."

Melihat sang patriark tampak semakin putus asa dari sebelumnya, lelaki tua berpakaian biru itu mendesah lagi.

"Ah, terserahlah. Dengar, aku bisa menyuruh orang memberinya pelajaran, lalu memaksanya mengembalikan barang-barang yang dicurinya kepadamu. Jika dia tidak memilikinya, maka aku akan mengambil semua miliknya."

Setelah berkata demikian, dia mengeluarkan medali identitasnya dan mengirimkan sebuah pesan. Kemudian dia menunjuk ke arah Patriark Golden Vajra Warrior. "Baiklah, sudah beres. Adapun kau, luangkan waktu untuk melatih kultivasimu! Bahkan setelah bertahun-tahun ini, kau masih berada di tahap awal Pendirian Yayasan? Kau sama sekali tidak membuat kemajuan! Berhenti menghabiskan seluruh waktumu untuk membaca catatan-catatan kuno sembarangan itu. Berhenti duduk meracau sepanjang waktu! Jika kau terus begini, kau akan mengalami iblis batin!"

Sang patriark tampak ingin mengatakan lebih banyak lagi, tetapi dia menahan lidahnya. Segala sesuatunya tidak berjalan persis seperti yang diharapkannya, tetapi dia bisa melihat bahwa berdebat sekeras apa pun tidak akan ada gunanya. Sambil menghela napas dalam hati, dia menangkupkan tangan dan membungkuk.

Malam berlalu tanpa insiden bagi Xu Qing. Saat fajar menyingsing, dia membuka matanya dari meditasi dan menatap karung yang tergeletak di sampingnya. Semalam, Huang Yan telah memberikannya sebagai hadiah, dan di dalamnya terdapat tiga bagian tubuh makhluk mutan. Ada dua tengkorak berbentuk berlian, dan satu bulu.

Semuanya berkilau dengan cahaya merah, mengindikasikan bahwa mereka berasal dari makhluk yang sama. Aura mereka luar biasa, tetapi sayangnya, bagian-bagian itu tidak akan meningkatkan ketahanan perahunya. Sebagai gantinya, benda-benda itu berkaitan dengan teknik magis dan kecepatan.

Aku ingin tahu berapa banyak batu spiritual yang bisa kudapatkan jika aku menjualnya. Selain itu, aku telah mengumpulkan sekitar 1.000 pil putih...

Setelah merapikan barang-barangnya, Xu Qing meninggalkan perahu dharma dan menuju ke gerobak pedagang tempat dia biasanya membeli sarapan. Pedagang itu adalah seorang pria paruh baya bertubuh kekar tanpa basis kultivasi. Seperti kebanyakan warga biasa di ibu kota, dia adalah orang yang jujur dan apa adanya, dan ketika dia melihat Xu Qing mendekat, dia menyeringai. Dia menyukai pemuda tampan dari Divisi Kejahatan Berat ini, dan merasa bahwa pemuda itu tidak memiliki aura kejam yang dimiliki oleh kebanyakan murid Tujuh Darah.

Xu Qing bahkan tidak perlu memesan. Begitu dia berjalan mendekat, pedagang itu menyajikannya beberapa roti isi kukus, telur kukus, dan sepiring acar sayuran.

Xu Qing berterima kasih kepadanya dan duduk di sisi agak jauh, mengambil beberapa sumpah, lalu mulai makan. Dia sudah mulai terbiasa makan menggunakan sumpit akhir-akhir ini. Setelah menghabiskan makanannya, dia meletakkan beberapa koin spiritual di atas meja, lalu berangkat menuju Divisi Kejahatan Berat.

Absen pagi adalah hal yang sederhana. Dia hanya perlu memindai kartu identitasnya pada prasasti batu kapur di Biro Celestial, lalu menunggu formalitas selesai. Xu Qing sudah terbiasa dengan proses itu. Setelah absen pagi, dia memeriksa daftar tugas, lalu kembali keluar ke jalan. Saat dia pergi, murid-murid lain di Divisi Kejahatan Berat memberikan salam sopan. Setelah apa yang terjadi dengan operasi Merpati Malam, dia memiliki reputasi yang baik di divisi tersebut.

Di jalanan, Xu Qing membeli beberapa buah pir untuk dimakan sambil berjalan menuju toko obat. Rencananya adalah menjual pil putihnya, dan juga melihat berapa banyak yang bisa dia dapatkan untuk bahan-bahan yang diberikan Huang Yan malam sebelumnya. Setelah itu, dia berharap punya cukup uang untuk membeli tengkorak paus tersebut.

Tidak lama kemudian, dia melihat toko yang biasanya dia kunjungi untuk membeli dan menjual pil serta tanaman obat. Tempat itu ramai seperti biasanya.

Xu Qing adalah pelanggan tetap di tempat ini, jadi begitu dia masuk, penjaga toko yang sibuk langsung menyadarinya dan tersenyum.

"Sudah lama tidak melihatmu. Apakah kau datang untuk membeli tanaman atau menjual pil?"

"Menjual pil."

Sambil tersenyum lebih hangat, penjaga toko itu melirik pil-pil yang diserahkan Xu Qing, lalu mulai menghitung 20 batu spiritual.

"Kau bahkan tidak memeriksanya dulu?" tanya Xu Qing.

Penjaga toko itu melambaikan tangannya mengabaikan. "Tidak perlu memeriksa pil-pilmu."

Xu Qing mengangguk. Dia benar-benar yakin bahwa semua pil yang diraciknya memiliki kualitas tertinggi. Setelah menerima batu-batu spiritual itu, dia menangkupkan tangan dan pergi.

Setelah dia pergi, penjaga toko itu mengeluarkan slip giok dan mengirim pesan kepada bosnya. Kemudian dia berteriak memanggil salah satu pelayan toko untuk datang, memasukkan pil-pil obat itu ke dalam kotak, dan membawanya ke Puncak Kedua. Pelayan itu tahu betapa pentingnya pil-pil itu bagi sang bos, jadi dia segera mengemasnya lalu berlari keluar toko dengan kecepatan penuh.

Tidak lama kemudian, kotak itu telah diserahkan kepada seorang wanita muda di gua pertapaannya di Puncak Kedua. Dia tampak berusia sekitar enam belas atau tujuh belas tahun, dan mengenakan jubah dao berwarna jingga pucat. Duduk dengan membawa kotak itu, dia memeriksa pil-pil tersebut.

Di bawah sinar matahari, kulitnya putih bersih seperti salju. Matanya berkilauan, dan rambut hitam panjangnya digelung seperti gaya sanggul putri. Sanggul itu diikat dengan jepit rambut mutiara, tetapi beberapa helai rambut menjuntai dan melayang di sekitar wajahnya.

Wanita muda ini adalah pemilik toko obat, dan orang yang sama yang dilewati Xu Qing beberapa hari lalu saat meninggalkan toko. Saat dia memeriksa pil-pil tersebut, wanita muda itu mengeluarkan seruan kecil karena terkejut, dan matanya melebar.

Aku tidak percaya pil-pil ini memiliki tingkat kemurnian yang begitu tinggi.

Meskipun dia bisa mencapai kualitas yang sama, dia tidak bisa melakukannya setiap saat. Tiba-tiba, dia merasakan jiwa kompetitifnya bergolak.

Jika seorang murid Puncak Ketujuh bisa melakukan ini, maka aku juga bisa. Lagipula, aku adalah seorang kultivator yang berspesialisasi dalam dao alkimia!

Dia melambaikan tangannya, menyebabkan beberapa tanaman obat terbang menghampirinya. Dengan ekspresi sangat serius, dia memulai sesi peracikan pil.

Saat wanita muda itu sedang mencoba menyamai pencapaian Xu Qing, pemuda itu sedang berjalan di jalan menuju toko-toko tempat murid Puncak Keenam menawarkan jasa penempaan peralatan. Saat dia mendekati satu toko tertentu, matanya berkedip karena curiga. Mungkin itu hanya salah sangka, tetapi dia merasa para pedagang dari Puncak Keenam, entah disengaja atau tidak, melirik ke arahnya dari sudut mata mereka. Sebelumnya, situasinya tidak seperti ini.

Apakah mereka mengawasiku?

Matanya menyipit, dia meningkatkan kewaspadaannya bahkan lebih tinggi lagi, dan pada saat yang sama, membatalkan niatnya untuk mengunjungi toko-toko Puncak Keenam. Alih-alih membeli bahan apa pun, dia kembali ke Pelabuhan 79, di mana dia masuk ke dalam sesi kultivasi.

Hari-hari berlalu dan tidak terjadi apa-apa. Namun, Xu Qing masih merasa curiga, dan bersikap waspada ke mana pun dia pergi. Dia juga melewati area pedagang Puncak Keenam beberapa kali untuk melihat apa yang akan terjadi.

Dia tidak pernah lagi merasakan bahwa dirinya sedang diawasi. Namun, dia tidak menurunkan kewaspadaannya. Beberapa hari kemudian, setelah berulang kali memastikan bahwa situasinya aman, dia memilih sebuah toko yang tidak pernah berpartisipasi dalam perilaku aneh tersebut, dan berjalan menuju ke sana. Dia benar-benar ingin meningkatkan perahu dharmanya, dan hampir semua tempat untuk membeli suku cadang yang diperlukan dikelola oleh Puncak Keenam. Mereka pada dasarnya memonopoli bisnis tersebut di Distrik Pelabuhan.

Bahkan jika ada hal aneh yang sedang terjadi, Xu Qing siap mencobanya.

Dengan menjaga kewaspadaannya sepenuhnya, dia bergegas menyusuri jalan menuju toko tersebut. Namun, saat itulah dia mendengar suara yang akrab.

"Xu Qing."

Dia menoleh ke belakang dan mendapati bahwa Huang Yan berada tidak jauh di belakangnya. Huang Yan melambaikan tangan dengan antusias saat dia bergegas menyusul, lemak di tubuhnya bergetar naik turun saat dia berlari.

"Xu Qing, tebak apa? Kakak Senior membalas pesanku lagi hari ini! Hahahaha! Ayolah, aku sedang dalam suasana hati yang begitu hebat sampai-sampai aku harus mentraktirmu beberapa butir telur!"

Dengan berkata demikian, dia mengulurkan tangan untuk merangkul Xu Qing.

Xu Qing berniat melangkah mundur untuk menghindarinya, tetapi kemudian dia teringat akan telur-telur lezat itu, serta bahan-bahan yang telah diberikan Huang Yan kepadanya, dan dia pun ragu-ragu. "Aku harus menjual beberapa barang."

"Menjual barang? Apakah kau kehabisan uang? Aku bisa memberimu beberapa!"

Xu Qing menggelengkan kepalanya.

"Yah, baiklah," kata Huang Yan, tampak sama bahagianya seperti sebelumnya. "Tapi setidaknya biarkan aku ikut. Setelah itu, kita berdua akan menghabiskan uang untuk makan telur sepuasnya! Sepakat? Oke, sepakat!" Huang Yan jelas bertekad bulat untuk membagikan suasana hati baiknya. Sambil melihat sekeliling, dia menunjuk ke salah satu toko terdekat. "Itu toko yang bagus. Aku sudah beberapa kali ke sana."

Itu adalah toko yang sama yang ingin dituju oleh Xu Qing, dan bagian dalamnya tampak ramai. Faktanya, Xu Qing mengenali salah satu pelanggannya. Tidak lain adalah Zhang San, yang sedang berada di sana membeli beberapa barang. Ketika Xu Qing masuk bersama Huang Yan, Zhang San menyadari kedatangan mereka, tersenyum, dan memanggil untuk menyapa. [1]

"Ayo, mari kita masuk," kata Huang Yan. "Cepat selesaikan urusan menjual barangmu. Ingat, telur adalah hal yang paling penting saat ini."

Xu Qing menemukan sang penjaga toko dan berjalan menghampiri tanpa ragu-ragu.

Itu adalah toko besar berlantai dua. Ada segala macam bahan makhluk mutan yang dijual di sana, dan semuanya berharga sangat mahal. Saat Xu Qing mendekati konter, penjaga toko itu mendongak. Dia adalah seorang paruh baya, dengan kumis berbentuk karakter 八 (ba), dan tatapan cerdik. Begitu melihat Xu Qing mendekat, dia tersenyum.

"Halo, Rekan Sesama Murid. Apa yang ingin kalian beli?"

"Aku ingin menjual beberapa bahan," ucap Xu Qing dengan tenang, lalu mengeluarkan bahan-bahan dari dalam karungnya. Dia tidak hanya mengeluarkan barang-barang yang dihadiahkan Huang Yan kepadanya, dia juga mengeluarkan beberapa barang yang diambilnya dari para penjahat yang baru saja dibunuhnya.

Penjaga toko itu menatap Xu Qing, lalu menatap barang-barang tersebut. Sambil bergumam pada dirinya sendiri, dia melihat ke arah sesuatu di balik konter, lalu mengamati Xu Qing. Dengan wajah menggelap dan mata menajam, dia berkata, "Ada yang tidak beres dengan barang-barang ini, anak muda! Beberapa hari lalu, Sekte Golden Vajra Warrior menghubungi Puncak Keenam kita dan melaporkan pencurian besar yang dilakukan terhadap sekte mereka. Mereka kehilangan banyak sumber daya, dan barang-barang di sini... tercantum dalam laporan insiden sebagai milik Sekte Golden Vajra Warrior! Anak muda, apakah kau benar-benar mencoba menjual barang curian kepadaku? Apa artinya ini! Jangan bilang kalau kau ada hubungannya dengan kasus pencurian di Sekte Golden Vajra Warrior? Mungkinkah seorang murid dari Puncak Ketujuh yang agung benar-benar merampok Sekte Golden Vajra Warrior?"

Sudah jelas bahwa penjaga toko itu sengaja berbicara dengan suara semakin keras, hingga setiap murid di seluruh toko bisa mendengar apa yang dikatakannya. Pada saat dia selesai berbicara, toko itu menjadi benar-benar sunyi, dan semua orang menatap ke arah Xu Qing serta sang penjaga toko.

Xu Qing tidak terlalu peduli, meskipun dia menghela napas dalam hati. Terlepas dari segala kehati-hatiannya, dia tetap tidak dapat menghindari situasi ini. Jelas sekali, seluruh masalah ini terhubung dengan Patriark Golden Vajra Warrior, dan hal itu membuat niat membunuh di dalam hatinya tumbuh semakin kuat. Dan sekarang dia tahu bahwa seseorang yang penting dari Puncak Keenam benar-benar bekerja sama dengan sang patriark.

Dia melirik ke arah tenggorokan penjaga toko, serta semua bahan di rak-rak, lalu menatap ke arah laut lepas. Matanya mulai berubah dingin saat dia mencoba memutuskan apakah harus pergi begitu saja, atau masuk ke dalam pertengkaran.

Saat dia menimbang-nimbang, mata Huang Yan melebar dan dia memukulkan tangannya ke atas konter dengan suara gedebuk yang keras.

"Barang curian? Apakah ini barang curian?" Huang Yan memegang salah satu tengkorak makhluk mutan yang telah diberikannya kepada Xu Qing sebagai hadiah. Pada saat yang sama, matanya membara dengan kemarahan yang belum pernah terjadi sebelumnya, seolah-olah dia baru saja dihina dengan cara yang paling keterlaluan. "Benda keparat ini milikku, paham, bajingan? Beraninya kau bilang salah satu barangku adalah barang curian!"

Meluap dengan rasa amarah, Huang Yan melemparkan tulang itu tepat ke wajah sang penjaga toko.

1. Zhang San diperkenalkan di bab 55-56 ☜

Gunakan ← → untuk pindah chapter